Personel Polres Bombana Lakukan Kekerasan pada Mahasiswa dan Warga Saat Demo Penolakan Industri PT SIP
Reporter
Rabu, 18 Februari 2026 / 4:44 pm
Salah satu masa aksi mendapatkan perlakukan kekerasan (leher dipiting) dari aparat kepolisian Polres Bombana, Rabu (18/2/2026). Foto: Ist.
KENDARI, TELSIK.ID - Puluhan mahasiswa dan masyarakat diduga mengalami tindakan kekerasan serta intimidasi oleh puluhan personel Polres Bombana, saat menggelar aksi damai di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara, pada Rabu (18/2/2026).
Berdasarkan rekaman video yang diterima telisik.id, terlihat jelas puluhan aparat kepolisian melakukan dugaan tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap massa aksi.
Apriansyah yang tergabung dalam massa aksi, mengungkapkan bahwa rombongan demonstran awalnya bergerak dari Desa Wumbubangka, Rarowatu Utara, dengan tujuan melanjutkan aksi ke Kantor Bupati dan Kantor DPRD Bombana.
Namun, di tengah perjalanan, iring-iringan mereka dihentikan aparat tepat di depan Mapolres Bombana, sehingga memicu ketegangan di lokasi.
Baca Juga: Telkomsel Gandeng Muslim Pro, Hadirkan Paket Bundling Ibadah di MyTelkomsel saat Ramadan
“Rencana mau ke kantor bupati dan kantor DPR, tapi kami diboikot di depan Polres. Langsung kapolresnya turun. Bahkan saat saya mau membela teman saya, saya diintimidasi dan diancam akan ditangkap juga,” ungkap Apriansyah saat dihubungi telisik.id.
Ia juga mengaku temanya sempat mendapatkan tindakan kekerasan dari aparat kepolisian.
“Hampir putus lehernya itu anak, ada polisi pukul bagian belakangnya. Arogan sekali ini kapolres,” katanya.
Selain itu, Apriansyah menyebut dua orang, termasuk sopir mobil sound system, turut diamankan aparat karena diduga membawa parang di dalam kendaraan.
Namun, ia menilai penahanan sopir beserta mobil sound system tersebut sebagai bentuk upaya pembungkaman dan sabotase terhadap jalannya aksi.
“Kami lagi aksi damai, tidak membuat macet lalu lintas, tidak bakar ban. Tapi tiba-tiba dipalang saat sampai di depan polres. Bahkan masyarakat disuruh pulang dan diancam,” ujar Apriansyah.
Sementara itu, Humas Polres Bombana, Ipda Abdul Hakim, saat dikonfirmasi terpisah membenarkan adanya pengamanan terhadap peserta aksi.
“Diamankan karena dia bawa parang,” kata Abdul Hakim melalui pesan WhatsApp.
Untuk diketahui, aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap rencana pembangunan kawasan industri oleh PT Sultra Industrial Park (SIP) di Desa Wumbubangka, Kabupaten Bombana.
Baca Juga: Lowongan Kerja: PT Yusen Makmur Mesindo Kendari Cari Sales dan Tenaga Akuntansi
Unjuk rasa ini digelar oleh Aliansi Masyarakat Bombana Bersatu sebagai wujud protes atas rencana investasi yang dinilai bermasalah.
Apriansyah menegaskan, penolakan warga berkaitan dengan proses pembahasan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) yang dianggap tidak transparan dan tidak melibatkan masyarakat terdampak.
Ia menyebut kehadiran PT ISP dikhawatirkan mengancam mata pencaharian warga, sementara pemerintah daerah dinilai belum memberikan jaminan maupun solusi konkret atas potensi dampak yang akan timbul.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait. (B)
Penulis: Gusti Kahar
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS