Peran Penting Masjid Rotowijayan dalam Perjalanan Sejarah Kraton Mataram

Affan Safani Adham

Reporter Yogyakarta

Jumat, 14 Agustus 2020  /  11:07 am

Masjid Kagungan Dalem Rotowijayan ada kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Yogyakarta. Foto: Ist.

YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Kota Yogyakarta memiliki berbagai keistimewaan, terutama tentang adat budayanya. Di kota ini, budaya Islam menjadi sangat kental dan kuat sebagai budaya yang mendampingi budaya Jawa yang ada. Hal itu tampak jelas dalam berbagai bentuk ornamen dan situs budaya yang ada.

Salah satunya adalah masjid Kagungan Dalem Rotowijayan atau yang lebih dikenal dengan sebutan masjid Keben, yang terletak di lingkungan sisi barat Kraton Yogyakarta.

Masjid ini terletak di Jalan Rotowijayan. Dan masjid ini berbeda dengan Masjid Gedhe Mataram Kotagede. Karena memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kraton Mataram.

Masjid gagah dan kokoh ini punya erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Yogyakarta.

Dalam catatan yang tertera di lingkungan masjid, diterangkan masjid ini tempat pertahanan para prajurit pihak Inggris menyerang Kraton Yogyakarta, yang kemudian dikenal Geger Spey.

Dari serambi masjid inilah komandan pasukan Inggris kolonel Galapsy tertembak pada bahunya.

Masjid ini dibangun pada 2 April 1792, pada masa pemerintahan HB II. Dalam catatan sejarah, pada tanggal 17 Agustus 1826 masjid ini dipergunakan untuk menyemayamkan jenazah KGPAD Mangkudiningrat yang merupakan putra kesayangan HB II.

Masjid Suronatan (Rotowijayan) memiliki bangunan yang jauh lebih kecil, seperti mushola. Letaknya di depan pintu gerbang masuk Kamandungan Lor (Keben) Keraton Yogyakarta, sedikit serong ke selatan.

Awalnya, masjid ini dulunya dihuni oleh Abdi Dalem Suranata. Yakni, Abdi dalem yang berasal dari golongan santri yang merangkap menjadi prajurit keraton. Dan hingga saat ini, Masjid Suronatan masih aktif digunakan untuk keperluan ibadah salat lima waktu. Terlebih letaknya yang berada di dekat wisata Kraton Yogyakarta membuat masjid ini selalu dipenuhi oleh pengunjung pada jam-jam salat.

Selain diperuntukkan bagi pengunjung wisata museum Kraton Yogyakarta, sehari-harinya masjid ini juga aktif digunakan oleh masyarakat dari warga RW 11-15 Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kraton. Yogyakarta.

Baca juga: Kompaknya Islam, Kristen, dan Yahudi Haramkan Riba

Oleh warga sekitar, masjid ini disebut juga dengan Masjid Keben karena letaknya berada di dekat pohon Keben. Adapun salah satu ciri khas yang menunjukkan hubungan dekat antara masjid ini dengan Kraton Yogyakarta adalah pada papan namanya. Papan nama masjid ini selain ditulis menggunakan bahasa Indonesia, juga dituliskan menggunakan huruf Jawa.

Seperti disampaikan Agus Hidayat, marbot Masjid Kagungan Dalem Rotowijayan, kegiatan dalam masjid ini selalu ada dan rutin dilakukan, baik pengajian rutin maupun kegiatan lain. "Jika untuk melakukan ibadah masjid ini bisa menampung sekitar dua ratus orang  jamaah," kata Agus, Jum'at (14/8/2020).

Dalam komplek masjid ini juga terdapat makam Kiai Driyoijoyo, seorang abdi dalem yang bertugas memayungi KGPAD Mangkudiningrat.

Dalam masa perjuangan kemerdekaan, masjid ini juga menjadi basis perjuangan para pejuang.

Ditambahkan Solichi, seorang pengunjung yang mengetahui sejarah keberadaan masjid ini, karena sudah berusia puluhan tahun masjid ini telah mengalami berbagai renovasi. "Tetapi, perbaikan tidak menghilangkan arsitektur asli dan memiliki ciri khas Kraton Yogyakarta, baik dari warna, bentuk bangunan dan suasana yang ada," terangnya.

Masjid seluas 500 meter persegi ini, diterangkan Pengageng Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta, KRT H Jatiningrat, SH, dibangun untuk memperingati jumenengan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono II. "Waktu itu namanya masjid Suronoto atau Suronatan," tandasnya.

Mengapa demikian? "Karena yang bertugas menunggu dan merawat masjid tersebut adalah abdi dalem Suronoto," papar KRT Jatiningrat.

Menurutnya, tugas utama abdi dalem ini adalah mengurusi dan merawat pusaka-pusaka milik keraton.

Selain itu, abdi dalem Suronoto juga dipercaya mendalami masalah-masalah yang bersifat agama bersama abdi dalem Kaji.

Namun, tugas pokoknya tetap memelihara atau ngruwat semua pusaka milik keraton.

Reporter: Affan Safani Adham

Editor: Haerani Hambali