adplus-dvertising

Kompaknya Islam, Kristen, dan Yahudi Haramkan Riba

Muhammad Israjab, telisik indonesia
Jumat, 07 Agustus 2020
1228 dilihat
Kompaknya Islam, Kristen, dan Yahudi Haramkan Riba
Persoalan riba bukan hanya dalam ajaran Islam. Namun Yahudi dan Kristen juga melarang riba. Foto: Repro Google.com

" Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. "

KENDARI, TELISIK.ID - Riba bukan cuma persoalan masyarakat Islam. Namun berbagai kalangan di luar Islam pun memandang serius persoalan riba.

Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam.

Persoalan riba, telah menjadi kajian termasuk kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba.


Dalam Islam, mengambil riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram.

Hal ini secara tegas diungkapkan dalam Al-quran Surat Al Baqarah ayat 275 :

"Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."

Dilansir dari republika.co.id, ajaran agama Yahudi melarang praktek pengambilan bunga.

Pelarangan ini banyak terdapat dalam kitab suci agama Yahudi, baik dalam Perjanjian Lama maupun undang-undang Talmud.

Baca juga: Amalan Hari Tasyrik 1-3 Agustus 2020, Haram Puasa Tiga Hari

Kitab Exodus (Keluaran) pasal 22 ayat 25 menyatakan: Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang ummatku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia, janganlah engkau bebankan bunga terhadapnya.

Kitab Deuteronomy (Ulangan) pasal 23 ayat 19 menyatakan: Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan, atau apa pun yang dapat dibungakan.

Namun, Kitab Perjanjian Baru tidak menyebutkan permasalahan ini secara jelas. Hanya saja, sebagian kalangan Kristiani menganggap bahwa ayat yang terdapat dalam Lukas 6:34-5 sebagai ayat yang mengecam praktek pengambilan bunga.

Ayat tersebut menyatakan :

Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu daripadanya, apakah jasamu?

Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.

Namun, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Tuhan Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Ketidaktegasan ayat tersebut mengakibatkan munculnya berbagai tanggapan dan tafsiran dari para pemuka agama Kristen tentang boleh atau tidaknya orang Kristen mempraktikkan pengambilan bunga.

Berbagai pandangan di kalangan pemuka agama Kristen dapat dikelompokkan menjadi tiga periode utama, yaitu pandangan para pendeta awal Kristen (abad I hingga XII) yang mengharamkan bunga, pandangan para sarjana Kristen (abad XII - XVI) yang berkeinginan agar bunga diperbolehkan, dan pandangan para reformis Kristen (abad XVI - tahun 1836) yang menyebabkan agama Kristen menghalalkan bunga.

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Baca Juga