Kemendikdasmen Klaim Dampak MBG ke Siswa Bisa Kurangi Gangguan Konsentrasi Belajar

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 20 Februari 2026
0 dilihat
Kemendikdasmen Klaim Dampak MBG ke Siswa Bisa Kurangi Gangguan Konsentrasi Belajar
Program makan bergizi gratis dilaporkan menekan gangguan konsentrasi siswa selama proses belajar di sekolah. Foto: Repro Antara

" Program makan bergizi gratis di sekolah dilaporkan menurunkan gangguan konsentrasi belajar siswa "

JAKARTA, TELISIK.ID - Program makan bergizi gratis di sekolah dilaporkan menurunkan gangguan konsentrasi belajar siswa akibat rasa lapar selama proses pembelajaran.

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan dampak terukur terhadap kondisi belajar anak di ruang kelas.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Pusat Penguatan Karakter mencatat adanya penurunan gangguan konsentrasi yang berkaitan dengan rasa lapar, terutama di sekolah-sekolah yang telah menerima intervensi gizi secara rutin.

Temuan tersebut berasal dari survei evaluasi yang terintegrasi dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat atau 7KAIH. Salah satu kebiasaan yang diukur adalah praktik makan sehat dan bergizi sebelum kegiatan belajar.

Evaluasi dilakukan dalam dua tahap, yakni baseline pada Mei–Juni 2025 dan pengukuran lanjutan pada November–Desember 2025, sehingga perubahan kondisi dapat dibandingkan secara langsung.

Sebanyak 1.203.309 siswa dari berbagai daerah menjadi responden. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan sampling sistematik agar representatif terhadap kondisi nasional. Hasilnya menunjukkan sekolah penerima MBG mencatat rata-rata penurunan gangguan belajar akibat lapar sebesar 2,37 poin persentase dibandingkan sekolah yang belum menerima program.

Baca Juga: MBG Tetap Disalurkan Bulan Puasa, Begini 4 Skema dari BGN

Perbedaan capaian juga terlihat di wilayah Indonesia Timur. Sekolah pelaksana MBG di kawasan tersebut mencatat penurunan gangguan belajar akibat lapar hingga 14,85 poin persentase lebih besar.

Angka ini menunjukkan adanya selisih kondisi yang cukup lebar antara sekolah yang memperoleh intervensi gizi dan yang belum mendapatkannya.

Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami, mengatakan pemilihan sekolah dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan kesetaraan karakteristik awal.

“Sekolah pelaksana MBG kami pilih secara acak, dengan memastikan memiliki data awal dan akhir yang memadai. Setelah itu, kami padankan dengan sekolah yang belum melaksanakan MBG dengan jenjang, wilayah, dan jumlah murid yang relatif sama sehingga kondisi awal data hampir identik dan dapat dibandingkan,” katanya dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari Kompas, Jumat (20/2/2026).

“Pendekatan ini memperkuat validitas hasil sekaligus memastikan setiap rekomendasi kebijakan benar-benar berbasis data," tambahnya.

Menurutnya, metode tersebut membantu memastikan bahwa perubahan yang terjadi berkaitan langsung dengan pelaksanaan program, bukan faktor lain di luar intervensi.

Rusprita juga menyebut intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar siswa, tetapi turut memperkuat kesiapan mengikuti pembelajaran.

“Memastikan mereka bisa belajar dengan fokus dan kesempatan yang sama dengan anak-anak di wilayah lainnya,” ujarnya.

Pernyataan itu merujuk pada temuan bahwa siswa lebih siap mengikuti pelajaran ketika kebutuhan makan terpenuhi.

Baca Juga: Ribut Pegawai Dapur MBG Diangkat jadi PPPK 2026 Tak Sebanding Gaji Guru Honor, Begini Reaksi BGN

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan MBG merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia jangka panjang. Program ini diarahkan untuk mendukung kualitas kesehatan dan kemampuan belajar peserta didik sejak usia dini hingga pendidikan menengah.

“Program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia. Kita sedang menyiapkan generasi 2045, yakni mereka yang hari ini masih berada di bangku PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan, agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ucap Mu'ti.

Data evaluasi tersebut menjadi dasar bagi kementerian untuk melanjutkan dan memperluas cakupan program. Pemerintah menyatakan pemantauan akan dilakukan secara berkala guna memastikan dampaknya tetap terukur serta selaras dengan kebutuhan sekolah di berbagai daerah. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga