Migrasi Pengguna Pertamax ke Pertalite Bikin Subsidi BBM Anjlok Rp 19,5 Triliun, Begini Penjelasannya

Ahmad Jaelani

Reporter

Senin, 15 Juni 2026  /  11:06 am

Migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite dipicu selisih harga, berpotensi menambah beban subsidi energi nasional. Foto: Repro Antara

JAKARTA, TELISIK.ID - Kenaikan harga Pertamax memicu potensi migrasi ke Pertalite, memunculkan tekanan fiskal subsidi energi hingga puluhan triliun rupiah pada APBN 2026 Indonesia tahun ini

Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter memunculkan perhatian terhadap potensi pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM bersubsidi Pertalite yang dijual Rp 10.000 per liter.

Selisih harga yang semakin lebar dinilai menciptakan insentif ekonomi bagi sebagian konsumen untuk berpindah jenis bahan bakar.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menyebut tekanan pada fiskal energi sudah terlihat dari tingginya realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi sejak awal tahun.

"Hingga Mei 2026, belanja subsidi dan kompensasi energi naik menjadi sekitar Rp 203,7 triliun atau 45,6?ri pagu APBN, artinya ruang fiskal energi sudah padat sebelum risiko migrasi diperhitungkan penuh," ucapnya, seperti dikutip dari SindoNews, Senin (15/6/2026).

Baca Juga: Mau Beli Pertalite dan Biosolar? Berikut Cara Daftar Barcode BBM Subsidi Pertamina 2026

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan keterbatasan ruang fiskal pemerintah dalam mengelola subsidi energi, terutama jika terjadi pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite dalam skala besar.

Data yang disampaikan menunjukkan hingga April 2026, realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp 153,1 triliun. Sementara itu, kuota Pertalite tahun ini ditetapkan sebesar 29,27 juta kiloliter, dengan konsumsi Pertamax diperkirakan berada pada kisaran 6,4 juta hingga 7 juta kiloliter per tahun.

Dalam simulasi kebijakan, setiap liter BBM bersubsidi diperkirakan memiliki beban implisit sekitar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per liter. Dengan selisih harga Pertamax dan Pertalite yang mencapai Rp 6.250 per liter, terdapat potensi kuat bagi konsumen untuk melakukan migrasi konsumsi.

Jika perpindahan pengguna terjadi sebesar 20 persen, tambahan beban subsidi energi diperkirakan berada pada kisaran Rp 3,8 triliun hingga Rp 6,5 triliun per tahun.

Baca Juga: Daftar Perubahan Harga BBM di Semua SPBU Indonesia Terbaru 2026, Naik Tertinggi Rp 27.900

Namun, apabila migrasi mencapai 60 persen, beban fiskal dapat meningkat hingga sekitar Rp 11,5 triliun hingga Rp 19,5 triliun per tahun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah belum menghitung secara khusus dampak migrasi tersebut terhadap subsidi energi. Ia menilai tidak seluruh pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite karena pertimbangan kebutuhan dan spesifikasi kendaraan masing-masing.

Pemerintah saat ini masih memantau perkembangan konsumsi BBM di lapangan untuk mengantisipasi potensi tekanan tambahan pada APBN 2026. Penyesuaian kebijakan serta penguatan data distribusi subsidi disebut menjadi opsi yang terus dikaji agar beban fiskal tetap terkendali sesuai target anggaran negara. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS