adplus-dvertising

Pilkada dalam Paradigma Proses vs Hasil

Zakaria Bakrie, telisik indonesia
Sabtu, 12 September 2020
1004 dilihat
Pilkada dalam Paradigma Proses vs Hasil
Ir. Zakaria Bakrie, Kepala Kesbangpol Kolaka Utara. Foto: Ist.

" Konstituen terbelah dan terbagi dalam berbagai kelompok "mazhab politik". Bagi pemilih rasional-obyektif, mereka tidak terlalu terpengaruh oleh hiruk pikuk bursa bacalon pasangan kada, yang dengan berbagai cara dan taktik masing-masing kubu, rela dan tega untuk saling hujat, saling klaim, dan saling menyudutkan. "

Oleh: Ir. Zakaria Bakrie

Kepala Kesbangpol Kolaka Utara

MENYONGSONG momentum Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 yang diselenggarakan di 270 daerah, dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota, menjadikan daerah-daerah tersebut disibukkan dengan berbagai persiapan untuk memasuki tahapan yang sudah dijadwalkan oleh KPUD di masing-masing daerah.


Di sisi para bacalon (bakal calon) pasangan kada (pasangan kepala daerah), kondisinya tentu lebih menegangkan memicu meningginya tensi politik daerah. Tidak maju jika tak ada keyakinan menang, tidak mendukung jika tak ada harapan kandidatnya akan melakukan perbaikan dan kemajuan daerah adalah prinsip dan keyakinan yang memintal hubungan emosional antara kandidat dan bacalon pasangan kada.

Mereka mengorbankan waktu dan materi, memeras pikiran dan keringat untuk sukses tim mereka meraih kemenangan.

Konstituen terbelah dan terbagi dalam berbagai kelompok "mazhab politik". Bagi pemilih rasional-obyektif, mereka tidak terlalu terpengaruh oleh hiruk pikuk bursa bacalon pasangan kada, yang dengan berbagai cara dan taktik  masing-masing kubu, rela dan tega untuk saling hujat, saling klaim, dan saling menyudutkan.

Baca juga: Gedung Kejagung Terbakar, Kasus Besar Apa Kabar?

Warna warni yang terpapar fulgar di depan mata dan telinga masyarakat, begitu juga lontaran-lontaran keyakinan absurd yang memastikan sesuatu yang masih rahasia ketentuan Almulk.

Di antara segelintir masyarakat, mereka sangat berharap agar pilkada serentak 2020 dapat berproses dengan nuansa santun, beradab, jujur, dan elegan agar nilai luhur ke-Indonesia-an kita tetap terpatri dan terawat di sanubari ibu pertiwi NKRI. Bukankah kualitas proses berkorelasi kuat dengan kualitas hasil?

Endapkan kesadaran, latih nurani agar menjadi pedoman handal pada tanggung jawab pilihan kita masing-masing. Jadikan pilihan kita menjadi pilihan jiwa yang bebas oleh pengaruh kepentingan sesaat yang cenderung transaksional yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan kadi Rabbun Jalil, sebab menentukan pilihan pada keterpilihan pemimpin tidak hanya berdimensi duniawi dengan prinsip "menang-kalah", tetapi juga berdimensi akhirat dengan panduan "benar-salah".

Semoga masyarakat di daerah-daerah yang menyelenggarakan pemilihan umum kepala daerah memahami makna bahwa kubu manapun atau pasangan siapapun yang kelak mengungguli arena kontestasi daerah 2020, maka itu adalah keniscayaan dari ketentuan takdir yang harus diterima dengan doa terbaik, semoga menjadi berkah bagi daerah dan nusantara tercinta untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga