Polemik SKO Sultra: Sekolah Atlet Tanpa Kurikulum Khusus dan 10 Persen Siswa Undur Diri Tiap Tahun
Reporter
Sabtu, 10 Januari 2026 / 7:57 pm
Kepala SMAN Keberbakatan Olahraga Sultra, Sujarwin. Foto: Ana Pratiwi/Telisik
KENDARI, TELISIK.ID - Di tengah upaya membangkitkan prestasi olahraga, SMAN Keberbakatan Olahraga (SKO) Sulawesi Tenggara masih dihadapkan pada persoalan mendasar terkait sistem pendidikan, kurikulum, dan keberlanjutan masa depan atlet.
Kepala SMAN Keberbakatan Olahraga Sultra, Sujarwin, menyebut posisi SKO hingga kini masih berada di persimpangan antara sekolah umum dan sekolah olahraga.
Secara administratif, SKO tercatat sebagai SMA Negeri Keberbakatan Olahraga, namun masih menggunakan kurikulum SMA umum karena belum ada kurikulum khusus olahraga dari pemerintah pusat.
“Kami ini sekolah atlet, tapi pakai kurikulum SMA umum. Fokus jadi tidak jelas,” ujar Sujarwin kepada telisik.id, Rabu (7/1/2026)
Kondisi tersebut membuat siswa SKO menanggung beban ganda. Pada pagi hingga siang hari mereka mengikuti pelajaran akademik seperti matematika, fisika, dan kimia, sementara sore hari harus menjalani latihan olahraga.
Baca Juga: Jadwal Pelayaran KM Tilongkabila 11-17 Januari 2026
Beban ini membuat sebagian siswa tidak mampu bertahan hingga akhir masa pendidikan.
Sujarwin mengungkapkan, setiap tahun sekitar 10 persen siswa memilih mengundurkan diri setelah mengetahui tuntutan disiplin dan beban pembelajaran di SKO.
Persoalan lain muncul pada sistem seleksi atlet. Standar fisik atlet yang ideal, seperti tinggi badan, postur, dan kekuatan, sering kali tidak terpenuhi oleh calon siswa.
Banyak peserta didik baru belum memiliki dasar atletik yang matang dan baru mulai berlatih secara serius saat memasuki jenjang SMA.
“Seharusnya atlet itu sudah dibentuk sejak usia dini, bukan baru dimulai di SMA,” katanya, merujuk pada kebijakan pembinaan olahraga berjenjang dari kementerian terkait.
Di sisi internal, keterbatasan regulasi juga berdampak pada peran guru dan pelatih. Guru tetap dituntut memenuhi beban mengajar akademik sesuai aturan sertifikasi, sementara pelatih bekerja tanpa dukungan sistem kurikulum olahraga yang jelas.
Akibatnya, integrasi antara pembelajaran akademik dan pembinaan kecabangan sulit berjalan optimal.
Selain itu, Sujarwin menyoroti minimnya keberlanjutan karier atlet setelah lulus dari SKO.
Di Sulawesi Tenggara, belum tersedia ekosistem olahraga yang memadai, seperti industri olahraga atau pembina cabang yang dapat menjadi bapak angkat bagi atlet untuk melanjutkan pembinaan secara profesional.
Baca Juga: Jadwal Pelayaran KM Tilongkabila 11-17 Januari 2026
“Setelah tamat, mereka mau ke mana? Wadahnya hampir tidak ada,” ujarnya.
Kendala anggaran juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagai sekolah berasrama, SKO menanggung biaya operasional mulai dari konsumsi hingga kebutuhan dasar siswa.
Namun, jumlah siswa masih dibatasi sekitar 70 orang, sehingga ruang seleksi atlet ideal menjadi terbatas.
Menurut Sujarwin, akar persoalan SKO terletak pada belum adanya payung hukum dan kurikulum khusus olahraga.
Tanpa kejelasan arah kebijakan, sekolah akan terus berada dalam dilema antara mengejar prestasi olahraga dan menjaga standar akademik.
“Kalau dua-duanya dipaksakan jalan bersamaan, hasilnya bisa nol di akademik dan nol di prestasi,” pungkasnya. (C)
Penulis: Ana Pratiwi
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS