adplus-dvertising

Kepedulian dan Gotong Royong

Suryadi, telisik indonesia
Sabtu, 03 September 2022
530 dilihat
Kepedulian dan Gotong Royong
Suryadi, Pemerhati Budaya. Foto: Ist

" Sejumlah literatur Islam, menyebut Yahudi sebagai salah satu “musuh besar utama”, lantaran sifat dan perilakunya yang khas. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang kerap dicap “mau untung sendiri” dengan menyingkirkan rasa kemanusiaan. Sudah dari sono-nya begitu. Untuk yang semacam itu, tak sedikit orang mencemooh "

Oleh: Suryadi

Pemerhati Budaya

“TAK ada manusia sepuluh benar”. Ungkapan yang ingin mengatakan, tidak ada manusia yang sempurna,


ini terbukti benar adanya. Akan tetapi, jika itu sekadar pembenaran untuk selalu pasrah apa adanya, lantas

apa bedanya dengan narasi minta dimaklumi. “Rocker juga manusia”? Apalagi, bila dijadikan alasan untuk lari dari kepedulian.

Yahudi bangsa yang berasal dari Israel (KBBI, 2002: 1277). Sementara  yang dimaksudkan dengan Israel adalah negara di Asia Barat. Letak posisi Israel dikelilingi oleh Laut Tengah, Semenanjung Sinai dan sejumlah negara, yakni Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, dan Mesir.

Sejumlah literatur Islam, menyebut Yahudi sebagai salah satu “musuh besar utama”, lantaran sifat dan perilakunya yang khas. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang kerap dicap “mau untung sendiri” dengan menyingkirkan rasa kemanusiaan. Sudah dari sono-nya begitu. Untuk yang semacam itu, tak sedikit orang mencemooh, “Yahudi kamu!”.

Terhadap sesama yang tengah “sekarat”, orang yang semacam itu masih sempat curi-curi petik untung. Dalam bentuk lain, misalnya, di masa COVID-19 sedang tinggi-tingginya melanda Indonesia, saat orang akan bepergian ke luar daerah, dia malah jual surat keterangan dengan harga jutaan rupiah. Ada pula yang tega ambil untung dari perawatan korban bencana alam atau mengkorupsi anggaran pengadaan bantuan sosial (bansos).

Di Indonesia, yang semacam itu populer dicap “ambil kesempatan dalam kesempitan”. Tambahannya, selain kikir, baru mau memberi jika ada peluang petik untung besar. Seloroh anak-anak muda dalam pergaulan sehar-hari, “Dia itu sih baru mau bantu, kalau ada untungnya.”      

Dari ceramah-ceramah, penulis tahu kisah Nabi Besar Muhammad Rasulullah Saw memperlakukan seorang pengemis Yahudi tua dan buta. Si Yahudi tua selalu menghina dan memburuk-burukan Kanjeng Nabi. Bahkan cercaan ia lontarkan ketika hampir setiap hari Rasul sengaja mendatangi untuk memberinya makan dengan langsung menyuapi. Si pengemis sendiri tak tahu, bahwa yang tengah melayaninya dengan sangat memanusiakan manusia itu, adalah Muhammad yang terus menerus ia cerca.  

Baca Juga: Ferdy Sambo dan Keharusan Reformasi Kepolisian

Suatu hari Umar bin Chatab yang datang menyuapinya. Meski buta, si pengemis tahu, kali ini yang meyuapinya bukan orang yang biasanya. Dari sentuhan fisik, ia ketahui itu. Lantas, ia bertanya, kemana orang yang kemarin-kemarin berbaik hati sengaja datang memberinya makan dan menyuapinya? Umar menjawab berterus terang, “Orang itu adalah Nabi Muhammad Saw. Umar mengaku datang menggantikan, lantaran Nabi Muhammad telah meninggal dunia.”

Kisah Kanjeng Nabi dengan pengemis Yahudi buta tersebut, terasa sangat kontroversial. Namun, juga satu sikap yang sangat memanusiakan. Cerita-cerita fakta serupa, pasti ada pula dalam kisah-kisah moral atau sejarah dalam agama-agama lain, yang penulis terbatas membacanya.

Sebut saja, kisah-kisah moral dan kepedulian dalam agama Nasrani, Hindu, Buda, atau Konghucu. Bahkan, dalam kemanusiaan. Presiden ke-4 RI yang amat akrab disapa Gus Dur, dalam kalimatnya yang sangat populer saya  maknai bahwa: “Kemanusiaan di atas segala-segalanya.”  

Sekitar 30 tahun silam, penulis bertandang ke rumah seorang tokoh organisasi Islam di Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Saat duduk-duduk di beranda rumahnya, datang seorang laki-laki peminta-minta. Masih muda, fisiknya kokoh, tampak luar sehat-sehat saja. Secara fisik, total mengesankan bahwa si pengemis sehat dan masih kuat. Saya tak memberinya apa-apa, kecuali bangkit dan setengah menghardik, “Kamu masih muda, sehat dan kuat lagi. Bekerjalah, jangan mengemis.”

Tak berapa lama, dari dalam rumah muncul tuan rumah. Lantas. laki-laki lewat paruh baya itu, malah memanggil si peminta-minta dan memberinya sejumlah uang receh. Kemudian, si pemuda pengemis pergi seraya mengucapkan terima kasih.

Sepeninggal si pengemis, laki-laki tuan rumah itu dengan arif berkata, “Kita tidak boleh memarahi orang seperti itu. Benar, dia masih sehat dan kuat fisiknya, tapi justru mungkin mentalnya yang perlu disadarkan. Itulah kemiskinan dia. Banyak cara menyadarkan seseorang, tapi tidak dengan memusuhi.”

Empat belas tahun lalu, Laki-laki sederhana dan bijak berusia 78 tahun (ketika itu) pensiunan BUMN itu, wafat di rumah anak laki-lakinya di Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Ia dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Istrinya, seorang pensiunan guru, berpulang tiga tahun kemudian dan dimakamkan berdekatan dengan kuburnya.

Jauh-jauh sebelumnya, sekitar 55 tahun silam, penulis yang baru berusia sembilan tahun, mengetahui  ada seorang “pejabat kecil” BUMN tranportasi yang hidup sederhana di rumah dinasnya, juga di Prabumulih. Kota ini kini merupakan salah satu kota di Provinsi Sumsel (di masa lalu masuk dalam Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah/LIOT).

Kepedulian laki-laki itu juga sangat tinggi, terutama pada anak-anak terlantar. Istrinya demikian pula. Ia bukan dari kalangan agamawan atau tokoh organisasi keagamaan. Letak rumah dinasnya tak jauh dari stasiun kereta api (KA). Waktu itu KA dikelola oleh Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) setelah perubahan dari Djawatan Kereta Api (DKA). Kini DKA atau PNKA sudah bermetamorfosa menjadi PT. Kereta Api Indonesia (KAI).  

Ia punya anak enam orang. Tetapi, hampir setiap tiga bulan sekali di rumahnya selalu ada dua atau tiga anak usia belasan tahun yang bukan anak atau anggota keluarga mereka. Selalu berganti-ganti. Ini diketahui dari wajah mereka yang selalu lain dari yang tiga bulan sebelumnya. Umumnya mereka adalah anak-anak (laki-laki) terlantar yang kerap keleleran di stasiun KA.

Biasanya mereka turun dari KA angkutan barang yang membawanya dari arah Lampung. Tanpa tujuan yang pasti, rata-rata mereka  datang dari Jawa menyeberang ke Lampung dan meneruskan perjalanan dengan KA ke arah Suimsel. Di daerah asalnya, mereka adalah anak-anak yang dari keluarga tak mampu.  

Oleh si istri pegawai PNKA tersebut, anak-anak terlantar itu dimodali berjualan kueh-kueh basah, yang dibuat sendiri oleh Si Ibu. Ada pula yang dibikinkan kotak semir oleh salah seorang anak laki-laki keluarga itu yang masih duduk di bangku SMP. Ia  pandai dalam membuat kerajian, bermusik, dan menggambar.

Dengan kotak semir bertali menggelantung di pundak, si anak terlantar tadi beredar di tempat-tempat umum. Mereka ke sana ke mari menawarkan jasa semir sepatu kepada orang-orang bersepatu yang mereka jumpai. Masih jelas membayang dalam benak saya, anak-anak terlantar itu keluyuran di area stasiun KA Prabumulih. Di pundak mereka, menggelantung kotak bertuliskan “Boot Polish, Semir Sepatu”.

Dari penghasilan berjualan kueh-kueh basah produksi Si Ibu atau dari hasil menyemir yang kemudian dikumpulkan pada si Ibu, anak-anak terlantar itu tiga bulan kemudian dipulangkan ke kampung halamannya. Begitu, kerap berlanjut hamper tiap-tiap tiga bulan sekali berikutnya.

Kemiskinan dan Kepedulian

PENDUDUK Indonesia saat ini berjumlah lebih dari 270 Juta jiwa --bagian dari sekitar delapan miliar jiwa penduduk dunia. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), di Indonesia pada Maret 2022, tercatat 9,54% warga miskin. Jumlah ini,  disebutkan menurun 0,17 poin bila dibandingkan dengan kondisi September 2021, ketika tercatat 9,71 warga miskin (databoks.katadata.co.id., 21/07/2022, 10:20 WIB).  

Secara datatif, Indonesia masih beruntung. Pada 2021, Indonesia tidak termasuk di antara 25 negara termiskin di dunia, yang mayoritas di belahan Afrika. Ke-25 negara ini, di antaranya Burundi dengan PDB perkapita pada 2020 sebesar 263.67 dolar AS (US$). Jika per dolar dikurskan Rp 15.000 (kurs pada Mei 2020), berarti sama dengan Rp 3.955.050. Sementara yang tertinggi PDB-nya di antara negara-negara termiskin, di dunia itu, yakni Zimbabwe dengan PDB per kapita US$ 921.85 (cnbcindonesia.com, 23 Juni 2022, 12.50).

Negara-negara termiskin lainnya disebutkan, Sudan Selatan (US $303.15), Malawi (US$399.10), Mozambik (US $455.01), Republik Demokratik Kongo (US $456.89), Republik Afrika Tengah (US$ 480.50), Afaganistan (US$ 499.44), dan Madagaskar (US$ 514.85). Selain itu, juga Siera Leone (US$ 518.47), Niger (US$ 535.83), Eritria (US$ 585.16), Chad (US$ 639.85), Yaman (US$ 645.3), Liberia (US$ 653.60), Togo (US$ 690.28), Haiti (US$ 723.07), Sudan (US$ 734.0), Gambia (US$ 746.33), Guenia Bissau (US$ 766.75), Burkina Fasso (US$ 766.83), Rwanda (US$ 823.40), Tajikistan (US$ 833.55),  Mali (US 899.22), Uganda (US 915.35), dan yang tertinggi Zimbabwe dengan per kapita PDB-nya 921,85 dolar AS  atau setara Rp 13.827.750.

Lantas, di mana posisi Indonesia? Laporan Bank Dunia menyebutkan, pendapatan nasional bruto (gross national income/ GNI) per kapita Indonesia mencapai US$ 4.140 pada 2021. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yang masih US$3.870. Kurs dolar AS terhadap rupiah Indonesia per April 2021, sebesar Rp 11.675. Maka, jika dirupiahkan setara dengan Rp 48.334.500. Memang terasa cukup besar, namun jika dirata-ratakan per bulan (dibagi 12) tinggal Rp 4 juta lebih saja. Wajar saja Indonesia digolongkan dalam kelompok negara dengan GNI menengah bawah. Menurut kategori terbaru dari Bank Dunia, negara menengah bawah di dunia, memiliki GNI per kapita pada kisaran US$ 1.086 – US$ 4.255 (databoks.katadata.co.id, 04/07/2022, 17:10 WIB).  

Angka-angka tersebut adalah angka rata-rata. Untuk mencari solusi yang minimal, begitu kata metodolgi. Apakah, dapat jauh lebih realistis senyatanya? setidaknya dapat mendekati kebenaran. Catatannya, kini sehari-hari masih ditemukan kenyataan lebih memrihatinkan.

Misalnya, nyata-nyata, Pemerintah masih harus bagi-bagi bantuan langsung tunai  (BLT). Di antara para penerima, masih terdaoat mereka yang senang menerima BLT ketimbang berusaha sendiri. Bila ditanya mengapa tidak bekerja, jawabannya, “Kami mau bekerja kalau memang tersedia lapangan kerja”.

Akan tetapi, ketika dipertanyakan lebih dalam apa yang mereka maksudkan dengan “tersedia lapangan kerja”, ternyata memang lebih senang menjadi “penerima upah”. Mereka bukan semacam  entrepreneur atau sosok pekerja mandiri.

Memilih mapang ada penghasilan tetapi setiap bulannya. Lebih memrihatinkan lagi, rupanya, mereka tidak berkemampuan meberdayakan keterampilan sendiri. Mereka unskill alias tak punya keterampilan yang bisa “dijual”. Tentang pendidikan, sebenarnya, cukup lumayan. Ada yang SMTP atau SMTA, tetapi juga di antaranya  yag sarjana.

Sampai di situ dunia pendidikan yang layak menjadi “tergugat”. Sudah seberapa jauh penyelenggara pendidikan mampu menjawab permintaan pasar? Dalam artian, bukan sekadar meluluskan siswa atau mahasiswa untuk memenuhi permintaan penyedia lapangan kerja, melainkan mencipta lapangan kerja, baik bagi diri sendiri maupun sesama. Suatu ketika di masa lalu, si otak moncer dari Indonesia, B.J. Habibie pernah berkata, “Sudah waktunya, dunia pendidikan Indonesia mampu menjawab permintaan pasar.”      

Penggerak Ekonomi Kerakyatan  

Terlepas besar atau kecil jumlahnya, masih banyak atau tinggal sedikit, membaca angka rata-rata pendapatan warga, jelas ada langkah perata-rataan. Artinya, ada yang sesungguhnya miskin atau pas-pasan, ikut terbawa ke dalam hitungan rata-rata.

Bagi yang berpendapatan di atas rata-rata, tentu tak kan terganggu. Meski, media kerap memberitakan, “Mereka yang mampu, ternyata masih terdaftar sebagai penerima  BLT”. Rupanya, mereka bangga sebagai penerima bantuan, bila tidak mau dikatakan “kurang rasa malu” atau “mau cari gampang”. Padahal, itu berarti mengurangi jumlah sesama yang sesungguhnya lebih berhak ketimbang “golongan berpura-pura tak mampu”.  

Suatu ketika pernah terdengar, ada program Pemerintah tentang pemberdayaan ekonomi pesantren. Sengaja saya menuliskan pesantren sebagai contoh, dengan pemikiran bahwa seluruh warga negara Indonesia adalah umat beragama.

Maknanya, bisa pesantren dan bisa pula rumah ibadah (agama yang ada) sebagai pusat ibadah ritual bersama dan pusat kajian ekonomi (bukan tempat melakukan kegiatan ekonomi, seperti perdagangan). Selain juga, riil manusianya yang hidup bermasyarakat.

Kembali kepada Nabi besar Muhammad Rasulullah Saw yang carness terhadap pengemis Yahudi tua dan buta di awal tadi. Saya sangat yakin, tiada manusia yang tulus melebihi kebesaran jiwanya. Michael Hart dalam ”The 100” menempatkan Muhammad pada urutan teratas orang-orang besar di dunia.

Dengan paradigma kemanusiaan, saya ingin mengatakan, Nabi telah berbuat   atas dasar keikhlasan dan kebesaran jiwa. Terhadap seorang Yahudi, sekalipun. Sikap dan tindakan konkret, juga telah ditunjukkan dua keluarga sederhana di Kota Prabumulih (Sumsel) tadi. Keduanya, hanya contoh yang sangat mungkin dikembangkan lebih jauh di bumi Indonesia yang kaya ditebari orang-orang beragama berikut rumah-tumah ibadahnya.

Rumah-rumah ibadah, tentu saja, terutama merupakan tempat ibadah ritual bersama bagi penganutnya. Rumah ibadah, sangat mampu mengaduk-aduk emosi kaumnya untuk terlibat dalam jutaan kebaikan bagi sesama manusia. Indonesia yang merupakan negara terbesar berpenduduk Muslim, seperti siaran Kementerian Agama, per Mei 2022 memiliki total 290.161 masjid, tersebar di 34 provinsi (databoks.katadata.co.id. 17/05/2022, 09:00 WIB).

Jumlah rumah ibadah di Tanah Air, tentu akan bertambah lebih banyak lagi ketika menyebut umat beragama lainnya, seperti Nasarani, Hindu, Budha, Konghucu atau kepercayaan yang telah diakui keberadaannya oleh Pemerintah.

Rumah ibadah bukan cuma seonggok bangunan besar, resik nan indah. Selepas digunakan, lantas tutup kembali. Setiap ajaran agama yang dilantangkan dari mimbar terhormat rumah ibadah, selain sebagai ajakan pemujaan akan kebesaran Tuhan, patut pula diimplementasikan secara konkret dan benar dalam kehidupan sosial. Ini bentuk bersyukur yang impelementatif.  

Penulis sangat meyakini, agama paling ampuh memengaruhi, secara rasional dan emosional, menggerakkan umat untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Wujud ajakan kebaikan, bukan sekadar menyemangati lewat khotbah-khotbah atau ceramah-ceramah, tetapi akan lebih efektif bila juga nyata-nyata menyatukan potensi energi dan pemikiran memajukan kehidupan masyarakat.

Sebagian derma umat yang terkumpul pada pengurus rumah ibadah, sejauh dibenarkan oleh agama, tentu dapat digunakan untuk pengembangan kegiatan demi   kemajuan dan kebaikan sehingga persoalan-persoalan yang melilit kehidupan sesama, dapat di atasi bersama. Usaha bersama, rasanya, dapat dilaksanakan dalam suasana yang lebih guyub. Di sinilah toleransi dan kepedulian produktif dan bernilai kemasyarakatan, dapat lebih dikembangkan.

Bukan rahasia lagi, secara umum, hidup dalam iklim kebersamaan di Tanah Air, amat dikenal sebagai gotong-royong. Aktivitas bersama Ini, sudah lama hidup dan dikembangkan oleh masyarakat bangsa Indonesia dalam keberagamannya. Bahkan, gotong-royong kini kerap dipidatokan oleh para pejabat dalam kata lain, yaitu sinergitas atau kerja bareng untuk menuntaskan suatu persoalan kemasyarakatan.

Gotong royong, telah lama hidup dan berkembang di berbagai masyarakat Indonesia, yang beragam dalam agama, etnis, dan budaya. Oleh Bapak pendiri bangsa Bung Karno (BK), gotong-royong kerap dipidatokan untuk membakar semangat rakyat dalam menghadapi persoalan-persoalan bersama. Oleh karena itu, boleh jadi, gotong-royong memang sudah menjadi sistem nilai budaya.

Dalam “Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembanguan”, Koentjaraningrat menulis, sistem nilai budaya orang Indonesia mengandung empat konsep:  (1) Manusia itu tidak hidup sendiri; (2) Dengan demikian, dalam segala aspek kehidupan, manusia pada hakikatnya tergantung pada sesama; (3) Karena itu, ia harus memelihara hubungan baik pada sesama, dan (4) Selalu berusaha sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan bersama sesamanya dalam komunitas, terdorong oleh jiwa sama tinggi – sama rendah (2015: 69-70).  

Dalam iklim dan paradigma yang telah menjadi sistem nilai seperti itu, kepedulian yang didasarkan atas kebersamaan, terasa sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Apalagi, menurut Bank Dunia, dilihat dari GNI perkapita, Indonesia masih tergolong menengah bawah. Ini dapat dimaknai masih perlu dukungan semua pihak, terutama kemandirian masyarakat. Dampaknya, terdongkraknya  kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Bagi bangsa Indonesia yang baru saja melalui usia 77 tahun ini, hal tersebut tentu bagus sebagai sebuah koreksi untuk dapat lebih maju. Tentu, maju dengan tanpa kehilangan identitas gotong-royong karena ditenggelamkan oleh liberalisme si pencipta iklim amat kapitalistik.

Sampai di situ, sebagai sebuah kepedulian konkret yang implementatif, rasanya rumah-rumah ibadah layak dipertimbangkan menjadi pusat pengumpulan energi bagi kegiatan kajian dan pemikiran kemajuan ekonomi warga. Aktivitasnya, dijamin oleh masyarakat sendiri dan dilakukan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Bila hal tersebut berhasil diwujudkan, derma dan kekuatan masyarakat yang terkumpul menyatu pada rumah-rumah ibadah, selain digunakan untuk untuk mematut-matut rumah ibadah, juga dapat digunakan untuk mencipta lapangan kerja atau aktivitas  produktif bagi masyarakat sendiri.

Amat sayang bila potensi kuat rumah ibadah di daerah-daerah di Tanah Air, tidak segera diorganisasi dengan baik secara manajerial. Sebagai contoh, rumah-rumah ibadah yang dikelola oleh kalangan Polri dan TNI, telah lama menggerakkan aktivitas sosial sepekan sekali di setiap Jumat.

Di Serang (Banten), misalnya. Sejak jelang akhir 2018, dengan dimotori oleh Direktur Pengamanan Objek Vital (sejak masih Kabid Humas) Polda Banten, Kombes Pol. Edy Sumardi, S.I.K., M.H., aktivitas sosial yang diberi nama “Jumat Barokah” tetap ajeg hingga kini.  

Baca Juga: Wah, Potensi Korupsi IT di Pemerintahan

Kegiatan bagi-bagi bantuan makanan/ sembako serupa di Serang dan sekitarnya itu, layak ditingkatkan menjadi “kail”. Dengan begitu, masyarakat penerima bantuan tak selamanyanya menjadi “penerima ikan” saja, tetapi terpacu produktif untuk menjadi mandiri. Pada girlirannnya, mereka pula kelak mampu berbuat hal serupa kepada  sesama yang lain lagi yang memang patut dientaskan.      

Dengan gotong-royong sebagai sebuah sistem nilai yang mampu menggerakkan kebersamaan masyarakan, diharapkan akan terwujud rumah ibadah sebagai pusat kajian dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Bentuk konkretnya, bisa saja semacam koperasi yang diperjuangkan oleh “Mr. Honest and Clean” Bung Hatta semasa hidupnya.

Permasalahan hidup bukan cuma soal sakit dan kematian. Ramai-ramai turut berduka sembari mengeluarkan sumbangan (materi) di saat sesama sedang berduka, sungguh terpuji.

Akan tetapi, wujud dari berani hidup itu adalah juga mampu menjadi “kail” bagi sesama yang tengah dilanda kesulitan dalam berekonomi. Jadikan mereka bagian dari kekuatan usaha bersama sehingga terwujud “manusia yang tidak bangga menjadi penerima BLT atau sejenisnya”. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga