Sosialisasi Proyek Jalan Dete-Wisata Huuntete Wakatobi Masih Belum Ada Titik Temu

Zulkifli Herman Tumangka

Reporter

Jumat, 10 April 2026  /  9:40 pm

Sosialisasi rencana rekonstruksi Jalan Desa Dete-Wisata Huuntete yang di gelar di Desa Kulati, Wakatobi. Foto: Ist.

WAKATOBI, TELISIK.ID - Sosialisasi proyek rekonstruksi jalan Dete menuju destinasi wisata Huuntete di Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, belum menghasilkan kesepakatan pada Kamis (9/4/2026).

Masyarakat tetap pada sikap menolak, sementara pemerintah daerah setempat masih berupaya melanjutkan program tersebut dengan berbagai penjelasan dan tawaran solusi.

Salah satu perwakilan masyarakat, Sukirman Basra, menegaskan bahwa hingga akhir kegiatan tidak ada titik temu antara warga dan pemerintah.

Ia menyebut pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) tetap bersikeras menawarkan solusi terhadap dampak yang ditimbulkan, sementara masyarakat menyoroti persoalan utama pada aspek perencanaan.

“Tidak ada kesimpulan. Dari PU ngotot menawarkan solusi terhadap dampak, sementara masyarakat tetap tegas pada inti persoalan, yaitu perencanaan serta penolakan jalur desa setelah wisata Huuntete yang dialihkan ke Kulati–Wisata Huuntete,” ujarnya.

Baca Juga: Kampung Siaga Bencana Dibentuk di Baubau

Sukirman juga meminta seluruh proses proyek dihentikan sementara hingga ada kesepakatan bersama.

Menurutnya, jika hal tersebut tidak diindahkan, maka masyarakat berpotensi kembali melakukan aksi demonstrasi dengan tuntutan yang lebih tegas.

“Saya meminta kegiatan proyek ini diberhentikan sementara sampai ada kesepakatan. Jika tidak diindahkan, kemungkinan besar akan ada aksi demonstrasi lanjutan dengan tuntutan yang lebih tegas, terutama soal perencanaan yang kami nilai cacat prosedur,” tambahnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Wakatobi, Aswiadi, menjelaskan bahwa proyek tersebut memiliki urgensi dalam meningkatkan konektivitas kawasan pariwisata.

Khususnya menghubungkan destinasi dengan pelabuhan dan bandara serta antarkawasan wisata yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Pengembangan Pariwisata Daerah (KSPD).

Ruas jalan Dete–Huuntete disebut telah lama masuk dalam berbagai dokumen perencanaan strategis daerah, seperti Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPARDA) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Proyek juga disebut terintegrasi dalam rencana pengembangan pariwisata nasional melalui Integrated Tourism Master Plan (ITMP) Wakatobi 2025–2044.

Meski demikian, Aswiadi mengakui bahwa sosialisasi kepada masyarakat dilakukan terlambat.

“Sosialisasi memang terlambat, seharusnya dilakukan sebelum ada aksi kemarin. Tapi untuk perencanaan ruas jalan ini sudah lama ada, kami hanya menindaklanjuti,” jelasnya Jumat (10/4/2026).

Terkait tuntutan penundaan proyek, pihaknya menyebut belum ada keputusan.

Aswiadi juga menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait potensi dampak terhadap aset seperti pasir, batu, kayu, hingga ternak warga.

Menurutnya, hal tersebut dapat dicarikan solusi melalui kesepakatan bersama, termasuk kemungkinan pengaturan melalui peraturan desa untuk melindungi aset masyarakat di sekitar proyek.

Selain itu, pemerintah menilai pembangunan jalan ini dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk pengembangan kawasan produksi pangan yang bisa diusulkan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah melalui skema DAK tematik.

Hal lain yang menjadi penekanan dalam sosialisasi tersebut adalah rencana lanjutan pembangunan ruas jalan Desa Kulati–Wisata Huuntete.

Aswiadi menjelaskan bahwa perbaikan ruas tersebut akan menjadi kelanjutan program setelah ruas jalan yang dikerjakan tahun ini selesai, dan telah diprioritaskan dalam program kerja Pemerintah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2027.

Baca Juga: KPR Silika Perkuat Infrastruktur untuk Akses Mobilitas dan Air Bersih Bombana di Awal 2026

Sementara itu, Camat Tomia Timur, Abdul Rifaid, menyatakan pemerintah telah menawarkan sejumlah solusi atas kekhawatiran masyarakat. Namun, belum mendapat respons yang diharapkan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah bersama pihak kecamatan dan desa akan terus melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat.

“Pemda sudah menawarkan banyak solusi terhadap dampak kegiatan itu, tapi masyarakat masih tetap pada pendiriannya. Kami akan terus melakukan pendekatan persuasif dan memberikan pemahaman terkait manfaat pembangunan jalan ini,” ujar Rifaid.

Dari sisi legislatif, Anggota DPRD Kabupaten Wakatobi, Arman Alini, menyampaikan bahwa seluruh aspirasi masyarakat telah dicatat dan akan ditindaklanjuti ke pimpinan DPRD serta diteruskan kepada pihak eksekutif.

“Poin-poin usulan masyarakat akan menjadi catatan anggota DPRD untuk disampaikan kepada pimpinan DPRD dan ditindaklanjuti ke pihak eksekutif dalam hal ini pemerintah daerah,” katanya. (A)

Penulis: Zulkifli Herman Tumangka

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS