adplus-dvertising

Bupati Nganjuk, Satu dari Seribu

Haidir Muhari, telisik indonesia
Selasa, 07 Juli 2020
11243 dilihat
Bupati Nganjuk, Satu dari Seribu
Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat pada suatu momen dengan petani. Foto: Repro matakamera.net

" Frans Magnis Suseno menuliskan bahwa akar demokrasi adalah kesetaraan. Bahwa setiap warga negara punya derajat yang sama, entah itu pejabat atau si jelata, dari bupati hingga kuli. Hal itu terejawentahkan dalam laku Mas Novi. "

KENDARI, TELISIK.ID - Novi Rahman Hidayat atau karib disapa Mas Novi adalah Bupati Nganjuk yang saat ini sementara menjabat hingga 2023 mendatang.

Pria berkulit cerah itu dilahirkan di Nganjuk, 2 April 1980 silam. Alumni Universitas Islam Balitar itu memilih melabuhkan hatinya kepada Yuni Rahma, cucu dari Habib Alwy al-Haddad Peterongan Jombang.

Banyak terobosan yang dilakuan oleh Mas Novi. Di antara seribu, mungkin hanya ada satu. Tak banyak pejabat yang mengerti hakikat kekuasaan.


"Leiden is Lijden (memimpin adalah menderita)," tegas Kiyai Haji Agus Salim.

Menjadi pejabat berarti mewakafkan diri menjadi pelayan rakyat. Hingga tak ada lagi warga yang beratapkan langit atau kolong jembatan. Hingga tak ada lagi keluarga yang harus berlindung dengan gubuk reot nan kumuh.

Demikian itulah yang dilakukan Mas Novi. Dahlan Iskan menuliskan dalam dua tahun terkahir ini Mas Novi hampir setiap Jumat berpindah-pindah masjid, menjadi khatib.

Hal tersebut ia lakukan bukan tanpa tujuan. Apalagi sekadar blusukan dan pencitraan, tidak untuk terlihat wah di balik layar kaca.

Usai Jumatan, Mas Novi bertemu dengan masyarakat sekitaran masjid tersebut. Jika masih ada rumah-rumah kumuh atau tak layak huni, maka dengan dana zakat rumah-rumah itu akan dipugar.

Baca juga: Kenangan BJ Habibie untuk Indonesia dari Kisah Cinta hingga Prestasinya

Tak banyak yang lakukan hal itu. Pejabat memilih nyaman duduk di rumah jabatan yang adem dengan pengawalan barikade pamong praja yang ketat. Banyak warga yang mengeluhkan, pejabat saat telah jadi sangat susah ditemui. Berbeda jauh dengan saat kampanye.

Mas Novi memiliki banyak perusahaan. Dikutip dari akurat.co ia memiliki 36 perusahaan dengan jumlah karyawan hingga 40 ribu orang. Perusahaan itu bergerak di berbagai bidang, diantaranya tambang dan Bank Perkreditan Rakyat.

Hingga kini, dirinya memiliki perusahaan di bidang tambang, Bank Perkreditan Rakyat dan bidang lainnya. Totalnya, Novi memiliki 36 perusahaan dengan jumlah karyawan mencapai 40 ribu orang.

Gebrakan lain yang dilakukan Mas Novi adalah di akhir tahun 2018 merombak besar-besaran para kepala dinas yang tak menunjukkan kerja maksimal. Tak tanggung-tanggung sebanyak 18 kepala dinas akhirnya dicopot.

Tak banyak juga yang mampu melakukan ini. Kebanyakan kepala daerah melakukan itu hanya karena dukung atau tidak mendukung saat Pilkada atau juga karena suka tidak suka. Hanya satu dari seribu yang merombak dengan timbangan kinerja.

Memang sejak awal Mas Novi memutuskan terjun ke politik adalah untuk memajukan tanah kelahirannya, Nganjuk. Padahal ia telah mapan dari segi ekonomi. Saat mencalonkan diri di tahun 2018 ia termasuk calon bupati terkaya.

Ayah empat anak itu memberikan keteladanan bahwa menjadi pejabat adalah jalan pengabdian. Ia menegaskan dalam sikapnya menjadi pejabat di era demokrasi berbeda dengan monarki.

Frans Magnis Suseno menuliskan bahwa akar demokrasi adalah kesetaraan. Bahwa setiap warga negara punya derajat yang sama, entah itu pejabat atau si jelata, dari bupati hingga kuli. Hal itu terejawentahkan dalam laku Mas Novi.

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Kardin

Baca Juga