Rupiah Jebol Rp 18.000 per Dolar AS, Berikut 7 Pemicunya
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 05 Juni 2026
0 dilihat
Rupiah melemah hingga Rp 18.000 per dolar AS akibat tekanan global dan faktor domestik. Foto: Repro Antara
" Tekanan terhadap rupiah kian terasa setelah nilai tukar mata uang Indonesia menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat "

JAKARTA, TELISIK.ID - Tekanan terhadap rupiah kian terasa setelah nilai tukar mata uang Indonesia menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang membebani pasar keuangan.
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Berdasarkan data pasar spot, rupiah tercatat berada di level Rp 18.015 per dolar AS atau melemah 0,42 persen.
Pergerakan tersebut menandai pelemahan yang cukup signifikan dalam waktu relatif singkat. Pada 6 April 2026, rupiah untuk pertama kalinya ditutup di atas level Rp 17.000 per dolar AS. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, mata uang Garuda telah kehilangan sekitar Rp 1.000 terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta sejumlah faktor domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut membuat investor terus mencermati perkembangan ekonomi dan kebijakan yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan nasional.
Penguatan Dolar AS akibat Ketegangan Geopolitik
Melansir dari CNBC Indonesia, Jumat (5/6/2026), faktor pertama yang memberi tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS. Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk mendorong investor global memburu aset safe haven, termasuk dolar AS.
Konflik yang melibatkan Iran, Kuwait, serta respons militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Situasi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Rebalancing MSCI dan Arus Keluar Dana Asing
Pasar juga dipengaruhi oleh penyesuaian indeks yang dilakukan MSCI pada Mei 2026. Sebanyak enam saham Indonesia keluar dari MSCI Global Standard Index dan 13 saham lainnya dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index.
Perubahan komposisi tersebut memicu penyesuaian portofolio oleh sejumlah investor global. Arus keluar dana asing yang terjadi kemudian meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga: Rupiah Kembali Jatuh ke Angka Rp 17.900, Berikut Alasannya
Isu Peringkat Kredit Indonesia
Perkembangan terkait peringkat kredit Indonesia turut menjadi perhatian pasar. Meskipun S&P Global Ratings masih mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, muncul spekulasi mengenai kemungkinan penurunan peringkat.
Pemerintah telah membantah isu tersebut. Namun pasar tetap mencermati perkembangan setelah Fitch lebih dahulu mengubah outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Moody's juga sebelumnya memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.
Kondisi Fiskal Pemerintah
Kondisi fiskal nasional menjadi faktor berikutnya yang mendapat perhatian investor. Defisit APBN 2025 tercatat mencapai Rp 695 triliun atau 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Memasuki 2026, pemerintah melaporkan defisit APBN sebesar Rp 240,1 triliun pada Maret atau 0,93 persen terhadap PDB. Meski pada April turun menjadi Rp 164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB, pelaku pasar masih memantau ruang fiskal pemerintah ke depan.
Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Pemerintah juga mulai menerapkan sistem ekspor komoditas melalui satu pintu yang dikelola PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan ini mencakup ekspor batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferroalloy.
Walaupun bertujuan meningkatkan penerimaan negara dan transparansi perdagangan, pelaku usaha masih menunggu kejelasan teknis terkait pelaksanaan kebijakan tersebut, termasuk kontrak ekspor dan mekanisme pembayaran.
Surplus Neraca Dagang Menipis
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya mencapai US$ 89 juta. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar.
Baca Juga: Purbaya Klaim Rupiah ke Dolar Terjun Bebas Rp 17.800 Tak Masuk Akal
Penyusutan surplus perdagangan dinilai mengurangi pasokan devisa yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar rupiah.
Sinyal Hawkish dari The Fed
Faktor terakhir berasal dari perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Sejumlah pejabat Federal Reserve memberikan sinyal bahwa suku bunga tinggi masih berpotensi dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menilai kebijakan moneter saat ini masih berada pada posisi yang tepat. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, menyebut kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan apabila inflasi belum kembali ke target.
Kombinasi ketujuh faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dalam beberapa pekan terakhir. Pelaku pasar kini menunggu perkembangan kondisi geopolitik global, arah kebijakan bank sentral AS, serta langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya tekanan eksternal. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS