Hadapi Ujian Ramadan, Nurhayati Tetap Memulung di Kendari demi Senyum Anak di Hari Raya
Gede Suyana Sriski, telisik indonesia
Kamis, 26 Februari 2026
0 dilihat
Perjuangan dan kerja keras Nurhayati tetap ia lakoni dalam menghadapi ujian Ramadan dengan cara memulung. foto: Gede Suyana Sriski/Telisik
" Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh ketenangan. Namun, bagi Nurhayati, setiap hari di bulan suci menjadi ujian ketabahan yang harus dilalui dengan langkah kaki dan dorongan gerobak tua "

KENDARI, TELISIK.ID – Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh ketenangan. Namun, bagi Nurhayati, setiap hari di bulan suci menjadi ujian ketabahan yang harus dilalui dengan langkah kaki dan dorongan gerobak tua.
Sudah lebih dari sepuluh tahun Nurhayati menggantungkan hidup dari memulung. Bersama gerobak kayu yang setia menemaninya, ia menyusuri jalanan Kota Kendari sejak pagi hingga menjelang sore, memunguti kardus, botol plastik, hingga besi tua yang bisa ditukar dengan beberapa lembar rupiah.
Di bawah terik matahari, dengan baju lusuh yang melekat di tubuhnya dan keringat yang terus mengalir, ia tampak tak pernah berhenti.
Setiap hari, langkahnya dimulai dari rumah kontrakan kecilnya di Kelurahan Anduonohu, sekitar tiga kilometer dari lokasi ia biasa memulung. Nurhayati berjalan hingga ke bundaran Tugu Tank dan bundaran kantor gubernur, jarak yang tak lagi ia hitung karena sudah menjadi rutinitas.
Baca Juga: Perjuangan Seorang Pemulung, Melawan Terik Matahari Demi Mendapat Rupiah
“Saya jalan dari Anduonohu sampai bundaran tank lalu ke bundaran kantor gubernur, setiap hari begitu terus. Biasa kami ambil di tong sampah atau keliling mencari. Kalau ada kita lihat, kita ambil,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Nurhayati tidak sendiri. Ia tinggal bersama suaminya yang juga bekerja sebagai pemulung, serta dua anak mereka yang masih bersekolah. Dari hasil memulung itulah kebutuhan makan, biaya sekolah, hingga sewa rumah dibayar.
Penghasilan yang tak menentu memaksa mereka untuk terus bekerja tanpa mengenal musim, termasuk saat berpuasa.
Di bulan Ramadan, beban terasa lebih berat. Tubuh yang lelah harus menahan lapar dan dahaga. Namun, Nurhayati tetap berjalan, tetap mencari. Sesekali, ada tangan-tangan dermawan yang memberinya takjil di jalan. Bantuan kecil itu menjadi penyemangat, bahwa masih ada kepedulian di tengah kerasnya hidup.
Baginya, kebahagiaan bukan soal kemewahan. Nurhayati hanya ingin melihat anak-anaknya tersenyum saat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah tiba.
Harapan sederhana itu tersimpan di setiap langkahnya, membelikan baju Lebaran untuk kedua buah hatinya.
“Mau bagaimana lagi, sudah sepuluh tahun juga saya menjalani sebagai pemulung. Yang penting setiap dapat penghasilan dan cukup untuk makan,” ungkapnya lirih.
Baca Juga: Manto, Pedagang Roti Keliling di Kendari: 8 Tahun Berjalan Kaki Sambil Pikul 2 Etalase Kaca
Nurhayati sadar, hasil memulung tak pernah benar-benar cukup untuk memenuhi segala kebutuhan. Namun, ia tak menuntut lebih.
Di tengah keterbatasan, ia memilih bertahan. Di balik gerobak miliknya yang penuh barang bekas, tersimpan doa-doa seorang ibu yang tak pernah berhenti berharap.
Ramadan bagi Nurhayati adalah tentang kesabaran, tentang kerja keras, dan tentang cinta yang tak mengenal lelah.
Cinta seorang ibu yang rela menempuh kilometer demi kilometer jalanan Kota Kendari, demi memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anaknya tetap bisa bermimpi. (C)
Penulis: Gede Suyana Sriski
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS