Ojek Perahu, Memilih Bertahan di Bawah Megahnya Jembatan Teluk Kendari

Musdar

Reporter

Minggu, 19 September 2021  /  8:32 am

La Ode Alifu (bagian depan), papalimbang yang memilih bertahan di tengah sepinya penumpang sejak hadirnya Jembatan Teluk Kendari. Foto: Ist.

KENDARI, TELISIK.ID - Setelah Jembatan Teluk Kendari diresmikan pada 22 Oktober 2020, sebanyak 30 ojek perahu atau papalimbang di Dermaga Lapulu, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, harus memutar otak bagaimana menyambung hidup.

Bagaimana tidak, hadirnya jembatan sepanjang 1,349 kilometer membuat 30 ojek perahu nyaris kehilangan pekerjaan yang sudah dijalani selama puluhan tahun.

Namun dari mereka, ada yang tidak memiliki pilihan lain, sehingga terpaksa harus bertahan sebagai ojek perahu di bawah megahnya Jembatan Teluk Kendari.

La Ode Alifu (55) salah satunya. Ia memilih  bertahan menjadi ojek perahu walaupun untung-untungan ada yang mau menumpangi perahunya.

"Teman-teman sudah banyak yang kerja di tempat lain. Saya di sini saja walupun hasilnya kadang-kadang. Belum ada juga pekerjaan lain yang bisa dikerja," katanya, Sabtu (18/9/2021).

"Kita tunggu-tunggu saja di dermaga, kalau ada muatan kita angkut," tambahnya.

Baca juga: Butuh Uluran Tangan, Bocah Buteng Idap Pembengkakan Kepala dan Badan Membengkok

Ayah 6 anak ini mengungkapkan, pekerjaannya sebagai ojek perahu sudah ia jalani selama 39 tahun atau sejak 1982.

"Sejak 39 tahun sampai sekarang sudah bercucu," ungkapnya.

Menjadi ojek perahu dengan tarif sekali antar Rp 5 ribu - Rp 10 ribu dari Dermaga Lapulu - Dermaga Sanggula di Kota Lama, La Ode Alifu bisa mendapatkan Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per harinya.

Dari hasil ojek perahunya, perantau asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara ini bisa menghidupi istri beserta enam anak-anaknya.

Namun, jembatan yang dibangun di era kepemimpinan Gubernur H Nur Alam 2015-2020 ini seketika membuat ojek perahu nyaris tidak dibutuhkan lagi.

"Sekarang tidak menentu. Kadang dalam sehari ada muatan, kadang juga tidak ada. Syukur-syukur ada dalam kondisi begini kasian," keluhnya.

Baca juga: Suyanto, Pedagang Roti Keliling yang Rela Jalan Kaki Puluhan Kilometer Setiap Hari

Meski tak seperti sebelum ada jembatan, La Ode Alifu tetap bertahan dengan pekerjaannya sebagai ojek perahu atau banyak orang menyebutnya papalimbang.

"Tetap saya jalani saja seperti ini," katanya.

Saat ini, tarif papalimbang tidak menentu, tergantung kesepakan antara penumpang dengan papalimbangnya.

Sementara itu, salah seorang penumpang, Tiwi (23) berharap papalimbang dapat tetap bertahan meski harus melintas di bawah jembatan yang dibangun dengan anggaran mencapai Rp 804 miliar itu.

Menurutnya, naik ojek perahu jauh lebih menyenangkan karena bisa menikmati keindahan teluk serta sejuknya sunset.

"Papalimbang harus tetap ada. Masyarakat yang mau berwisata sambil menikmati sunset bisa naik perahu," katanya. (B)

Reporter: Musdar

Editor: Haerani Hambali