Jadav Payeng, Seorang Diri Menanam Hutan

Haidir Muhari

Reporter

Selasa, 15 Desember 2020  /  10:44 pm

Jadav Molai Payeng di hutannya. Foto: Repro npr.org

ASSAM, TELISIK.ID - Sejak empat puluh tahun lalu, lelaki berusia 57 tahun ini menanam pohon hingga menjadi cagar hutan yang lebih luas dari Central Park di New York, Amerika Serikat.

Jadav Molai Payeng, namanya, lelaki tua yang tak kenal lelah dan kata menyerah itu, dilahirkan di Jorhat, Assam, India pada tahun 1963. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Molai.

Pria bergaris wajah teguh itu menanam pohon di gundukan pasir sungai Brahmaputra, dekat Kokilamukh, Jorhat. Kiprah nyata itu ia lakoni sejak usianya 16 tahun, tanpa henti, dan tanpa mengharap imbalan dari manapun.

Tak hanya menanamnya, Molai juga merawat pohon-pohon yang ditanamnya itu. Setiap pagi dan sore hari, ia menyirami pohon-pohon itu, bahkan sejak ia usia remaja, dari sendiri hingga beristri dan kini dikaruniai tiga orang anak.

Pria bergaris wajah tegas itu, acuh terhadap lingkungan bermula dari menemukan sejumlah besar ular mati di atas gundukan pasir tandus. Dari orang tuanya Jadav tahu penyebab kematian ular-ular itu adalah panas yang berlebih. Ia lalu berinisiatif menanam pohon untuk melindungi ular-ular itu.

“Apa yang akan mereka lakukan jika kita semua mati satu hari, seperti ular-ular ini. Mereka hanya tertawa dan menyeringai, tetapi saya tahu saya harus membuat planet lebih hijau,” kata Mulai seperti dilansir dari Tribunjogja.com.

Baca juga: Ilmuwan Kelas Dunia, Bagus Putra Muljadi Pernah IPK 2,7

Pria yang kemudian dunia melabelinya dengan ‘The Forest Man of India’ itu menyadari bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang menjadi sebab utama kerusakan ekosistem. Lalu, hanya manusia gigih yang terus berproses yang bisa mengubah kerusakan lingkungan itu.

Gundukan pasir tandus tidaklah terjadi abrakadabra. Hutan yang dieksploitasi terus-menerus selama bertahun-tahun, akan mengakibatkan lahan menjadi tandus, rentan erosi, bahkan bisa mengakibatkan global warming atau pemanasan global. Akibat penggundulan itu pun lalu mengakibatkan dampak domino terhadap ekosistem, lalu akhirnya juga manusia itu sendiri.

Menyadari itu, ia mencoba mencari bantuan dari departemen kehutanan setempat, tetapi tidak membuahkan hasil. Bahkan warga sekitar mengatakan takkan ada pepohonan yang tumbuh di tanah tandus itu. Masyarakat menyarankan untuk menanam bambu lebih dulu.

Tanpa pikir panjang, Jadav lalu menanam anakan bambu pertamanya. Seperti kata Sri Krishna dalam serial Mahabharata bahwa jawaban dari keraguan adalah dari perbuatan. Kemudian, ia menanam lebih banyak pohon dengan berbagai jenis lainnya.

"Pertama pohon bambu, kemudian saya juga menanam pohon kapas. Kemudian saya terus menanam segala macam jenis pohon," kenang Jadav dilansir dari Voi.id.

Hari demi hari, tahun demi tahun, ia menyirami dan merawat pohon-pohonnya dengan penuh dedikasi. Jadav juga memberi perlakuan lain. Untuk membantu menambah kesuburan tanah, ia mengumpulkan semut merah dari desa, lalu dipindahkan ke gundukan pasir.

Perlahan tapi pasti, gundukan pasir tandus ‘mati’ itu berhasil ia ubah menjadi ekosistem hutan. Pohon-pohon itu kian menjulang tinggi. Tetes asin keringatnya, berbuah manis.

Baca juga: Maahir: Bersepeda Merajut Nusantara

“Sebelumnya, ini semuanya hanya hamparan pasir. Tidak ada pohon, tidak ada rumput. Hanya ada batang kayu mati. Sekarang, benih rumput yang disirami air dari aliran sungai yang berasal dari China mulai tumbuh, kemudian melakukan penyerbukan dengan sendirinya," ungkap Jadav penuh haru.

Berkat kiprahnya, hutan yang ditanamnya lalu disebut dengan hutan Molai sesuai namanya. Hutan Molai, yang semula untuk menyelamatkan ular, kini telah menjadi rumah yang menyenangkan bagi satwa dengan ribuan pepohonan berbagai jenis tumbuh rindang dan ceria.

Harimau, badak India, rusa, kelinci, monyet, berbagai jenis burung, hidup riang berteduh dan bernyanyi di hutan Molai. Karena dedikasi tanpa pamrihnya itu, pada tahun 2015, Pemerintah India menganugerahinya Padma Shri, yaitu penghargaan yang diberikan untuk masyarakat sipil tertinggi ke empat di India.

Bahkan ia ada kenangan khusus terhadap harimau yang menghuni hutannya itu. Di depannya matanya, harimau itu membunuh seekor kerbau.

“Yang satu ini (harimau) membunuh seekor kerbau. Melihatku, kemudian melengos pergi,” tuturnya.

Mungkin harimau membaca gurat ketulusan dari wajah dan seluruh tubuhnya. Atau juga seperti kata pameo, hewan tahu cara melihat pancaran kasih dibanding manusia. (C)

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Fitrah Nugraha