Dosen Universitas Pelita Ibu Transformasi Tradisi Merarangi Warga Wawonii untuk Kesehatan Ibu Nifas

Ahmad Jaelani

Reporter

Sabtu, 22 Agustus 2026  /  2:04 pm

Dosen Universitas Pelita Ibu mengembangkan tradisi Merarangi Wawonii menjadi Merarangi Sehat untuk mendukung kesehatan ibu nifas. Foto: Ist.

KONAWE KEPULAUAN, TELISIK.ID - Dosen Universitas Pelita Ibu mengembangkan tradisi Merarangi Suku Wawonii menjadi Merarangi Sehat untuk mendukung perawatan ibu nifas yang lebih aman.

Universitas Pelita Ibu melaksanakan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat sebagai bagian dari program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Kabupaten Konawe Kepulauan.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Merawat Warisan Suku Wawonii melalui Transformasi Tradisi Merarangi Berbasis Kemitraan Masyarakat untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu Nifas.”

Program ini diarahkan untuk mendokumentasikan, mempertahankan, dan mentransformasikan tradisi Merarangi sebagai warisan budaya Suku Wawonii dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan ibu nifas.

Tim pengabdian dipimpin Dr. Ns. Fajar Kurniawan, S.Kep., M.Kes. sebagai Ketua Tim Pengabdian, bersama Bdn. Sulfianti A. Yusuf, SST., MH.Kes. sebagai sekretaris dan Dr. Apt. Irman Idrus, S.Farm., M.Kes. sebagai anggota.

Tim juga melibatkan Bd. Putri Rosanti Caesaria, S.Keb., M.Keb., selaku Ketua Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Pelita Ibu, serta dosen Program Studi Sarjana Kebidanan Bd. Indah, SST., M.Kes. dan mahasiswa Universitas Pelita Ibu.

Keterlibatan dosen dan mahasiswa mencakup edukasi kesehatan, pendampingan masyarakat, dokumentasi budaya, demonstrasi Merarangi Sehat, serta diseminasi hasil pengabdian kepada masyarakat.

Merarangi, Tradisi Perawatan Ibu Suku Wawonii

Merarangi merupakan tradisi perawatan ibu setelah persalinan yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Suku Wawonii di Kabupaten Konawe Kepulauan.

Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan perawatan tubuh ibu selama masa nifas, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, dukungan keluarga, penghormatan terhadap leluhur, serta pewarisan pengetahuan antargenerasi.

Dalam praktik tradisional, panas menjadi salah satu unsur utama Merarangi. Masyarakat memaknai kehangatan sebagai bagian dari proses pemulihan ibu setelah persalinan.

Praktik tersebut juga disertai berbagai bentuk dukungan keluarga, penggunaan bahan herbal, pengaturan aktivitas, serta unsur doa dan ritual yang memiliki makna budaya dan spiritual bagi masyarakat Wawonii.

Namun, beberapa praktik tradisional yang melibatkan panas secara langsung memiliki risiko apabila dilakukan tanpa pengendalian suhu, jarak, durasi, dan pemantauan kondisi ibu.

Karena itu, tim dosen Universitas Pelita Ibu bersama masyarakat mengembangkan pendekatan Merarangi Sehat sebagai bentuk penyesuaian praktik dengan memperhatikan aspek kesehatan ibu nifas.

Baca Juga: Pengabdian S1 Farmasi Universitas Pelita Ibu Perkuat Kader Posyandu Dampingi Pasien Prolanis

Merarangi Sehat Pertahankan Tradisi dan Perhatikan Keselamatan

Merarangi Sehat dikembangkan bukan untuk menghilangkan tradisi Merarangi, melainkan mempertahankan nilai budaya Suku Wawonii sekaligus meningkatkan perhatian terhadap keselamatan ibu.

Transformasi dilakukan melalui sejumlah penyesuaian, antara lain skrining kondisi ibu nifas, pemeriksaan tanda vital, informed consent, pengendalian suhu dan jarak, penggunaan uap herbal hangat, serta pemantauan kondisi ibu selama tindakan.

Edukasi kesehatan dan keterlibatan keluarga juga menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Masyarakat Suku Wawonii tidak ditempatkan hanya sebagai penerima program, tetapi sebagai mitra dalam proses transformasi budaya.

Pendekatan tersebut dilakukan dengan tetap menghormati pengalaman, nilai, keyakinan, dan identitas budaya masyarakat. Dengan demikian, proses pengembangan Merarangi Sehat berjalan melalui kemitraan antara pengetahuan lokal dan ilmu kesehatan.

Universitas Pelita Ibu Libatkan Masyarakat Adat

Kegiatan diseminasi dihadiri unsur pimpinan Universitas Pelita Ibu, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, ibu hamil, ibu nifas, keluarga, serta masyarakat Suku Wawonii.

Ketua Lembaga Adat Wawonii, Husain Mahalik, turut hadir sebagai representasi masyarakat adat. Keterlibatan lembaga adat menjadi bagian penting dalam proses pelestarian dan transformasi tradisi Merarangi.

“Kami sangat mengapresiasi lahirnya Merarangi Sehat sebagai bentuk pelestarian budaya yang tidak menghilangkan nilai-nilai adat. Tradisi Merarangi adalah identitas masyarakat Wawonii yang diwariskan oleh leluhur. Melalui pengembangan ini, budaya tetap hidup, masyarakat memperoleh manfaat kesehatan yang lebih baik, dan generasi muda dapat terus mengenal serta melestarikan warisan budaya daerah,” ujar Husain Mahalik dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/8/2026).

Husain mengatakan keterlibatan masyarakat adat diperlukan agar proses pengembangan tradisi tetap memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Wawonii.

Kolaborasi antara dosen Universitas Pelita Ibu, tenaga kesehatan, lembaga adat, keluarga, dan masyarakat menjadi bagian dari pendekatan lintas sektor dalam pengembangan pelayanan kesehatan berbasis budaya.

Luncurkan Buku Ber-ISBN tentang Perawatan Masa Nifas

Salah satu agenda penting dalam kegiatan diseminasi adalah peluncuran buku ber-ISBN berjudul Perawatan Masa Nifas dalam Perspektif Budaya dan Kearifan Lokal: Dimensi Komplementer di Berbagai Negara dan Indonesia.

Buku tersebut ditulis oleh Dr. Ns. Fajar Kurniawan, S.Kep., M.Kes., Bdn. Sulfianti A. Yusuf, SST., MH.Kes., dan Dr. Apt. Irman Idrus, S.Farm., M.Kes.

Buku tersebut menjadi salah satu luaran program pengabdian kepada masyarakat. Isinya membahas praktik perawatan masa nifas berbasis budaya dan kearifan lokal, termasuk konteks Merarangi masyarakat Suku Wawonii serta pengembangannya menjadi Merarangi Sehat.

Buku tersebut telah memperoleh ISBN dan sedang dalam proses Hak Kekayaan Intelektual. Materinya juga dimanfaatkan dalam pembelajaran Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Pelita Ibu, khususnya pada mata kuliah Asuhan Kebidanan Komplementer.

Buku Jadi Jembatan Budaya dan Pendidikan Kebidanan

Ketua Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Pelita Ibu, Bd. Putri Rosanti Caesaria, S.Keb., M.Keb., menyampaikan bahwa hasil pengabdian tersebut memiliki kaitan dengan pengembangan pendidikan kebidanan.

“Buku ini tidak hanya menjadi luaran akademik, tetapi juga menjadi sumber belajar yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan ilmu kebidanan modern. Integrasi buku ke dalam mata kuliah Asuhan Kebidanan Komplementer diharapkan mampu membentuk lulusan yang memiliki kompetensi klinis, menghargai budaya, serta mampu memberikan pelayanan kebidanan yang aman, berbasis bukti, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Putri Rosanti Caesaria.

Putri menjelaskan, pengalaman masyarakat Suku Wawonii dalam mempertahankan tradisi Merarangi memberikan pembelajaran kepada mahasiswa mengenai pentingnya memahami konteks sosial dan budaya perempuan serta keluarganya.

Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kebidanan agar mahasiswa mengenali praktik budaya yang berkembang di masyarakat dan memahami pendekatan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan setempat.

Baca Juga: Cetak Bidan Unggul, Universitas Pelita Ibu Gandeng PT Richindo Gelar Pelatihan Spa dan Yoga Maternal Komplementer

Bahas Keberlanjutan Merarangi Sehat

Pada akhir kegiatan, dilakukan diskusi bersama tenaga kesehatan, kader, masyarakat, keluarga, tokoh adat, dan pemangku kepentingan mengenai keberlanjutan implementasi Merarangi Sehat di masyarakat dan pelayanan kesehatan primer.

Diskusi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan antara Universitas Pelita Ibu, masyarakat Suku Wawonii, lembaga adat, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah dalam mengembangkan inovasi pelayanan kesehatan ibu berbasis budaya.

Melalui program tersebut, tradisi Merarangi tetap ditempatkan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Wawonii. Transformasi dilakukan melalui pendekatan yang mempertemukan pengetahuan lokal dengan ilmu kesehatan.

Universitas Pelita Ibu juga menjadikan hasil pengabdian tersebut sebagai luaran akademik dan bahan pembelajaran kebidanan. Buku ber-ISBN yang diluncurkan menjadi salah satu bentuk dokumentasi pengetahuan mengenai perawatan masa nifas dalam perspektif budaya.

Pengembangan Merarangi Sehat dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai mitra, lembaga adat sebagai bagian dari representasi budaya, serta tenaga kesehatan dan perguruan tinggi dalam aspek edukasi dan kesehatan.

Dengan pendekatan tersebut, tradisi Merarangi tetap dapat didokumentasikan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya, sementara aspek keselamatan ibu nifas menjadi bagian yang diperhatikan dalam proses pengembangannya. (D-Adv)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS