Surat Kabar Asing Soroti Protes TKA China di Sultra, Sebut Bakal Picu Terorisme

Muhammad Israjab

Reporter

Kamis, 02 Juli 2020  /  5:49 pm

artikel bertajuk 'Indonesian Students Plan Further Protests Against Chinese Workers on Sulawesi', yang menyoroti TKA China masuk ke Sultra. Foto: scmp.com

KENDARI, TELISIK.ID – Kehadiran TKA ke Sulawesi, khusunya di Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi sorotan berbagai kalangan. Hal ini juga tak luput dari sorotan media cetak lokal, nasional dan internasioal.

Keputusan pemerintah Indonesia untuk mendatangkan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Sulawesi Tenggara memang telah menyedot berbagai kritik hingga protes dari masyarakat Indonesia.

Kehadiran TKA ini, terjadi di tengah sulitnya ekonomi dan penyebaran penyakit COVID-19.

Namun, pemerintah justru mempekerjakan setidaknya 500 TKA China. Dalam laporan, ratusan TKA China ini pun rencananya akan bekerja untuk PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel di Kabupaten Konawe.

Media asing, South China Morning Post (SCMP) tercatat menjadi surat kabar yang paling rajin melaporkan perkembangan protes TKA China di Indonesia.

Dalam liputan terbarunya pada Kamis (2/6/2020) hari ini, media Hong Kong ini bahkan sudah menulis liputan khusus tentang isu TKA China hingga rencana aksi lanjutan dari mahasiswa Indonesia.

Dalam laporannya, jurnalis SCMP, Amy Chew tampak menggunakan istilah 'Anti-China' untuk merujuk pada protes.

"Mahasiswa Indonesia di pulau Sulawesi bagian Timur merencanakan demonstrasi anti-China minggu depan, untuk memprotes kedatangan pekerja daratan yang mereka tuduh mencuri pekerjaan dari penduduk setempat," tulis Chew dalam artikel bertajuk 'Indonesian Students Plan Further Protests Against Chinese Workers on Sulawesi'.

Dikutip dari CNN, Amy Chew menjelaskan bahwa, sebelumnya sudah ada dua demonstrasi yang diadakan pada bulan lalu, dan yang terbaru terjadi baru-baru ini.

Dengan menyertakan video protes, Chew juga terlihat menerangkan bahwa pada Selasa kemarin, protes dilakukan tepat ketika lebih dari 100 pekerja China datang ke Kendari.

Chew juga menggambarkan bahwa saat protes berlangsung, ratusan mahasiswa sempat memblokade seputaran bandara kota.

Namun, disebutkan pula, bahwa para pekerja China berhasil ke luar dari bandara lantaran dikawal oleh pihak kepolisian.

Selanjutnya, Chew terlihat mengutip langsung pernyataan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kendari, Sulkarnain, terkait dengan protes kedatangan TKA China gelombang ketiga. Menurut Sulkarnain, protes pun rencananya akan digelar pada 6-7 Juli mendatang.

"Kami sedang merencanakan babak ketiga demonstrasi pada 6 dan 7 Juli karena kami menunggu lebih banyak pekerja China datang pada hari-hari itu. Kami menargetkan 2 ribu orang yang terdiri dari pelajar dan anggota masyarakat (untuk ikut protes)," tulis Chew mengutip ucapan Sulkarnain.

Baca juga: Pemda Konawe Bantu Rekrut Ribuan Tenaga Kerja Lokal di Perusahaan Tambang

Berdasarkan klaim Sulkarnain, TKA China ini bukanlah seorang ahli teknis. Sulkarnain juga menyebut bahwa sebenarnya pekerjaan yang TKA China ini akan lakukan bisa dikerjakan oleh pekerja lokal dari Sulawesi Tenggara.

"Saat pandemi, pekerja lokal banyak yang diminta untuk tinggal di rumah (oleh pemilik perusahaan), tetapi pekerja asing (justru) dibawa ke sini," tulis Chew mengutip lanjutan pernyataan Sulkarnain.

Sulkarnain juga disebutkan telah menjelaskan bahwa pihaknya tidak menentang pekerja asing. Namun, Sulkarnain dan para aktivis lainnya hanya mempertanyakan tentang kurangnya transparansi pemerintah serta perusahaan dalam merekrut TKA China.

Sebaliknya, Sulkarnain menuduh bahwa kegiatan penambangan perusahaan telah menyebabkan kerusakan lingkungan, termasuk polusi sungai dan daerah penangkapan ikan.

Untuk mendukung pernyataan Sulkarnain ini, SCMP lantas terlihat langsung menyertakan kutipan pernyataan dari aktivis lain, yaitu Beny Putra Lamangga dari Institut Agama Islam Negeri Kendari.

"Sampai sekarang, tidak ada transparansi dari dua perusahaan tentang berapa banyak pekerja yang mereka butuhkan dan mereka tidak menentukan jenis keterampilan apa yang dibutuhkan (oleh perusahaan)," tulis SCMP.

Untuk membuat artikelnya seimbang, Chew lantas mengutip laporan dari Jakarta Post terkait dengan alasan mengapa perusahaan ingin menyerap TKA China.

Mengutip pernyataan perusahaan, The Jakarta Post melaporkan bahwa mereka mereka perlu membawa masuk (TKA) China karena kurangnya pekerja lokal yang cakap dan bahwa, begitu peralatan siap, perusahaan akan mempekerjakan 3 ribu pekerja lokal,

"Para pekerja asing diharapkan berada di Indonesia selama enam bulan dan kembali ke negara asal mereka begitu instalasi telah selesai," tulis Chew.

Sedangkan, Manajer Urusan Eksternal PT VDNI Indrayanto, menjelaskan bahwa jika 500 pekerja asing dari China ditolak masuk, maka itu akan beresiko pada 3 ribu pekerja lokal yang rencananya akan dipekerjakan perusahaan.

Sementara terkait dengan kekhawatiran penyebaran COVID-19, pernyataan Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi menyampaikan bahwa semua TKA dipastikan menjalani pemeriksaan kesehatan dan karantina sebelum bekerja di lokasi proyek.

Selain itu, Ali juga menerangkan bahwa para TKA ini memang didatangkan dengan tujuan untuk mendukung proyek investasi.

"Mereka bekerja di sini untuk mendukung investasi di Sulawesi Tenggara, sehingga ekonomi kita bisa pulih setelah pandemi COVID-19," ucap Ali seperti tertera dalam laporan SCMP.

Namun, terlepas dari kontroversi TKA China ini, SCMP menuturkan bahwa menurut analis, isu ini justru akan memicu kasus teroris di Indonesia. Analis pun berpendapat bahwa masalah ini malah akan menyulut kebencian terutama terkait dengan persoalan penahanan muslim Uighur.

"Analis keamanan telah memperingatkan dalam beberapa pekan terakhir bahwa kembalinya pekerja Cina ke Indonesia dapat memprovokasi serangan teroris karena meningkatnya kebencian terhadap orang asing di tengah pandemi virus Corona, dan juga (lantaran) laporan perlakuan Beijing terhadap Muslim Uighur," tulisnya.

"Kelompok-kelompok jihad telah mengeluarkan seruan 'besar-besaran' untuk serangan dalam beberapa pekan terakhir, kata seorang mantan tokoh senior dalam jaringan Asia Tenggara al-Qaeda, yang memperingatkan bahwa pekerja migran China dan etnis Tionghoa Indonesia bisa menjadi sasaran," tulis SCMP.

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Sumarlin