Ini Tempat Terkering di Dunia, Miliki Persentase Curah Hujan Nol Persen

Nurdian Pratiwi

Reporter

Selasa, 14 Juni 2022  /  3:03 pm

Dry Valley tempat terkering di dunia yang berada di Benua Antartika. Foto: Repro Diadona.id

KENDARI, TELISIK.ID - Selama ini jika kita mendengar kata Wilayah Kutub baik Kutub Utara dan Kutub Selatan, mungkin dipikiran kita akan terbayang sebuah tempat yang sangat dingin berselimutkan es yang sangat tebal, seperti di Antartika.

Namun, pemikiran tersebut rupanya salah besar sebab sebuah tempat yang sangat kering di dunia ternyata berada di Kutub Selatan atau Benua Antartika lho!

Mengutip dari Liputan6.com, wilayah tersebut di namakan Dry Valley. Dry Valley merupakan sebuah kawasan di Antartika yang tidak tertutupi salju abadi yang pada umumnya merupakan ciri khas dari Antartika.

Lebih dari dua juta tahun, tidak ada curah hujan di lembah ini. Selain itu, tempat ini juga tidak mengandung uap air (air, es, atau salju), akan tetapi memiliki tingkat kelembapan yang sangat tinggi.

Dry Valley terbentuk akibat dari pergerakan angin katabatic yang berkecepatan 200 mil per jam, yang menguapkan semua kandungan air yang ada. Anehnya, lembah ini merupakan satu-satunya tempat di Antartika yang tidak ditutupi salju.

Baca Juga: Paling Produktif dalam Sejarah, Ibu Ini Lahirkan 69 Anak

Berada pada daerah Trans-Antartika, dan menghadap ke daerah pegunungan yang menyebabkan penguapan (atau sublimasi) di tempat tersebut lebih tinggi daripada turunnya salju, menyebabkan seluruh es menghilang, sehingga yang tampak hanyalah dataran gundul yang gersang.

Luas Dry Valleys mencakup 0.03 persen dari luas benua Antartika. Sebagaimana yang diketahui, sekitar 14 juta kilometer persegi dari total luas benua Antartika terselimuti salju yang ketebalannya bisa mencapai 2000 meter bahkan 4.800 meter.

Mengutip Bobo.id, ada beberapa faktor yang menyebabkan Dry Valleys semakin kering dan hampir tidak ada es yang menyelimuti permukaannya. 

Lokasinya di tengah pegungungan yang menjulang tinggi membuat es yang mengalir ke laut untuk mencapai lembah menjadi terhalang.

Tak hanya itu, bentang alam tersebut menyebabkan terjadinya fenomena embusan angin katabatik yang kuat dari puncak-puncak pegunungan menuju lembah.

Baca Juga: Daftar Negara yang Legalkan Ganja, Nomor 4 Tetangga Indonesia

Angin katabatik sendiri merupakan embusan angin yang turun dari lereng akibat udara dingin di ketinggian.

Udara dingin yang padat itu berembus kencang menuruni lereng pegunungan karena gaya gravitasi. Kecepatan angin yang mencapai 322 kilometer per jam mampu memanaskannya sehingga menguapkan lapisan air, es, dan salju. (C)

Penulis: Nurdian Pratiwi

Editor: Musdar