Waspadai Pre-Eklamsia, Penyebab Kematian Tertinggi pada Ibu dan Bayi

Haidir Muhari

Reporter

Kamis, 26 Agustus 2021  /  4:44 pm

Ibu hamil yang mengalami nyeri kepala parah salah satu tanda pre-eklamsia. Foto: Repro SehatQ.com

KENDARI, TELISIK.ID - Pre-eklamsia menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada ibu hamil di Indonesia.

Data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, kematian ibu hamil pada tahun 2020 disebabkan oleh pendarahan, pre-eklamsia, dan penyakit penyerta.

Pre-eklamsia bisa menyebabkan bayi lahir prematur.

Sementara itu, penyebab utama kematian pada bayi adalah berat badan lahir rendah (BBLR) dan prematuritas.

Ada tiga penyebab tertinggi kematian pada bayi yaitu BBLR, asfiksia, dan kelainan bawaan.

Dilansir dari Suara.com jaringan Telisik.id, data yang dipaparkan oleh Dr. Alexander Mukti, Sp.OG, Dokter spesialis kandungan dan kebidanan, pada medio tahun 2020 ada kisaran 70 ribu sampai 80 ribu ibu hamil meninggal per tahun akibat pre-eklampsia ini.

Sementara itu, data angka kematian bayi akibat pre-eklampsia justru lebih besar, yaitu mencapai 500 ribu per tahun. Hal ini dikarenakan bayi lahir prematur.

Sebagai langkah preventif, penting untuk mengetahui penyebab dan gejala pre-eklamsia ini. Pre-eklamsia biasanya muncul pada usia kandungan lebih dari 20 minggu.

Pre-eklamsia ditandai oleh tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi dalam urine. Jika tidak ditangani dengan tepat, pre-eklamsia dapat menjadi eklamsia.

Eklamsia adalah kondisi pre-eklamsia yang disertai kejang. Eklamsia ini dapat mengakibatkan komplikasi yang fatal baik bagi ibu maupun bagi janinnya. Dapat membahayakan organ-organ lainnya, seperti ginjal dan hati.

Baca juga: Ingin Tubuh Tetap Bugar, Lakukan Olahraga Singkat Ini Setiap Pagi

Penyebab Pre-eklamsia

Pre-eklamsia muncul karena adanya gangguan perkembangan pada plasenta. Plasenta berfungsi menyalurkan darah dari ibu ke bayi dalam kandungan.

Normalnya, plasenta mendapatkan suplai darah yang banyak dan konstan untuk mendukung perkembangan bayi. Sementara pada pre-eklamsia, plasenta diduga tidak mendapatkan cukup darah. Gangguan ini menyebabkan tekanan darah tinggi pada Ibu.

Faktor yang turut berperan dalam pre-eklamsia adalah adanya riwayat keluarga yang mengalami penyakit ini. Penyebab pasti kondisi ini oleh medis belum terungkap secara pasti.

Faktor lain yang diduga memengaruhi munculnya pre-eklamsia, antara lain:

1. Kehamilan pertama

2. Pernah mengalami pre-eklamsia pada kehamilan sebelumnya

3. Jarak kehamilan lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya

4. Hamil kembar atau lebih

5. Obesitas pada awal kehamilan dengan indeks massa tubuh 35 atau lebih

6. Usia saat hamil di bawah 18 tahun atau di atas 35 tahun

7. Mempunyai masalah medis lain, yaitu diabetes, penyakit ginjal, sindrom antifosfolipid, dan lupus

8. Hipertensi kronik (riwayat tekanan darah tinggi sebelum usia 20 minggu kehamilan)

9. Kehamilan yang terjadi dengan bantuan (inseminasi atau bayi tabung).

10. Ada riwayat keluarga yang mengalami pre-eklamsia, misalnya ibu atau saudara perempuan

Baca juga: Penting Diketahui, Ini Pertolongan Pertama Sesak Napas

Gejala-Gejala Pre-eklamsia

Ibu yang mengalami pre-eklamsia, biasanya akan mengalami gejala dan tanda sebagai berikut:

1. Tiba-tiba mengalami pembengkakan pada muka, kaki, tangan, dan mata

2. Terjadi peningkatan berat badan dalam 1 atau 2 hari

3. Tekanan darah menjadi sangat tinggi lebih dari 140/90mmHg

4. Nyeri kepala yang sangat parah

5. Nyeri pada perut bagian atas

6. Penglihatan kabur

7. Timbul rasa mual dan muntah

8. Terdapat protein pada urine (hal ini diketahui setelah melakukan pemeriksaan urine)

9. Penurunan frekuensi dan jumlah urine

10. Penurunan jumlah trombosit pada pemeriksaan darah

11. Gangguan fungsi hepar

12. Sesak napas

Penanganan pada Pre-eklamsia

Pre-eklamsia ini dapat ditangani oleh tenaga medis dengan terlebih dahulu melakukan diagnosis medis untuk mengetahui gangguan fungsi hati, rendahnya jumlah trombosit, gangguan fungsi ginjal, dan penumpukkan cairan di paru-paru.

Selain itu USG dan kardiotokografi pada bayi juga mungkin akan disarankan dokter. Ini bertujuan guna mengetahui kondisi janin. Pre-eklamsia pada jangka pendek dapat reda dalam jangka waktu harian hingga mingguan.

Jika penyebab pre-eklamsia pada oleh ibu hamil tidak terlalu parah, berikut beberapa rekomendasi untuk mencegah kondisi semakin buruk:

1. Bed rest atau istirahat total, hal ini bisa dilakukan di rumah ataupun di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik

2. Mengonsumsi lebih banyak air mineral

3. Mengurangi konsumsi garam

4. Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter. (C)

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Fitrah Nugraha