Macron Buka Jalur Dialog ke Rusia, Eropa Diminta Tak Lagi Bergantung ke Amerika

Ahmad Jaelani

Reporter

Rabu, 11 Februari 2026  /  8:31 pm

Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss. Foto: Xinhua/Lian Yi

PARIS, TELISIK.ID - Dinamika hubungan Eropa dan Rusia memasuki babak baru setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa saluran dialog dengan Moskow telah dipulihkan pada tingkat teknis.  

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta kekhawatiran sejumlah negara Eropa terhadap ketergantungan keamanan dan ekonomi pada pihak luar. Sejumlah media Eropa melaporkan, langkah ini diposisikan sebagai upaya membangun kembali komunikasi yang terukur tanpa memicu eskalasi politik.

Melansir dari Xinhua, Rabu (11/2/2026), Macron mengonfirmasi pembukaan kembali komunikasi tersebut sebagai bagian dari pendekatan diplomatik yang lebih terkendali. Dialog teknis dinilai menjadi ruang awal untuk menjaga stabilitas, terutama ketika situasi keamanan kawasan menghadapi tekanan dari berbagai arah.  

Baca Juga: Unik: Arab Saudi Luncurkan Paspor Resmi untuk Jutaan Unta

Pemerintah Prancis menekankan bahwa komunikasi itu bersifat fungsional dan tidak serta-merta mencerminkan perubahan sikap politik yang lebih luas.

Harian Jerman Suddeutsche Zeitung mengutip pernyataan Macron dalam sesi wawancara pada Senin, 9 Februari. Ia menyebut proses tersebut diharapkan dapat dikonsultasikan dengan mitra-mitra Eropa agar menghasilkan kebijakan bersama yang terkoordinasi.  

Macron mengatakan dialog dengan Rusia seharusnya dilakukan “tanpa melibatkan terlalu banyak pihak,” guna menjaga efektivitas komunikasi dan menghindari proses yang berlarut-larut.

Pendekatan itu sekaligus menandai upaya Prancis untuk memperkuat posisi Eropa sebagai aktor mandiri dalam diplomasi kawasan. Surat kabar Le Figaro melaporkan bahwa Macron kembali menegaskan penolakannya terhadap “pendelegasian” dialog tersebut kepada Amerika Serikat.  

Menurut laporan itu, ia menilai Eropa perlu berbicara langsung atas nama kepentingannya sendiri, tanpa menyerahkan inisiatif kepada kekuatan eksternal.

Baca Juga: Wanita Dipaksa Hubungan Intim dengan Pria Berkebutuhan Khusus, Ditonton Langsung Ibu Mertua Kebelet Cucu

Situasi tersebut berkembang seiring krisis Greenland yang turut memicu diskusi strategis di kawasan. Dalam pemberitaan Le Monde, Macron menyerukan masyarakat Eropa agar tidak terjebak pada sikap pasif. Ia memperingatkan agar publik tidak menyerah pada apa yang disebutnya sebagai “rasa lega (karena sikap) pengecut” yang hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan persoalan mendasar.

Macron juga menyinggung tekanan yang datang dari Amerika Serikat dalam berbagai isu kebijakan ekonomi dan keamanan. Ia menekankan bahwa Eropa harus menunjukkan ketegasan. Dalam laporan tersebut, ia menyatakan bahwa ancaman dari AS terjadi setiap hari dan Eropa tidak boleh mundur atau berkompromi ketika menghadapi “agresi terang-terangan.”

Selain jalur diplomasi, Macron mendorong penguatan sektor industri sebagai bagian dari ketahanan kawasan. Ia mengusulkan respons terkoordinasi di tingkat Uni Eropa untuk melindungi industri strategis melalui kebijakan “preferensi Eropa.” Sektor yang disebut meliputi teknologi bersih, kimia, baja, otomotif, serta pertahanan, yang dinilai memiliki peran penting dalam daya saing jangka panjang. (Xinhua)

Penulis: Ahmad Jaelani

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS