Titik Jumpa Agama dan Budaya

Abd. Rasyid Masri

Penulis

Minggu, 07 November 2021  /  9:42 am

Prof. Abd. Rasyid Masri, Guru Besar Sosiologi. Foto: Ist.

Oleh: Prof. Abd. Rasyid Masri

Guru Besar Sosiologi

AGAMA pada hakikatnya sangat membutuhkan budaya, sehingga perlu menjaga keduanya agar tak ada benturan agama dan budaya.

Masih banyak pemikiran yang tumbuh di Indonesia bahwa kalau mau maju tinggalkan agama, sebab nilai-nilai agama banyak menghambat kemajuan manusia.

Tentu hal ini masih dalam perdebatan. Tapi yang pasti, jauh sebelum ada agama resmi, budaya manusia sudah ada. Jadi, budayalah yang pertama diyakini sebagai media perekat, yang mampu memelihara nilai kekeluargaan. Mampu menghadirkan rasa kebersamaan, cinta kasih pada sesama manusia.

Baca Juga: Cegah Kejahatan, Tantangan Besar Duet Intelkam Polri 'Dofiri-Merdisyam'

Agama dan budaya jangan dibenturkan, tapi perlu dicari titik persamaannya. Secara sosiologis keduanya merupakan sistem nilai dan sistem simbol kehidupan manusia, yang sering mudah berubah oleh gempuran nilai baru.

Dimana agama dan budaya memberi pengayaan wawasan hidup manusia, sehingga antara agama, budaya dan  manusia tiga aspek yang saling membutuhkan. Salah satu tak punya nilai berarti kalau diantara ketiganya ada yang dihilangkan dalam kehidupan manusia.

Keduanya saling membutuhkan. Kalau ada manusia yang ingkar akan agama, maka pada hakikatnya membohongi hati nuraninya dan menyimpang dari esensi penciptaannya.

Pertayaan besar butuh jawaban cerdas, yakni bagaimana kalau nilai agama bertentagan dengan nilai budaya masyarakat? Mana yang harus dikorbankan kalau terpaksa harus memilih?

Jawabannya, ketika nilai agama berbenturan dengan nilai budaya, maka yang harus dikorbankan nilai budaya. Walau belahan bumi lain ada juga yang memilih nilai agamalah yang perlu dikorbankan, agar nilai budaya tetap terpelihara, walau itu adalah pilihan yang tidak populer.

Baca Juga: Inovasi Manajemen Perubahan pada Pengawasan Vote Buying

Solusi terbaik bila nilai agama berbenturan dengan nilai budaya,  maka diselesaikan secara kompromi. Artinya nilai-nilai subtansi dari agama diadopsi dalam budaya, sehingga budaya yang mengalami penyesuaian, yang mendorong lahirnya perubahan sosial atau budaya baru.

Maka, agama dan budaya bisa bergandengan dalam memberi pedoman keselamatan dunia dan akhirat. Artinya, agama difungsikan sebagai sistem keyakinan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan.

Sementara, budaya difungsikan sebagai suatu sistem nilai yang mengatur tatanan kehidupan bersama, dan menjaga kelangsungan kehidupan bersama manusia. (*)