Jurnalisme Sastrawi: Bayi Milik Hutan

Indarwati Aminuddin

Ombudsman

Sabtu, 18 Juli 2020  /  8:03 am

Indarwati Aminuddin, Ombudsman Telisik.id. Foto: Ist.

Bagaimana Hutan Menjadi Bagian Hidup Suku Mairasi

Oleh: Indarwati Aminuddin

Ombudsman Telisik.id

Pince Uriyo tergeletak lemas di atas lantai yang hanya beralaskan kain dan baju-baju. Ia mengenakan cawat dari kayu tumbuk—kulit kayu yang ditumbuk halus dan dimodel seperti celana dalam—dengan penutup dada dari katun. Dekat kakinya, tumpukan kayu bakar yang akan dinyalakan malam hari berurai berantakan.

Muka Pince pucat, ia bahkan tak menggerakkan badan saat bayi pertama, perempuan mungil, telanjang bulat, diletakkan di sampingnya. Pince baru berusia 16 tahun, dua hari lalu Ia ke hutan yang berjarak dua jam perjalanan dari rumah modernnya—rumah bantuan Pemerintah, gelap, berantakan, tanpa listrik-- dan melahirkan di hutan dengan bantuan saudara-saudaranya.  Ia kemudian berjalan dari hutan kembali ke kehidupan modern dengan bayi mungil tanpa lilitan kain; lahir tanpa kain, hidup tanpa kain; dengan cara inilah adat suku Mairasi dipertahankan.

“Begitu ia tiba di rumah kami langsung berteriak..bawa apa itu?” cerita Mama Pince. “Anak..Pince! Ia pe anak su lahir..”

Ritual kelahiran kemudian dilanjutkan. Karena ini anak perempuan maka Pince tak boleh meminum air apapun selama 4 hari, termasuk makanan berkuah, atau menyantap daging dari hewan yang memiliki kuku.

Andai, anak yang dilahirkannya lelaki, maka Ia harus puasa air atau makanan berkuah selama 7 hari. Selama masa puasa, Pince hanya menyantap pisang bakar. Bila terjadi kegawatan, misalnya perdarahan atau demam tinggi, maka kerabat Pince mencari tumbuhan hutan yang mengandung air.

Ia tak boleh meminum air yang mengalir atau mengucur atau yang paling sering terjadi, keluarganya mencampur bubuk dari tungku masak ke air dan meminumkannya. Bagaimana bila terjadi infeksi? Kerabat pasti sibuk mencari udang-udang kecil, membakarnya dan memberikannya pada Pince.

Lainnya, Pince tak boleh menyentuhkan air ke badannya, ini artinya ia tak mandi selama sebulan lebih. Darah nifas yang tertampung dalam cawat dicuci oleh keluarganya. sedang anak mungilnya, mulai menyantap pisang masak di hari pertama, anak itupun tak  boleh mengenakan selimut, kain atau baju hingga berusia satu tahun. “Ini su adat kami,” kata Mama Pince.

Perjuangan Pince melahirkan di hutan bukanlah hal luar biasa bagi perempuan-perempuan suku Mairasi. Jauh sebelum Pince, perempuan-perempuan Mairasi telah berdiri sesuai garis adatnya. Perempuan merayakan kelahiran anak dengan cara mengucilkan diri dalam hutan, dan sang suami menjauhinya hingga sebulan lebih.

Baca juga: Jurnalisme Sastrawi: Kapan Bisa Berteriak Merdeka?

“Tidak boleh ada lelaki,” kata Oktovina Waropen, bidan yang bertugas di pedalaman suku Mairasi. “Rambut laki-laki segera beruban, gigi rontok dan ia kehilangan kekuatan bila mendampingi perempuan melahirkan.”

Oktovina memulai tugas pertamanya pada 1996 di pelosok suku Mairasi menetap. Malam hari, seperti warga lain, ia menyalahkan api damar dan setelah makan malam segera mematikan api damar itu. Tugas pertamanya adalah mendampingi persalinan dalam gubuk tengah hutan yang berjarak 10 kilometer dari kampung. Gubuk itu, rumah kayu kecil tanpa jendela, tertutup rapat  disediakan bagi perempuan yang hendak melahirkan.

Saat memasuki rumah kecil tersebut, Oktovina diwajibkan melepaskan pakaiannya. “Saya harus mengenakan baju kayu tumbuk, tak ada pilihan itu adat mereka,” ujarnya. Ia juga wajib mencuci tangannya dari air dari bambu.

Oktovina terhenyak saat tahu  ia ternyata tak sendiri, gubuk itu disesaki sekitar sepuluh perempuan tua, mengenakan baju adat dan mengisap tembakau linting yang membuat gubuk dipenuhi asap. “Mama..kasihan anak ini kalau ada asap tembakau,” ujar Oktovina pada perempuan-perempuan tersebut. “Tidak..ini agar anak dan ibu itu selamat,”jawab mereka.  

Proses persalinan berjalan lancar. Bayi lahir, “namun tak bisa memotong tali pusarnya sesegera mungkin, saya harus menunggu placenta keluar dari rahim Ibu itu, lalu selanjutnya,  orang yang dipercaya menggunakan daun labu, membungkusnya ke tali pusar bayi, menariknya dan  memotongnya dengan bambu,” ceritanya.

Di tahun-tahun selanjutnya, Oktovina mulai memadukan kelahiran dengan perpaduan teknis medis dan tradisional. Ia misalnya menggunakan alat yang dipandang ‘aneh’ oleh warga Suku Mairasi. “Semua alat perlu dijelaskan, bila tidak mereka menganggap itu terlarang.”

Ia juga mulai mengajarkan menyusu dini pada ibu-ibu muda. Ia pernah melakukan suatu hal yang membuatnya didatangi kepala suku. “Saya  memakaikan baju bayi, yang terjadi adalah kepala suku datang dan bilang, ibu..ibu ini siapakah? Kami sudah hidup dengan adat itu ratusan tahun tak bisa diganti begitu saja.”

Adat-adat yang seringkali dianggap ‘tak masuk akal’ atau bertabrakan dengan standar layak, sehat memiliki akar yang dalam di Suku Mairasi, sehingga tak mudah mengubahnya begitu saja. Sejak itu, Oktovina tak lagi bersikeras memaksa bayi-bayi tertangkup baju bayi hangat. Namun ia berhasil mengajarkan dukun di sana untuk memahami persalinan yang bisa menyelamatkan bayi dan ibu.

Oktovina meninggalkan lokasi suku Mairasi bawah di tahun 2006, sebelumnya ia mendapati sejumlah persalinan yang berakhir kematian karena kesalahan penanganan. “Ini terjadi pada ibu muda dengan bayi pertama. Karena proses melahirkan tak berjalan lancar, ia di urut paksa. Atau misalnya,  pintu bukaan di sobek sehingga perdarahan,” jelasnya.

Baca juga: Pesan Foto Wisuda ala Kaleng Khong Guan

Suku Mairasi

Suku bangsa Mairasi atau yang berarti asli adalah suku pedalaman yang hidup berpindah-pindah, dengan populasi sekitar 3000 jiwa. Suku Mairasi bisa menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk menemukan wilayah baru. Setelah pergantian abad kegelapan ke era misionaris Kristen di Papua, suku Mairasi mulai mendiami Teluk Arguni hingga ke Teluk Triton dan Teluk Wondama di daerah leher burung Papua.

Meskipun memeluk Kristen, namun warga suku Mairasi tetap mempertahankan adat secara konsisten. Adat melingkupi mereka mulai kelahiran, pernikahan, bermasyarakat hingga kematian.  

Dalam keseharian, sebagian warga masih mengenakan cawat kayu tumbuk, gelang wawur—dari jumbai kayu—berwarna hitam yang diambil ditempat-tempat keramat, tas dari kulit kayu. “Saat lahir kan telanjang, lalu mengapa harus pakai baju? Jadi baju hanya dipakai saat ke gereja,” tutur Oktovina.

Mengenakan baju, sandal, bersekolah, ke gereja, mencari kerja kemudian menjadi bagian dari pergulatan adat suku Mairasi. Pince dan keluarganya menunjukkan bagaimana kehidupan mereka beranjak mendekati modernisasi dengan tarikan adat yang kuat. Pince, menempuh sekitar 150 kilometer berjalan kaki dari Kampungnya Mairasi bawah menuju Kota Teluk Wondama. Ia berjalan kaki karena anak-anak suku Mairasi selalu berjalan kaki menyusuri hutan.

Om Obet, seorang guru pedalaman menantang saya menyusuri hutan menuju pedalaman Mairasi.

“Jaraknya?”

“Tidak jauh, satu hari saja, nanti sambung pakai mobil perusahaan, yah kira-kira 80 kilometer..” jawabnya enteng. Glek..saya merasa melayang.

Jarak itu tak jauh bagi Pince, ibu muda dengan dua kaki di dua dunia ; adat dan modern. Ia misalnya kemana-mana dengan baju kaus, namun celana dalamnya tetap cawat kayu tumbuk.

Ia membawa tas kayu tumbuk yang berisi sirih. Pince tak boleh bertanya pada lelaki apa yang akan dilakukan lelaki itu. Perempuan hanya boleh bertanya pada perempuan (bila terkait pekerjaan perempuan) dan lelaki pada lelaki tentang pekerjaan lelaki. Sebaliknya, saya bertanya tentang apapun, pada siapapun, tak peduli lelaki atau perempuan.

Pria-pria Mairasi memperlakukan kesantunan untuk tidak menganggu gadis-gadis Mairasi. Bila itu terjadi maka denda dikenakan. Dalam tarikan modern yang luar biasa, sebagian pria Mairasi meninggalkan kampungnya dan bersekolah, namun tetap dengan tas kulit kayu tempat menyimpang pinang.

Suku Mairasi dikenal sebagai suku yang baik hati. Mereka menggunakan sistem sama rata dalam bermasyarakat. Hasil buruan rusa misalnya wajib dipotong dan dibagi rata terhadap seluruh warga, tidak terbatas pada kerabat. Bila dalam satu rumah terdapat 5 anggota keluarga, plus janin dalam kandungan, maka si pembagi  menyerahkan 6 bagian daging yang jumlahnya sama rata pada keluarga tersebut.  

Baca juga: Kisah Destri, Remaja Berparas Cantik Asal Konsel yang Pilih Masuk Islam

Rokok, Gelang dan Hutan

Tembakau linting dan gelang merupakan dua hal yang penting dalam proses penjajakan muda mudi di Suku Mairasi. Lelaki dan perempuan Mairasi yang jatuh cinta menunjukkan cinta mereka dengan cara bertukar rokok atau saling memberikan gelang. Selanjutnya bisa ditebak, pria mengajukan lamaran dan untuk menyunting gadis idamannya Ia wajib membayar mahar yang mahal…mahal sekali.

Pria Mairasi boleh menikahi 2-3 perempuan dan menempatkannya dalam satu rumah sekaligus. Bagi  perempuan Mairasi, berbagi lelaki bisa berarti meringankan beban perempuan. Sedang bagi lelaki, memiliki banyak perempuan menunjukkan kekuatan mereka.

“Masalahnya jumlah kelahiran anak di suku Mairasi amat kecil, belum ada penelitian soal hal ini,” kata Oktovina.

Hutan sendiri merupakan segalanya bagi suku Mairasi. Hutan tak hanya memberikan ruang bagi kelahiran bayi-bayi anak suku Mairasi, tapi sekaligus menjadi tempat dimana percintaan dilakukan. Pasangan suami istri menuju ke hutan untuk bersenggama, mereka ke hutan untuk mencari makan, ke hutan untuk ritual kematian dan ke hutan untuk kelahiran.

Ibu Pince, Mama Tua, yang hidup berdekatan dengan kesibukan lalulintas jalan raya dan deru kendaraan bermotor, melakukan satu hal secara tetap; menuju ke hutan, kadang berjalan kaki empat hari hanya untuk mencari akar kayu, kulit kayu, tumbuhan-tumbuhan untuk makanan mereka.  

Bayi Pince yang lahir di hutan juga merupakan lambang bagaimana hutan tidak sekadar diciptakan untuk membuat suku ini bertahan di tengah desakan modernisasi dan perambahan, tapi juga menunjukkan kekuatan yang terus memanggil anak-anak suku Mairasi untuk pulang dan dikembalikan ke tempatnya.

Isu utama kemudian bukan saja tentang rasionalitas atau aturan dalam ilmu-ilmu medis, melainkan tentang sebuah dunia hutan yang kini berada dalam tekanan tambang, sawit dan pembukaan lahan untuk kebutuhan pemukiman.

Bayi perempuan mungil Pince yang lahir di hutan berusia 4 hari pada tanggal 9 April 2013. Karena dua amber—orang luar yang bukan suku Mairasi—berkunjung dan memegang jemari mungilnya maka keluarga bermurah hati memberikan kehormatan mengenakan nama dua amber pada bayi milik hutan ini, dan nama itu itu adalah: Indarwati Wahyuni, nama teman dan saya.

Nama itu akan melekat hingga pembaptisan Kristennya, dan dikenang sebagai nama modern di anak suku Mairasi. Segera setelah pemberian nama itu, saya digetarkan oleh respek, cinta dan semilir bau hutan. (*)