Ilmuwan Kelas Dunia, Bagus Putra Muljadi Pernah IPK 2,7

Haidir Muhari, telisik indonesia
Selasa, 08 Desember 2020
0 dilihat
Ilmuwan Kelas Dunia, Bagus Putra Muljadi Pernah IPK 2,7
Bagus Putra Muljadi. Foto: Repro Kampuscenter.com

" Saya tahu kalau saya menyerah dan pulang ke Tanah Air maka semua selesai sudah. Tidak akan ada kesempatan lain. Tertutup sudah semua kesempatan. Tapi kalau saya bisa menyelesaikan ini (S2 dan S3) pintu kesempatan masih terbuka buat saya. "

NOTTINGHAM, TELISIK.ID - Pria kelahiran 1 Maret 1983 ini adalah alumni Sarjana Teknik Mesin dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2006. Masuk di dari salah satu kampus bergengsi di Indonesia ini tahun 2001 dan lulus dengan meraup Indeks Prestasi Kumulatif 2,7.

Dilansir dari dream.co.id, selama kuliah di ITB, pria bernama lengkap Bagus Putra Muljadi, sangat sering bolos. Ia pun lulus tak tepat waktu. Bahkan, pernah cuti satu semester karena melewatkan masa pengisian rencana studi. Saat kuliah ia lebih banyak bermain.

Tidak hanya saat menempuh kuliah saja, dilansir dari kompas.com, bahkan sedari bangku sekolah, Bagus, sapaan akrabnya, tidak pernah mendapat juara di kelasnya. Bahkan ia mendapat banyak nilai merah di rapornya.

Setelah lulus dari ITB, ia akhirnya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama kuliah adalah hal yang kurang produktif. Ia bertekad berbenah dan berubah. Karena itu, ia mencoba peruntungan dengan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Tekadnya itu untuk berbenah itu akhirnya berbuah manis. Ia pun sukses meraih gelar Master, lalu PhD dari National Taiwan University, Taiwan, pada tahun 2012 di bidang mekanika terapan.

Baca juga: Kim Jong Un, Sang Morning Star King

Melanjutkan studi di luar negeri, perjalanannya tidaklah mulus. Tantangan yang dia hadapi adalah persoalan biaya. Ia tak mau rebah. Tekadnya telah bulat, sekukuh karang di dasar samudera.

Ia tak mau kalah dari masalah cekikan biaya. Karena itu ia menjadi sales pompa air. Keuntungan yang didapat dari itu, ia gunakan untuk membiayai kuliahnya. Selama studi di Taiwan ini juga, Bagus banyak mengunjungi perpustakaan kampus, membaca jurnal, juga menghabiskan waktunya di laboratorium kampus Taiwan.

"Saya tahu kalau saya menyerah dan pulang ke Tanah Air maka semua selesai sudah. Tidak akan ada kesempatan lain. Tertutup sudah semua kesempatan. Tapi kalau saya bisa menyelesaikan ini (S2 dan S3) pintu kesempatan masih terbuka buat saya," jelas Bagus dilansir dari Kompas.com.

Seusai menamatkan pendidikan doktoral dari National Taiwan University, ia kemudian memutuskan untuk mengikuti pendidikan Post-doctoral di Institut de Mathematiques de Toulouse, Perancis hingga tahun 2014. Pilihan ini diambilnya dengan konsekuensi, harus belajar dari awal terkait bidang matematika. Selain itu juga dalam pendidikan ini ia diharuskan untuk menghasilkan jurnal ilmiah terpublikasi.

Dahaga keilmuannya terus membuncah, ia kemudian memilih melanjutkan pendidikan Post-doctoral di salah satu kampus top di dunia, Imperial College London, United of Kingdom. Ia lulus dari kampus ini pada tahun 2017. Inilah yang menjadi titik balik karirnya.

Tak lama setelah lulus dari Imperial College London, ia diterima sebagai faculty member, asisten profesor termuda di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia di Universitas Nottingham, Inggris.

Baca juga: Maahir: Bersepeda Merajut Nusantara

Menurutnya sumber daya manusia Indonesia tidak kalah hebat. Selain dirinya banyak anak-anak Indonesia yang menjadi hebat di luar negeri yang mengawali kuliah sebagai mahasiswa dari kampus dalam negeri. Namun, ia mengakui bahwa pola pikir akademis pendidikan dalam negeri dan di luar berbeda.

Bagus salah satu periset interdisipliner atau lintas keilmuan. Menurutnya pendidikan di luar negeri sangat menghargai ilmuwan yang memiliki keilmuan interdisipliner.

"Pendidikan di luar negeri sangat menghargai peneliti atau ilmuwan yang memiliki pengalaman lintas keilmuan atau interdisipliner. Mereka biasanya memiliki pandangan yang lebih lengkap ketika dihadapkan dalam satu pemecahan masalah," ujar Bagus.

Dilansir dari Taiwan Center Indonesia, bagus mengungkapkan, dalam ilmu pengetahuan sesungguhnya tidak disekat-sekat. Proyek masa depan, seperti ketahanan pangan maupun energi, meniscayakan pendekatan kolaborasi keilmuan interdisiplin.

Bagus saat ini memiliki 10 jurnal internasional dan lebih dari 20 jurnal bersama. Jumlah jurnal, menurutnya, bukanlah hal yang istimewa. Banyaknya jurnal dalam dunia akademis, kata dia, itu baik tapi jika ingin melaju ke posisi yang lebih tinggi, sebaiknya memiliki jurnal yang ditulis sendiri. (C)

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Fitrah Nugraha

Artikel Terkait
Baca Juga