Dorongan Hubungan Ranjang saat Bulan Puasa Naik, Begini Penjelasan Medis dan Cara Tangkalnya

Ahmad Jaelani

Reporter

Jumat, 20 Februari 2026  /  10:38 am

Seksolog Indonesia, dr Boyke Dian Nugraha, Dokter Boyke menjelaskan alasan medis kenaikan libido selama puasa. Foto: Repro Tribunnews

JAKARTA, TELISIK.ID - Suasana Ramadan biasanya identik dengan ritme hidup yang lebih tenang, jadwal makan yang terbatas, serta fokus ibadah yang meningkat, namun di balik perubahan pola tersebut, sebagian pasangan justru merasakan lonjakan gairah seksual yang tidak biasa.

Fenomena ini muncul di ruang-ruang privat rumah tangga dan kerap menjadi bahan diskusi kesehatan, terutama ketika hasrat meningkat di tengah kewajiban menahan diri sepanjang hari.

Sejumlah laporan masyarakat menyebutkan adanya perubahan emosi dan dorongan biologis selama berpuasa. Kondisi perut kosong, pola tidur bergeser, serta interaksi dengan pasangan di waktu malam disebut ikut memengaruhi respons tubuh.

Dari sisi medis, peningkatan libido ini dinilai sebagai reaksi fisiologis yang wajar, bukan kelainan, selama masih dalam batas kendali.

Seksolog Boyke Dian Nugraha menjelaskan bahwa dorongan seksual pada dasarnya dipengaruhi tiga faktor utama, yakni asupan makanan, kondisi hormonal, dan rangsangan visual.

“Libido itu kan sangat tergantung pada pertama, makanan. Kedua, hormonal. Tiga objek kita,” ujarnya dalam tayangan edukasi kesehatan, seperti dikutip dari Tribunnews, Jumat (20/2/2026).

Baca Juga: Beda Ciri Khas Ruam Sifilis dan HIV, Berikut Fakta Medisnya

Dari sisi makanan, Boyke menerangkan beberapa bahan pangan mengandung zat yang dapat memicu produksi hormon testosteron. Konsumsi daging kambing, cokelat, atau makanan tinggi kalori saat berbuka dan sahur berpotensi meningkatkan energi sekaligus gairah. Menurutnya, pola makan yang tidak terkontrol bisa memperkuat dorongan seksual.

“Makanan yang terlalu banyak mengandung, membangkitkan hormon-hormon testosteron, kayak kambing, kayak coklat tentunya, kalau kamu pengen menekannya, lain dengan pengantin baru ya, kalau kamu pengen menguranginya boleh,” sambungnya.

Selain nutrisi, faktor hormonal juga dipengaruhi interaksi fisik antar pasangan. Kontak tubuh berlebihan, seperti berpelukan atau bercanda secara intim, dapat memicu respons biologis yang sulit dikendalikan. Boyke mengingatkan agar pasangan menjaga batas selama siang hari.

“Misalnya gelendot-gelendot gitu ya, kemudian meluk dari belakang, yang cowok juga gitu ya, karena kepengen meluk-meluk, gak usah deh bulan puasa. Ingat batal-batal-batal Ya kan?,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pengaruh rangsangan visual dan mental. Tayangan romantis, cerita dewasa, atau konten bernuansa fantasi dinilai dapat mengaktifkan imajinasi seksual. Dalam situasi puasa, paparan semacam itu sebaiknya dibatasi.

“Skip deh yang gituan. Lebih baik bulan puasa ini, mumpung sebulan, mumpung pahalanya berlipat ganda. Yuk kita isi misalnya baca Al-Qur'an satu juz satu hari,” sarannya.

Baca Juga: Kekerasan dalam Hubungan Intim Disebut Biang PTSD, Begini Penjelasannya

Sebagai langkah pencegahan, Boyke menyarankan pengaturan pola makan seimbang, pengendalian interaksi fisik, serta pengalihan aktivitas ke kegiatan spiritual atau edukatif.

Membaca kitab suci, berdiskusi agama bersama keluarga, atau melakukan kegiatan produktif dinilai membantu menekan rangsangan berlebih. Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada kontrol diri, tetapi juga menjaga kualitas ibadah selama Ramadan.

Dengan memahami faktor biologis dan lingkungan yang memengaruhi libido, masyarakat dapat menyikapi perubahan hasrat secara rasional. Puasa tetap berjalan sesuai ketentuan, sementara kesehatan fisik dan psikologis tetap terjaga melalui kebiasaan yang lebih teratur. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS