Oleh: Zaenal Abidin

Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 2012-2015 dan Ketua Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI)

MAKAN adalah kebutuhan paling mendasar bagi kelangsungan hidup manusia. Namun di era modern, aktivitas yang berlangsung beberapa kali sehari ini telah bergeser dari sekadar pemenuhan nutrisi menjadi salah satu pendorong kerusakan lingkungan terbesar di planet ini.

Pergeseran ini berawal dari cara pangan diproduksi: pembabatan dan pembakaran hutan secara masif untuk membuka lahan monokultur dan industri pangan komersial menghilangkan resapan air dan daya ikat tanah, sehingga memicu erosi, longsor, dan banjir bandang yang mengancam ekosistem sekaligus permukiman manusia.

Skala persoalan ini tergambar jelas dari data. Special Report on Climate Change and Land IPCC (2019) mencatat sistem pangan global menyumbang 21–37% emisi gas rumah kaca dunia setiap tahun. Laporan FAO Tackling Climate Change through Livestock (2013) mencatat sektor peternakan saja menyumbang sekitar 14,5% emisi antropogenik global (setara emisi seluruh sektor transportasi), sementara data FAO AQUASTAT menunjukkan pertanian menyerap sekitar 70% penarikan air tawar dunia.