Rupiah Kembali Jatuh ke Angka Rp 17.900, Berikut Alasannya
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 29 Mei 2026
0 dilihat
Rupiah kembali tertekan mendekati Rp 17.900 per dolar AS di tengah gejolak ekonomi global dan domestik. Foto: Repro Tempo
" Tekanan global yang belum mereda kembali menyeret nilai tukar rupiah ke level terlemah sepanjang sejarah "

JAKARTA, TELISIK.ID - Tekanan global yang belum mereda kembali menyeret nilai tukar rupiah ke level terlemah sepanjang sejarah.
Di tengah meningkatnya kebutuhan dolar AS dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional, rupiah terus bergerak di zona merah hingga mendekati Rp 18.000 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah dan mencetak rekor baru pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.906 per dolar AS atau melemah sekitar 0,58 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan tersebut memperpanjang tren depresiasi rupiah sepanjang tahun berjalan. Hingga akhir Mei 2026, mata uang Garuda tercatat telah melemah sekitar 7,34 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan itu terjadi di pasar derivatif luar negeri atau non-deliverable forward (NDF), saat transaksi spot domestik libur karena peringatan Idul Adha dan cuti bersama nasional.
Tekanan Global Masih Membayangi
Melansir dari laman Kompas, Jumat (29/5/2026), pelemahan rupiah dinilai tidak lepas dari tekanan global yang masih berlangsung. Pasar internasional masih memperkirakan suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer.
Kondisi itu membuat investor global cenderung memilih aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurut Rahma, posisi indeks dolar AS atau DXY yang naik ke level 99,1 menunjukkan dolar masih menjadi instrumen utama pilihan investor global. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat selisih keuntungan investasi di Indonesia menjadi kurang kompetitif.
“Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan global dan tantangan domestik secara bersamaan,” ujar Rahma.
Ia menambahkan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026 belum mampu menahan tekanan pasar. Setelah kebijakan tersebut diumumkan, rupiah justru masih mengalami pelemahan hingga akhir Mei.
Baca Juga: Purbaya Klaim Rupiah ke Dolar Terjun Bebas Rp 17.800 Tak Masuk Akal
Permintaan Dolar AS Meningkat
Selain tekanan global, kebutuhan dolar AS di dalam negeri juga meningkat cukup tajam. Permintaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen korporasi disebut sedang memasuki puncak pada triwulan II-2026.
Di saat bersamaan, kebutuhan impor energi juga meningkat akibat naiknya harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat permintaan dolar AS di pasar domestik semakin besar.
Tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak melemah hingga berada di bawah level 7.000. Investor mulai mencermati risiko pelebaran defisit anggaran dan sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap dapat membebani dunia usaha.
Rahma menilai stabilitas rupiah dalam beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Jika inflasi AS mulai melandai dan angka pengangguran meningkat, pasar diperkirakan kembali membuka peluang penurunan suku bunga The Federal Reserve.
Apabila kondisi itu terjadi, imbal hasil obligasi AS diperkirakan menurun dan aliran modal asing berpotensi kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Cadangan Devisa Jadi Sorotan
Bank Indonesia juga menghadapi tantangan menjaga cadangan devisa di tengah tekanan pasar. Berdasarkan data BI, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut turun sekitar 10,3 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Meski masih berada dalam kategori aman, penurunan cadangan devisa tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Rahma menyebut Bank Indonesia perlu memperkuat instrumen stabilisasi selain kebijakan suku bunga. Intervensi di pasar valas dan domestic non-deliverable forward (DNDF) dinilai masih diperlukan untuk menjaga volatilitas rupiah.
Selain itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) juga dinilai perlu dioptimalkan guna menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.
Menurut Rahma, tekanan terhadap rupiah diperkirakan mulai mereda memasuki Juli hingga Agustus 2026 ketika kebutuhan dolar AS korporasi mulai menurun secara musiman.
Respons Kebijakan Dinilai Terlambat
Sementara itu, ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan dilakukan dalam kondisi yang sudah terlambat. Ia menyebut pasar lebih dahulu merespons tekanan global dibandingkan kebijakan moneter domestik.
Yanuar menyoroti pergeseran simpanan masyarakat dari rupiah ke valuta asing. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana pihak ketiga perbankan dalam bentuk valas tumbuh 9,9 persen secara tahunan menjadi Rp 1.611 triliun pada Maret 2026.
Adapun tabungan valas tumbuh paling tinggi hingga mencapai 20,34 persen secara tahunan. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan meningkatnya kehati-hatian masyarakat terhadap pergerakan rupiah.
Menurut Yanuar, pasar global saat ini sedang menyesuaikan ekspektasi inflasi. Kenaikan imbal hasil obligasi AS hingga kisaran 4,6 persen membuat investor cenderung menahan dana di aset dolar AS.
Baca Juga: Cetak Biru APBN Prabowo 2027, Berikut Daftar Lengkap Target Ekonomi hingga Nilai Tukar Rupiah
Pada saat bersamaan, pemerintah Indonesia dinilai tetap berupaya menjaga stabilitas imbal hasil surat berharga negara (SBN). Situasi itu memunculkan persepsi bahwa pemerintah membutuhkan tambahan pembiayaan untuk menutup defisit anggaran.
Yanuar juga menilai faktor komunikasi kebijakan turut memengaruhi kepercayaan pasar. Pernyataan pejabat ekonomi yang dianggap terlalu optimistis disebut tidak sejalan dengan kondisi pasar yang sedang bergejolak.
Hingga akhir Mei 2026, rupiah tercatat juga melemah terhadap sejumlah mata uang regional. Berdasarkan data Trading Economics, rupiah melemah sekitar 7,66 persen terhadap dolar Singapura dan 6,83 persen terhadap dong Vietnam sepanjang tahun berjalan.
Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi global, terutama terkait kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan tensi geopolitik dunia yang masih berlangsung. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS