Profil Abdul Wahid: Totalitas Dedikasikan Diri untuk Pendidikan hingga Akhir Hayat

Ana Pratiwi

Reporter

Kamis, 30 April 2026  /  6:32 pm

Kepala SMPN 1 Kendari, Abdul Wahid, semasa hidup. Foto: Ana Pratiwi/Telisik

KENDARI, TELISIK.ID - Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan Kota Kendari hari ini, Kamis (30/4/2026). Tokoh pendidik kharismatik yang juga Kepala SMP Negeri 1 Kendari, Abdul Wahid, telah berpulang ke Rahmatullah.

Naskah profil berikut merupakan catatan dari hasil wawancara mendalam yang dilakukan tim redaksi telisik.id sebelum Abdul Wahid wafat.

Pertemuan tersebut seolah menjadi pesan terakhir dari almarhum tentang dedikasi, semangat kolaborasi, dan kecintaannya pada dunia literasi serta seni.

Menjadi seorang pendidik bukanlah sekadar profesi bagi Abdul Wahid, tapi sebagai panggilan jiwa yang ia cita-citakan sejak kecil.

Meski tumbuh di lingkungan keluarga pedagang, semangat untuk berbagi ilmu membawanya pada pengabdian panjang di dunia pendidikan Sulawesi Tenggara.

Kepala SMP Negeri 1 Kendari ini dikenal sebagai sosok yang memadukan ketegasan manajerial dengan sentuhan seni yang lembut.

Baca Juga: SMKN 7 Kendari Komit Cetak Lulusan Siap Kerja, Ini Jurusan Paling Diminati

Karier PNS Abdul Wahid dimulai pada tahun 1994 di SMP Negeri 1 Andovia (Asera), yang saat itu masih bagian dari Kabupaten Konawe.

Setelah lima tahun mengabdi, ia pindah ke SMP Negeri 2 Kendari pada tahun 1999.

Kapabilitasnya tidak hanya diakui di level lokal.

Saat menempuh studi S2 di Universitas Negeri Makassar pada 2001, ia berhasil lolos sebagai Instruktur Nasional. Sejak era Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), KTSP, hingga Kurikulum 2013, ia rutin melatih para guru di wilayah Indonesia Timur.

Tahun 2013, ia menjadi satu-satunya perwakilan Sulawesi Tenggara yang lulus tes dan memiliki lisensi khusus untuk menatar para kepala sekolah di tingkat nasional.

Pengalaman kepemimpinannya teruji nyata saat ia dipercaya menjadi kepala sekolah pertama di SMP Negeri 20 Kendari. Saat itu, sekolah tersebut secara fisik belum ada.

"Saya merintis dari tanah kosong, membangun ruang kelas hingga fasilitas lainnya bekerja sama dengan pihak Australia. Rasanya berat, tapi melihat kemajuannya sekarang, ada kebahagiaan luar biasa," kenang Abdul Wahid saat itu.

Setelah 9 tahun di SMPN 20, ia sempat bertugas di SMPN 19 dan memimpin SMPN 2 Kendari, sebelum akhirnya dipercaya menakhodai sekolah rujukan di SMP Negeri 1 Kendari.

Bagi Abdul Wahid, kunci utama mengelola sekolah adalah kolaborasi. Ia menekankan bahwa kepala sekolah bukan sekadar penandatangan dokumen, melainkan pemimpin pembelajaran.

"Jangan jadi guru yang berwawasan sempit atau gagap teknologi. Jika siswa tidak berhenti belajar, guru pun harus terus mengasah ilmu," tegasnya.

Ia pun selalu menempatkan dirinya sebagai role model. Baginya, perubahan perilaku warga sekolah tidak bisa dipaksakan melalui instruksi, melainkan melalui contoh nyata yang ditunjukkan oleh pemimpinnya.

Di luar kesibukannya di sekolah, Abdul Wahid adalah sosok yang sangat aktif. Ia menjabat sebagai Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Kendari, pengurus PGRI, hingga Ketua Paguyuban Morowali.

Baca Juga: Homoseksual Dominasi Kasus HIV AIDS di Sulawesi Tenggara, Pengidap Capai 123 Sejak Januari-Maret 2026

Tak hanya itu, pria yang gemar olahraga voli dan bulu tangkis ini juga memiliki bakat besar di bidang tarik suara.

Ia telah merilis dua single berjudul Akhir Cinta (2018) dan Sejati Mencinta (2022) yang dapat dinikmati melalui kanal YouTube Wahid Kasek.

Meski dikenal perfeksionis dalam bekerja, keluarga tetap menjadi muara utamanya. Ia selalu memprioritaskan waktu libur bersama istri dan ketiga anaknya demi menjaga momen kedekatan yang ia yakini tidak akan pernah terulang.

Menutup jejak pengabdiannya, Abdul Wahid hanya ingin meninggalkan satu warisan penting di setiap sekolah yang ia pimpin, yakni budaya kekompakan.

Ia berharap, siapapun yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya akan terus menjaga semangat kolaborasi demi kemajuan kualitas pendidikan di Kota Kendari.

Kini, seluruh dedikasi tersebut menjadi catatan sejarah yang akan terus dikenang. Selamat jalan, Pak Wahid. (C)

Penulis: Ana Pratiwi

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS