BBM Bobibos Diklaim Setara Pertamax, Ahli Bongkar Mekanisme Produksi dan Hitungan Biayanya
Reporter
Sabtu, 29 November 2025 / 8:57 am
Berbahan dasar jerami, BBM Bobibos diklaim setara Pertamax dan memicu penjelasan ahli. Foto: Repro Infobanknews.
JAKARTA, TELISIK.ID - Perbincangan mengenai BBM Bobibos yang diklaim setara Pertamax kembali mencuat, sementara ahli IPB memaparkan penjelasan teknis dan gambaran biaya produksi bahan bakar tersebut.
Perhatian publik tertuju pada kemunculan Bobibos, bahan bakar yang digadang-gadang sebagai produk asli buatan Indonesia berbasis jerami.
Bahan bakar ini disebut memiliki Research Octane Number (RON) mendekati 98, serta menawarkan konsep ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah panen padi.
Produk tersebut diperkenalkan di Bogor dan langsung memantik diskusi luas karena diklaim mampu menekan emisi dan menjadi alternatif energi baru berbasis biomassa lokal.
Menanggapi maraknya pembahasan itu, Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, memberikan penjelasan teknis terkait bahan bakar yang berasal dari biomassa jerami tersebut.
Ia menilai informasi yang beredar masih membutuhkan klarifikasi, terutama mengenai proses konversi dan klasifikasi jenis bahan bakar yang dihasilkan. Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa bahan bakar yang dimaksud dalam konteks komersial adalah hidrokarbon, bukan etanol ataupun biodiesel.
“Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa yang dimaksud dengan bahan bakar adalah hidrokarbon, bukan etanol atau biodiesel,” tulisnya dalam keterangan resmi IPB, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (29/11/2025).
Baca Juga: Heboh Penjualan BBM Bobibos Diklaim 100 Persen dari Jerami Beredar ke SPBU, Segini Harganya
Leopold menjelaskan bahwa hidrokarbon merupakan senyawa yang terdiri dari karbon dan hidrogen serta dikelompokkan dalam beberapa jenis, seperti paraffin, isoparaffin, olefin, dan aromatik.
Menurutnya, karakteristik bahan bakar ditentukan oleh jumlah atom karbon, di mana bensin berada pada kisaran C5-C12 dan solar pada C12-C20. Hal tersebut menjadi dasar untuk menilai apakah hasil konversi biomassa dapat masuk kategori bahan bakar komersial.
Ia menjelaskan bahwa proses konversi biomassa lignoselulosa menjadi hidrokarbon dapat dilakukan melalui berbagai jalur teknologi. Salah satu yang paling dikenal adalah proses gasifikasi yang dilanjutkan dengan sintesis Fischer-Tropsch (FT).
Ada pula pendekatan melalui pirolisis cepat yang menghasilkan bio-oil, kemudian dilanjutkan dengan proses hydrotreating. Selain itu, konversi dapat melalui hidrolisis monosakarida, baik dengan mekanisme direct sugar to hydrocarbon conversion (DSHC) maupun melalui etanol yang kemudian diproses menjadi hidrokarbon.
Menurut Leopold, dari berbagai jalur tersebut, gasifikasi dan FT merupakan metode yang paling mendekati tingkat komersialisasi karena telah diterapkan dalam konversi batu bara. Meski begitu, tantangan biaya disebut masih sangat tinggi.
“Beberapa literatur menyebutkan bahwa biaya menghasilkan satu liter bahan bakar melalui proses FT dari batu bara mencapai US$0,8-1,6. Bahkan biaya prosesnya bisa lebih dari empat kali harga batu baranya,” terangnya.
Ia juga menambahkan bahwa setiap jalur konversi umumnya membutuhkan katalis khusus dan kondisi operasi bersuhu serta bertekanan tinggi, sehingga investasi dan energi proses menjadi komponen biaya yang paling menentukan.
Baca Juga: BBM Biodiesel B50 Siap Edar ke Seluruh SPBU di 2026, Simak Kisaran Harganya
Menurutnya, klaim biaya produksi rendah perlu ditelaah ulang dengan memperhitungkan seluruh aspek mulai dari energi hingga infrastruktur.
Meski terdapat kendala teknis dan biaya, Leopold menyatakan bahwa pemanfaatan limbah biomassa sebagai sumber energi merupakan bagian dari pengembangan biofuel generasi kedua yang mendukung keberlanjutan.
Namun ia menegaskan bahwa implementasi komersialnya membutuhkan perhitungan matang dan kejelasan teknologi agar dapat bersaing. Ia menyimpulkan bahwa kelayakan teknologinya baru dapat meningkat apabila harga bahan bakar fosil naik atau pembatasannya diperketat melalui kebijakan.
Dengan berbagai penjelasan tersebut, diskusi publik mengenai Bobibos kini mengerucut pada sejauh mana teknologi ini benar-benar siap diterapkan di Indonesia, serta apakah biaya produksinya sebanding dengan klaim keunggulan yang selama ini disampaikan. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS