Kediaman Pribadi Vladimir Putin Dikepung Serangan Drone Ukraina? Rudal Nuklir Oreshnik Disiagakan di Perbatasan

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 01 Januari 2026
0 dilihat
Kediaman Pribadi Vladimir Putin Dikepung Serangan Drone Ukraina? Rudal Nuklir Oreshnik Disiagakan di Perbatasan
Klaim serangan drone Ukraina ke kediaman Vladimir Putin, memicu Rusia menyiagakan rudal nuklir Oreshnik di perbatasan Belarus. Foto: Repro Anadolu.

" Ketegangan Rusia dan Ukraina kembali meningkat setelah Moskow mengklaim kediaman pribadi Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi sasaran serangan puluhan drone Ukraina "

MOSKOW, TELISIK.ID - Ketegangan Rusia dan Ukraina kembali meningkat setelah Moskow mengklaim kediaman pribadi Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi sasaran serangan puluhan drone Ukraina.

Di tengah situasi tersebut, Rusia mengumumkan pengerahan sistem rudal hipersonik Oreshnik berkemampuan nuklir ke wilayah Belarus, negara sekutu yang berbatasan langsung dengan Ukraina dan sejumlah anggota NATO.

Kantor berita negara Rusia, TASS, melaporkan bahwa sistem rudal Oreshnik kini telah resmi mulai bertugas di Belarus. Pengerahan ini disebut sebagai bagian dari implementasi perjanjian keamanan bilateral dalam kerangka Negara Persatuan Rusia-Belarus, yang mulai berlaku sejak Maret lalu.

Rekaman video yang dirilis pemerintah Rusia menunjukkan peluncur rudal bergerak melintasi kawasan hutan bersalju, disertai aktivitas kamuflase dan latihan pengamanan.

Presiden Vladimir Putin sebelumnya menyebut Oreshnik sebagai sistem senjata yang sulit dicegat. Ia menekankan rudal tersebut memiliki kecepatan lebih dari sepuluh kali kecepatan suara dan mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir. Menurut Putin, daya hancur versi konvensionalnya pun dinilai sangat signifikan.

Baca Juga: Rp 177 Triliun Aset Rusia jadi Taruhan Baru Inggris untuk Ukraina, Amerika Cs Tersinggung

Duta Besar Rusia untuk Belarus, Boris Gryzlov, mengonfirmasi penempatan rudal tersebut dalam pesan Tahun Baru.

“Sistem rudal Oreshnik Rusia telah mulai bertugas di Belarus. Ini merupakan konfirmasi efektivitas perjanjian jaminan keamanan antarnegara dalam Negara Persatuan,” ujarnya, sebagaimana dikutip TASS, Kamis (1/1/2026).

Langkah ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh Ukraina melancarkan serangan menggunakan 91 drone ke kediaman Putin di kawasan Valdai, wilayah Novgorod, pada 29 Desember malam. Lavrov menyatakan seluruh drone berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Rusia.

“Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan akibat puing-puing drone yang jatuh,” kata Lavrov. Ia juga menyebut tudingan tersebut sebagai bukti meningkatnya eskalasi konflik yang dilakukan Kyiv.

Namun, tuduhan itu dibantah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ia menegaskan Ukraina tidak terlibat dalam serangan tersebut dan menilai klaim Rusia berpotensi merusak upaya diplomatik yang tengah berlangsung. Zelenskyy menyebut tudingan itu dapat dijadikan alasan bagi Rusia untuk membenarkan serangan lanjutan ke wilayah Ukraina.

Keraguan juga datang dari pihak Prancis. Sumber di Istana Elysee menyatakan tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim Rusia.

“Informasi yang disampaikan otoritas Rusia saling bertentangan, termasuk jumlah drone dan lokasi sasaran,” kata sumber tersebut kepada BFMTV setelah dilakukan verifikasi silang dengan mitra internasional.

Baca Juga: Putin Seret Standar Ganda AS dalam Polemik India Beli Minyak Rusia untuk Dana Perang Ukraina

Sejumlah analis militer menilai penempatan Oreshnik di Belarus berpotensi mempersingkat waktu tempuh senjata strategis Rusia menuju target di Eropa. Dua peneliti Amerika Serikat, Jeffrey Lewis dan Decker Eveleth, mengatakan rekaman video Rusia sesuai dengan citra satelit sebelumnya yang mengidentifikasi pangkalan udara Krichev-6 sebagai lokasi potensial sistem tersebut.

Meski demikian, beberapa pejabat Barat mempertanyakan dampak praktis Oreshnik di medan perang. Seorang sumber Amerika Serikat pada Desember lalu menyebut sistem itu belum tentu mengubah keseimbangan konflik secara signifikan.

Presiden Belarus Alexander Lukashenko sebelumnya mengonfirmasi negaranya akan menampung penempatan rudal tersebut, meski jumlahnya disebut terbatas. Ia menyebut langkah itu sebagai respons atas apa yang dinilai Minsk sebagai meningkatnya tekanan dan aktivitas militer Barat di kawasan Eropa Timur. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga