Maulid Nabi Momentum Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW

Merdiyanto

Content Creator

Sabtu, 22 Agustus 2026  /  8:10 am

Maulid adalah kesempatan merefleksikan sifat-sifat kepemimpinan profetik Rasulullah SAW agar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Foto: Repro MMC Kalteng

JAKARTA, TELISIK.ID - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal setiap tahun menjadi momentum berharga bagi umat Islam untuk tidak sekadar mengenang kelahiran Sang Rasul, melainkan meneladani kepemimpinan beliau yang agung dan relevan sepanjang masa.

Maulid adalah kesempatan merefleksikan sifat-sifat kepemimpinan profetik Rasulullah SAW agar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, masyarakat, hingga kepemimpinan bangsa.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS Al-Ahzab: 21).

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa seluruh aspek kehidupan Rasulullah, termasuk kepemimpinannya, patut diteladani, dilansir dari liputan6.com, Jumat (21/8/2026) .

Dalam QS At-Taubah ayat 128, Allah menggambarkan empat sifat utama beliau sebagai pemimpin: berat terasa olehnya penderitaan umat, sangat menginginkan keselamatan dan keimanan mereka, serta bersikap ra’uf (penyantun) dan rahim (penyayang) terhadap orang-orang beriman.

Ciri Utama Kepemimpinan Rasulullah

Para ulama dan pengamat menyoroti beberapa sifat kepemimpinan Rasulullah yang menonjol.

Beliau dikenal dengan empat sifat kenabian yakni siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas).

Baca Juga: Hukum Menggunakan Uang Pendaftaran Lomba sebagai Hadiah, Ini Penjelasan Ulama

Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah digelari Al-Amin (yang terpercaya) karena kejujuran dan integritasnya.

Kepemimpinan beliau bersifat melayani. Rasulullah selalu berada di tengah umatnya: mengajar, membantu, dan membimbing tanpa mengejar kenyamanan pribadi.

Beliau hidup sederhana, tidur di atas tikar, membantu pekerjaan rumah, dan makan bersama sahabat tanpa merasa lebih tinggi. “Pemimpin sejati adalah pelayan umat,” demikian prinsip yang sering digarisbawahi dari sirah nabawiyah.

Selain itu, beliau mengedepankan musyawarah (syura), keadilan, kesabaran, keberanian, dan empati yang tinggi.

Dalam membangun masyarakat Madinah, Rasulullah berhasil menciptakan tatanan yang adil, toleran, dan sejahtera melalui Piagam Madinah, salah satu konstitusi tertulis paling awal dalam sejarah. Beliau memimpin dengan keteladanan nyata, bukan sekadar perintah.

Maulid sebagai Momentum Refleksi dan Aksi

Dalam konteks kepemimpinan modern, nilai-nilai ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan moral, sosial, dan integritas.

Pemimpin ideal menurut teladan Rasulullah memiliki kekuatan (al-quwwah), ketakwaan (at-taqwa), dan kelembutan terhadap rakyat (al-rifq bi ar-ra’iyyah).

Maulid mengingatkan agar kepemimpinan tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, melainkan membawa keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian, dilansir dari NU Online, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: Hukum Potongan Rambut Qaza dalam Islam dan Penjelasan Haditsnya

Cara praktis meneladani kepemimpinan Rasulullah di momentum Maulid antara lain: menegakkan kejujuran dalam setiap urusan, bersikap rendah hati, sabar dalam menghadapi tantangan, peduli terhadap penderitaan orang lain, serta menerapkan prinsip keadilan dan musyawarah di lingkungan masing-masing.

Dengan meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW, diharapkan umat Islam baik sebagai individu maupun pemimpin di berbagai level mampu menghadirkan rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat.

Maulid Nabi menjadi pengingat bahwa cinta sejati kepada Rasul terwujud melalui pengamalan akhlak dan sunnah beliau dalam kehidupan nyata. (C)

Penulis: Merdiyanto

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS