Keberadaan Anak Jalanan di Kendari Tidak Mengusik Predikat KLA

Musdar

Reporter

Rabu, 05 Februari 2020  /  6:59 pm

Musdar Penggiat Sosial

Penulis: Musdar
Penggiat Sosial

Siapa yang tak tau bahwa Kota Kendari sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) telah menggandeng predikat Kota Layak Anak (KLA). Semua tahu bukan ?

Bagaimana tidak, sejak kota yang dijuluki kota bertakwa ini mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen PPPA) media cetak maupun elektronik ramai-ramai memberikan, bahkan tidak jarang terlihat ada ucapan selamat atas penghargaan yang diraihnya.

Pemberitaan tersebut, sontak membuat 370.728 (Data BPS 2017) penduduk Kota Kendari diantaranya tahu bahwa Kota Kendari sebagai KLA, apa yang ada dibenak masyarakat saat tahu bahwa kota yang ditinggalinya meraih penghargaan itu.

Tak ada anak-anak kelaparan lagi? Taka ada terlantar? Tak ada eksploitasi terhadap anak atau tak ada lagi anak-anak yang putus sekolah ?

Tapi tahukah bahwa salah satu indikator di antaranya Pemerintah Kota menghadirkan taman-taman bermain dan membangun pojok ASI disetiap kelurahan sehingga fasilitas anak dapat terpenuhi (semoga tidak salah).

Apa mungkin tak memiliki pengaruh dengan keberadaan anak jalanan yang setiap saat dapat kita jumpai mereka keluyuran, tak kenal waktu baik siang hari maupun di malam hari, siapakah orang tua mereka ? Adakah yang peduli kepada mereka.

Diusianya mereka yang mestinya belajar dan bermain, malah harus bekerja, bahka tidur di emperan atau di sudut jalan kotaku ini.

Tentu dalam persepsi saya realita dapat mengusik status Kota Kendari sebagai KLA, tidak seperti itukah ? Ini hanya sebatas opiniku, bagaimana dengan masyarakat lain yang melihat dan mungkin sesekali waktu ada yang menyambangi bahkan memberikan makanan.

Kenapa kamu ada disini dek, mana orang tuamu ? Tanyaku saat melihat anak itu beberapa waktu lalu.

Saya berharap Pemerintah Kota Kendari dapat melihat mereka dan bertindak sebagaimana mestinya yang harus dilakukan, agar publik tak bertanya-tanya, mendapat anak jalanan bebas di Kota Kendari.

Sedikit cerita, malam itu saya melintasi jalan-jalan di kota ini, saya masih melihat mereka (anak-anak) duduk di badan jalan sekitar (Mts Ummussabri dan depan kantor Telekomunikasi (Telkom) mereka duduk sembari melihat-melihat kendaraan yang lalu-lalang. Usianya masih begitu muda, ada yang usianya 6 tahun (kira-kira).

Bukan hanya di dua tempat ini, kerap muncul di kawasan lampu merah (pernah menjumpai di lampu merah GMT) untuk meminta uang dari pengguna jalan.

Saya berharap keberadaan anak jalanan tidak ditunggangi oknum tertentu demi mencari keuntungan.

Mengatasi problem ini tentu ini tidak hanya menjadi tugas pemerintah kota, Pemerintah Kota (Maret 2019) telah melakukan kampanye stop memberikan uang ke anak jalanan dengan menempelkan stiker di kendaraan yang melintas.

Tinggal bagaimana masyarakat bersama-sama mendukung kampanye itu agar keberadaan anak jalan di Kota Kendari ini dapat diselesaikan.


Terimakasih, mohon maaf bila dalam penulisan ada terdapat kekeliruan.