Modus Baru Penipuan Kuras Rekening Lewat Video Pendek di TikTok dan Instagram, Begini Penjelasannya

Ahmad Jaelani

Reporter

Kamis, 18 Juni 2026  /  10:38 am

Modus penipuan digital kini menyebar melalui video TikTok dan Instagram yang tampak meyakinkan. Foto: Repro Kilkdokter

JAKARTA, TELISIK.ID - Maraknya konsumsi video pendek di media sosial, pelaku kejahatan siber kini memanfaatkan TikTok dan Instagram Reels untuk menyebarkan malware pencuri data yang berpotensi menguras rekening korban.

Temuan terbaru dari perusahaan riset keamanan siber ReversingLabs mengungkap adanya pola baru penipuan digital yang memanfaatkan video pendek sebagai sarana penyebaran perangkat lunak berbahaya. Modus ini dinilai berbeda dari metode phishing konvensional yang selama ini banyak dilakukan melalui email maupun pesan singkat.

Dalam praktiknya, pelaku mengunggah video yang menawarkan akses gratis terhadap berbagai layanan berbayar. Beberapa layanan yang kerap dijadikan umpan antara lain Spotify Premium, Microsoft Word, hingga aplikasi premium lainnya yang banyak digunakan masyarakat.

Video-video tersebut dikemas dalam bentuk tutorial sederhana yang terlihat meyakinkan. Narasi yang digunakan umumnya disampaikan melalui suara berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sehingga tampak profesional dan mudah dipercaya oleh pengguna media sosial.

Melansir dari CNBC Indonesia, Kamis (18/6/2026), Peneliti menemukan sedikitnya dua pola kampanye yang digunakan pelaku. Pola pertama memanfaatkan akun tutorial palsu yang sengaja dibuat menyerupai akun resmi atau akun dukungan teknis suatu layanan. Nama akun yang digunakan dibuat sedemikian rupa agar terlihat kredibel dan mudah dikenali pengguna.

Baca Juga: Nama Wali Kota Kendari Dicatut, Pemkot Keluarkan Peringatan Keras Modus Penipuan Berkedok Proyek dan Jabatan

Beberapa akun bahkan menggunakan identitas visual dengan dominasi warna biru dan putih yang menyerupai tampilan resmi layanan tertentu. Melalui video yang diunggah, pengguna diarahkan mengikuti sejumlah langkah untuk memperoleh akses gratis terhadap layanan premium.

Di balik instruksi tersebut, pelaku ternyata menyisipkan malware bernama VidarStealer. Malware ini dikenal sebagai perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk mencuri berbagai data penting yang tersimpan di perangkat korban.

Data yang menjadi sasaran meliputi kredensial akun, kata sandi, informasi keuangan, data dompet digital, hingga token autentikasi yang memungkinkan pelaku memperoleh akses ke berbagai layanan milik korban.

Menurut hasil penelitian ReversingLabs, akses terhadap malware tersebut dapat diperoleh dengan biaya sekitar 300 dolar Amerika Serikat atau setara Rp5,3 juta. Biaya yang relatif terjangkau itu membuat penyebaran malware semakin mudah dilakukan oleh pelaku kejahatan siber.

Selain akun tutorial palsu, peneliti juga menemukan pola kedua yang memanfaatkan video-video pendek yang sedang populer di media sosial. Video tersebut tampak seperti unggahan biasa yang mengikuti tren, namun di dalamnya terdapat ajakan untuk mendapatkan layanan premium secara gratis.

Akun penyebar konten umumnya terlihat seperti akun pengguna biasa. Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, sebagian besar unggahannya berisi promosi serupa yang menawarkan akses gratis terhadap berbagai perangkat lunak berbayar.

Pelaku kemudian memanfaatkan interaksi pengguna melalui kolom komentar. Korban yang tertarik biasanya akan menanyakan cara memperoleh layanan gratis tersebut. Pertanyaan itu kemudian dibalas dengan petunjuk atau tautan yang mengarahkan pengguna menuju situs berbahaya.

Baca Juga: Diduga Penipuan Take Over Mobil, Tenaga Kesehatan di Muna Alami Kerugian Puluhan Juta Rupiah

Melalui metode tersebut, pelaku tidak perlu mengirimkan pesan secara langsung kepada calon korban. Sebaliknya, mereka memanfaatkan algoritma media sosial agar konten yang dibuat dapat menjangkau lebih banyak pengguna secara organik.

ReversingLabs mengingatkan bahwa pengguna yang memberikan tanda suka, menyimpan, atau membagikan video semacam itu tanpa sadar turut membantu memperluas penyebaran konten berbahaya kepada pengguna lainnya.

Karena itu, pengguna TikTok dan Instagram diimbau lebih berhati-hati terhadap berbagai tawaran layanan premium gratis yang beredar di media sosial. Pengguna juga disarankan menghindari tautan dari akun tidak dikenal serta memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan digital. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS