Malona Qunua: Tradisi Ramadan yang Memaknai Fase Penciptaan Manusia

Elfinasari, telisik indonesia
Jumat, 06 Maret 2026
0 dilihat
Malona Qunua: Tradisi Ramadan yang Memaknai Fase Penciptaan Manusia
Proses tradisi ritual adat Malona Qunua di Baruga Keraton Buton. Foto: Ist.

" Tradisi Malona Qunua menjadi salah satu warisan budaya dan spiritual masyarakat Buton yang terus dijaga hingga kini "

BAUBAU, TELISIK.ID - Tradisi Malona Qunua menjadi salah satu warisan budaya dan spiritual masyarakat Buton yang terus dijaga hingga kini.

Ritual yang dilaksanakan setiap pertengahan bulan suci Ramadan ini tidak hanya menjadi bagian dari ibadah, tetapi juga sarat dengan makna filosofis tentang perjalanan hidup manusia.

Budayawan Buton, Imran Qudus menjelaskan, Malona Qunua merupakan tradisi peninggalan leluhur yang telah dilaksanakan sejak masa Kesultanan Buton. Tradisi ini diperkirakan mulai dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-4 Sultan Dayanu Ikhsanuddin (La Elangi) yang memerintah pada tahun 1597-1631 yang menyempurnakan syariat islam dan menetapkan Undang-Undang Martabat Tujuh.

Menurutnya, ritual ini digelar setiap pertengahan Ramadan, tepatnya pada malam ke-16. Dimulai sekitar pukul 24.00 Wita dengan salat Isya, Tarawih, dan Witir berjemaah. Dilanjutkan dengan pembacaan doa Qunut Nazila untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta perlindungan dari musibah bagi masyarakat dan negara.

“Secara syariat, pembacaan doa qunut pada pertengahan Ramadan juga merujuk pada praktik Rasulullah SAW. Tradisi ini kemudian berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat Buton hingga sekarang,” jelasnya kepada telisik.id Jumat (6/3/2026).

Selain dimaknai sebagai ritual ibadah, Malona Qunua juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam pemahaman masyarakat Buton, perjalanan bulan Ramadan dianalogikan sebagai proses penciptaan manusia hingga kembali pada kesucian atau fitrah.

Imran menjelaskan bahwa secara filosofis, fase-fase Ramadan menggambarkan tahapan perkembangan manusia dalam kandungan.

Baca Juga: Desa Wisata Namu Tuan Rumah Global Cultural Immersion Program 2026, Akademisi 8 Negara Siap Datang Belajar Budaya

Fase pertama adalah nutfah, yakni tahap pertemuan ovum dan sperma sebagai awal kehidupan. Dalam analogi Ramadan, fase ini digambarkan pada hari ke 1 hingga 10 Ramadan.

Fase kedua adalah alaqah, yaitu tahap ketika manusia berbentuk segumpal darah. Fase ini berlangsung pada hari ke 11 hingga 16 Ramadan dan berkaitan dengan momentum pelaksanaan Malona Qunua.

Selanjutnya fase mudghah, yaitu fase segumpal daging (ketika manusia mulai terbentuk dengan tulang dan struktur tubuh yang lebih jelas, yang dianalogikan pada hari ke 17 hingga 27 Ramadan.

Kemudian fase Insan Muhammad. Atau fase terakhir berlangsung pada hari ke 28 hingga 30 Ramadan, ketika manusia telah memiliki bentuk yang sempurna. Dalam simbolisasi masyarakat Buton, bentuk tersebut dianalogikan menyerupai huruf-huruf dalam nama Muhammad pada aksara hijaiyah.

Puncaknya terjadi pada 1 Syawal ketika meriam dibunyikan sebagai tanda takbir kemenangan, yang secara filosofis dimaknai sebagai kelahiran kembali manusia dalam keadaan suci setelah menjalani proses spiritual selama Ramadan.

Tradisi Malona Qunua sendiri dilaksanakan di sejumlah masjid di Kota Baubau, di antaranya Masjid Kuba Kesultanan Baadia, Masjid Sorawolio, Masjid Wameo, Masjid Al Muqarabin, Masjid Kaobula, Masjid Bone-Bone, Masjid Wajo, Masjid Nganganaumala, serta Masjid Warumusio.

Sementara itu, Pemerintah Kota Baubau terus berupaya menjaga keberlangsungan tradisi ini. Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darus Salam mengatakan, Malona Qunua merupakan warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Buton.

“Ini adalah warisan luar biasa. Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berkomitmen untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan ritual ini setiap tahunnya di bulan Ramadan,” ujarnya.

Menurutnya, lebih dari sekadar ritual keagamaan, Malona Qunua juga menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antara masyarakat, perangkat adat, ulama, dan pemerintah daerah.

Ritual yang dipusatkan di Baruga Keraton Buton ini juga dihadiri oleh Wali Kota Baubau, Yusran Fahim bersama Wakil Wali Kota Waode Hamsinah Bolu, perangkat adat sara kidina Masjid Agung Keraton Wolio, jajaran Forkopimda, serta tokoh masyarakat.

Sebagai rangkaian penutup kegiatan, pemerintah kota melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga menyiapkan hidangan sahur bersama bagi masyarakat yang hadir.

Baca Juga: Eksotisme Karamba Resto di Perairan Lande Buton Selatan

Salah seorang warga Baubau yang mengikuti malam Malona Qunua, Harni, mengaku sudah beberapa kali menghadiri tradisi tersebut. Baginya, keikutsertaan dalam ritual ini menjadi sebuah keberkahan.

“Alhamdulillah, sudah beberapa kali ikut Malona Qunua. Rasanya sangat bersyukur bisa hadir karena ini tradisi warisan leluhur masyarakat Buton. Selain beribadah, kita juga bisa bersilaturahmi dengan banyak orang,” ujarnya.

Melalui tradisi ini, masyarakat Buton tidak hanya menjalankan ibadah Ramadan, tetapi juga menjaga warisan budaya dan nilai-nilai filosofis yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu. (A)

Penulis: Elfinasari

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga