Habis Gelap Terbitlah Terang: Spirit Hijrah Menuju Perubahan
Muh. Ikhsan, telisik indonesia
Sabtu, 25 April 2026
0 dilihat
Dr. H. Muh. Ikhsan AR, M.Ag, Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI. Foto: Ist.
" Kemerdekaan tidak berhenti pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 "

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR, M.Ag
Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI
MENJELANG satu abad kemerdekaan, Indonesia berdiri di persimpangan sejarah: antara warisan masa lalu dan harapan masa depan. Ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar semboyan yang lahir dari kegelisahan Raden Ajeng Kartini, tetapi juga cermin perjalanan bangsa—dari kegelapan penjajahan menuju cahaya kemerdekaan. Namun, pertanyaannya hari ini bukan lagi apakah terang itu telah datang, melainkan: "apakah kita telah benar-benar hidup di dalam terang itu?"
Kemerdekaan tidak berhenti pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945. Ia adalah proses panjang, sebuah perjalanan yang menuntut kesadaran, keberanian, dan transformasi berkelanjutan. Di sinilah konsep _hijrah_ menjadi relevan—bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi "pergeseran nilai, cara berpikir, dan orientasi hidup". Hijrah adalah keberanian meninggalkan kegelapan menuju cahaya, dari stagnasi menuju kemajuan, dari krisis menuju kebangkitan.
Dalam konteks kebangsaan, kita pernah mengalami “gelap” dalam berbagai bentuk: ketertinggalan pendidikan, ketimpangan sosial, korupsi, hingga krisis moral. Bahkan di era modern, kegelapan itu menjelma dalam bentuk baru—disinformasi digital, polarisasi sosial, dan hilangnya arah etika dalam kehidupan publik. Kita mungkin telah merdeka secara politik, tetapi belum sepenuhnya merdeka secara mental dan spiritual.
Maka, menuju satu abad kemerdekaan, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Kita membutuhkan "hijrah kolektif"—perubahan paradigma yang menyentuh akar peradaban. Hijrah dari budaya instan menuju budaya kerja keras. Hijrah dari ego sektoral menuju kepentingan bersama. Hijrah dari retorika menuju aksi nyata.
Baca Juga: Reshuffle di Era Krisis: Ujian Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto
Spirit hijrah ini sejatinya telah menjadi denyut sejarah bangsa. Para pendiri negeri ini tidak hanya memproklamasikan kemerdekaan, tetapi juga meletakkan dasar moral dan intelektual bagi masa depan. Mereka berani bermimpi tentang Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat. Namun, mimpi itu tidak akan pernah menjadi nyata jika generasi hari ini hanya menjadi penonton, bukan pelanjut.
Di era digital, hijrah memiliki dimensi baru. Ia berarti berpindah dari konsumsi informasi yang pasif menuju produksi pengetahuan yang aktif. Dari penyebar hoaks menjadi penyebar hikmah. Dari pengguna teknologi menjadi pencipta peradaban berbasis teknologi. Di sinilah letak tantangan sekaligus peluang: apakah kita akan menjadi bangsa yang hanyut dalam arus globalisasi, atau menjadi bangsa yang mampu mengarahkan arus tersebut?
“Habis gelap terbitlah terang” bukan janji otomatis, melainkan "konsekuensi dari usaha dan kesadaran". Terang tidak datang dengan sendirinya; ia harus diupayakan. Dan hijrah adalah jalannya—jalan yang mungkin berat, tetapi penuh makna.
Baca Juga: Jejak Amal, Derajat Abadi: Dunia Digital dan Keadilan Ilahi
Menuju satu abad kemerdekaan, kita tidak cukup hanya mengenang masa lalu atau merayakan capaian. Kita harus bertanya dengan jujur: "sudah sejauh mana kita berhijrah sebagai bangsa?" Jika kemerdekaan dahulu adalah pembebasan dari penjajahan, maka kemerdekaan hari ini adalah pembebasan dari kebodohan, kemalasan, dan krisis nilai.
Akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh waktu, tetapi oleh "kesadaran kolektif warganya". Jika kita mampu menghidupkan spirit hijrah dalam setiap aspek kehidupan—individu, sosial, dan nasional—maka satu abad kemerdekaan bukan sekadar angka, tetapi tonggak lahirnya peradaban yang benar-benar terang.
Sebab sejatinya, terang itu bukan sesuatu yang kita tunggu--melainkan sesuatu yang harus kita nyalakan, bersama. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS