BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis di Sultra, Sejumlah Wilayah Berstatus Awas

Erni Yanti, telisik indonesia
Kamis, 27 Agustus 2026
0 dilihat
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis di Sultra, Sejumlah Wilayah Berstatus Awas
Cuaca cerah di Kota Kendari dengan awan putih tebal, Kamis (27/8/2026), di tengah kondisi musim kemarau yang terjadi di Sulawesi Tenggara. Foto: Erni Yanti/Telisik

" Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) "

KENDARI, TELISIK.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra).

Prakirawan Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara, Siti Risnayah, mengatakan pihaknya telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis sejak 20 Agustus 2026.

“Potensi kekeringan ada. Kami sudah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis pada tanggal 20 Agustus kemarin,” kata Siti kepada telisik.id, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, dalam peringatan dini tersebut terdapat wilayah yang telah masuk status awas, yang merupakan kategori tertinggi dalam sistem peringatan kekeringan meteorologis.

Berdasarkan pemutakhiran analisis data dan prediksi curah hujan pada 20 Agustus 2026, peringatan dini kekeringan meteorologis di Sultra mencakup tiga kategori, yakni waspada, siaga, dan awas. Peringatan tersebut berlaku 21 hingga 31 Agustus 2026.

Kategori awas meliputi Baubau (Bungi), Bombana (Kabaena Selatan, Kabaena Tengah, Poleang Barat, Poleang Timur, Poleang Utara), Buton Tengah (Talaga Raya), serta Kolaka (Polinggona dan Toari).

Baca Juga: SKO Sultra Perkuat Edukasi Siswa Lewat Program Polwan Goes to School

Sementara kategori siaga tersebar di sejumlah wilayah Baubau, Bombana, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Muna, Muna Barat, dan Wakatobi.

Adapun kategori waspada mencakup wilayah Baubau, Bombana, Buton, Buton Selatan, Buton Utara, Buton Tengah, Kendari, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Muna, dan Muna Barat.

Sementara pembaruan peringatan dini akan dilakukan BMKG pada 31 Agustus mendatang.

Siti menjelaskan, status kekeringan meteorologis terbagi dalam tiga kategori, yakni waspada, siaga, dan awas.

Status waspada menunjukkan suatu wilayah telah mengalami tidak hujan selama 21 hingga 30 hari. Selanjutnya, status siaga diberikan ketika wilayah tidak mengalami hujan selama 31 hingga 60 hari.

“Sedangkan awas berarti sudah lebih dari 60 hari tidak ada hujan atau lebih dari dua bulan,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang masuk dalam peringatan dini kekeringan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kering dan mengantisipasi keterbatasan ketersediaan air.

Siti menambahkan, peringatan yang tidak dikeluarkan pada periode tersebut berkaitan dengan kategori peringatan dini curah hujan tinggi, bukan berarti potensi kekeringan juga tidak ada.

Di sisi lain, BMKG menyatakan tidak ada peringatan untuk potensi curah hujan tinggi di wilayah Sulawesi Tenggara pada periode 21 hingga 31 Agustus 2026.

Peringatan kekeringan tersebut sejalan dengan kesiapsiagaan Pemerintah Provinsi Sultra menghadapi puncak musim kemarau.

Sementara itu, Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, menegaskan penanggulangan bencana tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam kesiapan nyata di lapangan.

Hal itu disampaikan Andi Sumangerukka saat memimpin apel siaga dan simulasi penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan Provinsi Sultra di Lapangan Kantor Gubernur Sultra, Rabu (26/8/2026).

“Saya juga mengingatkan, jangan kita hanya berhenti di apel siaga dan simulasi, tetapi betul-betul menganggap bahwa kita betul-betul siap menghadapi bencana,” ujarnya.

Gubernur menyebutkan, berdasarkan kajian risiko bencana (KRB) Provinsi Sultra Tahun 2022–2026, seluruh kabupaten/kota di Sultra berada pada tingkat risiko tinggi untuk bencana kekeringan.

Baca Juga: Waspada Karhutla, BMKG Deteksi 100 Titik Panas di Sulawesi Tenggara

Sementara untuk Karhutla, tujuh kabupaten/kota berada pada tingkat risiko tinggi, yakni Kolaka, Konawe, Konawe Selatan, Bombana, Buton Tengah, Kota Kendari dan Kota Baubau.

Memasuki puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober 2026, Andi meminta pemerintah kabupaten/kota bersama BPBD segera mengaktifkan posko siaga Karhutla dan kekeringan.

Andi Sumangerukka juga meminta kesiapsiagaan krisis air bersih diperkuat dengan menyiapkan sumber air alternatif dan armada truk tangki untuk mendistribusikan air ke wilayah yang mengalami krisis.

“Saya berharap bukan hanya kegiatan seremonial. Betul-betul kita siap untuk menghadapi bencana. Ada data, maka dengan data itu kita bisa melakukan langkah-langkah,” tegasnya.

Selain kesiapan pemerintah, Andi Sumangerukka juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah karhutla serta menghadapi dampak kekeringan.

Ia meminta seluruh pihak memperkuat koordinasi, pemantauan, pengumpulan data, dan respons cepat agar potensi bencana dapat ditangani sejak dini. (B)

Penulis: Erni Yanti

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga