adplus-dvertising

Persatuan dan Stigma Negatif Pasien COVID-19

Neldi Darmian L, telisik indonesia
Minggu, 01 Agustus 2021
646 dilihat
Persatuan dan Stigma Negatif Pasien COVID-19
Neldi Darmian L, Mahasiswa Akuntansi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Foto: Ist.

" Bangsa ini masih saja susah untuk dibuat bersatu dengan satu penyelesaian baku, polarisasi politik masih saja dengan mudah tumbuh subur di gaungkan oleh buzzer yang memanfaatkan situasi saat ini sebagai ladang meraup cuan. "

Oleh: Neldi Darmian L

Mahasiswa Akuntansi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

BANGSA ini masih saja susah untuk dibuat bersatu dengan satu penyelesaian baku, polarisasi politik masih saja dengan mudah tumbuh subur di gaungkan oleh buzzer yang memanfaatkan situasi saat ini sebagai ladang meraup cuan.


Masalah ini pun menjadi meruncing manakala kita dihadapkan dengan pandemi yang membutuhkan kesatuan warga-masyarakat dalam penyelesaian masalahnya.

Tarik ulur kebijakan pemerintah bukan tidak lain merupakan sebab-musabab kelimpungan akibat keterlambatan kita mengambil garis start pencegahan dan penanganan sedini mungkin terhadap pagebluk jahat ini.

Saat ini memang bukan lagi waktunya mempermasalahkan siapa benar dan siapa yang salah, siapa yang diangkat menjadi ketua satgas dan siapa yang menjadi stafsus, apalagi mereka yang mengambil keuntungan dari krisis ini.

Sungguh luar biasalah mereka. Kita serahkan semua kepada meja pengadilan dengan pertimbangan tuntutan yang sepadan.

Kita membutuhkan persatuan masyarakat Indonesia pada beragam lini saat ini.

Keberharapan penyelesaian masalah tidaklah patut kita harapkan sebatas pada pemerintah, lihatlah hari ini ketika masyarakat dan pemerintah tidak sejalan, kebijakan yang dikeluarkan tidak pula tepat sasaran.

“Kebijakan PPKM Darurat untuk pengusaha mah enak, kalau kami yang bekerja dengan bergantung pada mobilitas aktivitas langsung bagaimana,” ucap salah satu warganet.

Alhasil pagebluk makin massif menular, bila kebijakan tidak masuk pada titik sentral permasalahan, jalur koordinasi perumusan perlu di lihat secara akar rumput, pemerintah pun sebenarnya terlihat penuh kebimbangan dalam melihat permasalahan ini, setiap kebijakan pasti saja tidak akan diterima secara menyeluruh oleh 270 juta masyarakat indonesia.

Itu memang mustahil. Namun tanggungjawab terhadap permasalahan dapat dilihat dari komitmen pemerintah dalam merumuskan, menetapkan kebijakan, bila tingkat tertinggi rasanya belum optimis maka bagaimana dengan rakyatnya?

Pada beberapa hari yang lalu penulis melaksanakan penyemprotan disinfektan pada beberapa rumah warga tepatnya di Kecamatan Patuk Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan agenda kerja dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dalam pelaksanaannya, penyemprotan tidak hanya dilakukan pada rumah warga secara khusus namun juga kepada rumah-rumah warga yang saat ini terpapar positif COVID-19.

Pelaksanaan saat itu (24/7/2021) dibantu oleh beberapa warga dan perangkat dusun setempat. Penulis kembali melihat suasana yang tergambarkan di sosial media tentang warga yang terpapar positif yang saat ini sedang melaksanakan Isoman, sungguh sangat berbanding terbalik dengan situasi langsung di lapangan.

Baca juga: Anugerah Peradaban Baru, Notifikasi Mengganggu Konsentrasi

Baca juga: Nakes Ambyar, Kesehatan Buyar?

Pasien yang melaksanakan Isoman beberapa masih dalam status Orang Tanpa Gejala (OTG) namun streotipe yang di hembuskan di media sosial sungguh tidak merepresentasikan gambaran sebenarnya.

Sebelum pelaksanaan penyemprotan dilakukan, penulis dan beberapa teman bersama dengan pihak dusun melakukan breafing terlebih dahulu. Saya pun tertegun ketika salah-satu pihak dusun menyampaikan kurang lebih seperti ini.

“Masyarakat hari ini butuh dukungan moral, inspirasi-cerita dengan kesan menyenangkan, tersebab imun juga dapat meningkat bila ada dukungan sosial dan bukan sekat sosial kepada yang positif terpapar oleh pagebluk ini, kita perlu cukupkan dan hentikan pandangan-pandangan lain kepada saudara-saudara kita yang saat ini sedang berjuang melawan COVID-19 dalam tubuh mereka.”

Penulis merasa ini bukan hanya sebagai pesan penting kepada kami yang saat itu mendengarkan, namun pesan ini juga perlu di sampaikan kepada publik secara umum. Bahwa pagebluk ini sedang massif penyebarannya (karena kesalahan dan kelalaian kita) namun hal mendasar yang perlu kita ketahui, dukungan sosial secara bersama-sama perlu lagi secara massif untuk di kampanyekan.

Rakyat-bantu rakyat, kalimat ini harus di suarakan tidak hanya pada gerakan jari jempol media sosial namun juga secara nyata perlu di terapkan. Solidaritas dengan dasar kemanusiaan untuk menghadapi krisis ini adalah yang terpenting.

Berikan dukungan sosial kita, tuliskan ke media-media sosial, sampaikan melalui pesan singkat, atau dengan metode apapun yang bisa memantik senyuman dan meringankan beban moral saudara-saudara kita.

Terkonfirmasi positif bukanlah sebuah aib sosial yang harus kita desas-desuskan sebagai stereotipe buruk. Terlebih lagi di pinggirkan dan di jauhkan dari lingkungan sosial warga-masyarakat.

Bila kita berkecukupan, berkelebihan sedikit berilah dan bantulah saudara-saudara kita, bila itu dirasa berat cukuplah dukungan moril sampaikan kepada mereka, dan hentikan bahkan cukupkan menanamkan stereotipe buruk kepada saudara-saudara kita, sebab ketakutan-ketakutan mereka juga akan menurunkan imunitas yang merupakan daya tahan tubuh sebagai tameng penangguh bakteri jahat ini.

Virus ini akan makin massif berkelindan bila kita sendiri terlalu egois dan terkesan individualis mementingkan diri sendiri, tanpa tahu seberapa berat orang-orang di lingkungan kita yang saat ini sedang bertarung mematikan virus jahat ini dalam tubuh mereka.

Mari bersama-sama bergerak dengan dasar kemanusiaan. Insyaallah dalam waktu dekat kita akan keluar dengan senyuman kemenangan dari krisis ini. (*)

Artikel Terkait
Baca Juga