Perjuangan Seorang Pemulung, Melawan Terik Matahari Demi Mendapat Rupiah

Gede Suyana Sriski

Reporter

Jumat, 20 Februari 2026  /  2:34 pm

Asep, seorang pemulung yang berusia 53 tahun harus melawan panasnya matahari demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Foto: Gede Suyana Sriski/Telisik

KENDARI, TELISIK.ID - Di tengah terik panasnya Kota Kendari dengan deru kendaraan dan kesibukan warganya, Asep, seorang pemulung berusia 53 tahun, menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan.

Meski bagi sebagian orang mungkin ia hanya sekilas bayangan di tengah keramaian, namun hidup Asep menyimpan kisah tentang ketekunan dan semangat bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

Pria ini mengenakan pakaian sederhana dan topi untuk melindungi dirinya dari terik matahari, ia adalah salah satu dari sekian banyak pemulung di Kendari.

Setiap hari, mulai pagi hingga malam hari sambil mendorong gerobak tuanya, ia harus mengais sampah di berbagai sudut kota. Mengumpulkan barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan atau dijual.

Gerobaknya yang sudah penuh dengan barang-barang bekas dan botol-botol plastik yang dikumpulkan itu menunjukkan betapa kerasnya perjuangan hidup yang ia jalani.

Baca Juga: Panas dan Hujan jadi Teman Setia Ibu Pemulung di Kendari dalam Mengais Rejeki

"Ini pekerjaan saya, meskipun saya sudah tua, namun saya harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada lagi yang bisa saya andalkan kecuali diri saya sendiri," ujar Asep, Kamis (19/2/2026).

Ia telah puluhan tahun hidup menjalani profesi sebagai pemulung, bergantung pada barang-barang bekas yang ia kumpulkan. Asep tidak pernah memandang rendah pekerjaannya. Baginya, setiap benda yang dikumpulkan adalah sumber rezeki yang memberi kehidupan.

Tak jarang juga ia harus berjalan jauh menembus panasnya matahari, terpapar debu jalanan dan menghadapi hujan untuk mengumpulkan sampah di berbagai tempat. meskipun pekerjaannya sering dianggap rendah oleh sebagian orang, namun ia tidak pernah merasa malu.

"Saya tahu pekerjaan ini bukan pekerjaan yang orang lain inginkan. Tapi saya tidak bisa memilih. Kalau saya tidak bekerja, bagaimana saya bisa makan dan juga memenuhi kebutuhan saya sehari-hari," ungkapnya.

Di sepanjang jalan yang ia lalui, banyak pemulung lain yang menjalani kehidupan serupa, meskipun dengan berbagai latar belakang dan kisah hidup yang berbeda-beda.

Baca Juga: Cerita Pemulung di Kendari: Berjuang di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Saat sinar matahari mulai meredup, ia masih terus mendorong gerobaknya, menyusuri jalan-jalan yang semakin sepi. Di balik kesibukan kota, Asep tak terpengaruh oleh hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang.

Setiap langkahnya yang penuh tekad seakan menunjukkan bahwa, meskipun kehidupan seringkali sulit, harapan dan semangat untuk bertahan hidup tak akan pernah padam.

Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan dan setiap langkah adalah harapan untuk masa depan yang lebih baik. (C)

Penulis: Gede Suyana Sriski

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS