Profil Sumitro Djojohadikusumo: Orang Tua Prabowo Pencetus Awal Danantara

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 27 Februari 2025
0 dilihat
Profil Sumitro Djojohadikusumo: Orang Tua Prabowo Pencetus Awal Danantara
Sumitro Djojohadikusumo mencetuskan gagasan, Prabowo Subianto mewujudkannya lewat Danantara setelah puluhan tahun. Foto: Repro Wikipedia

" Danantara juga digadang-gadang menjadi salah satu dana kekayaan negara terbesar dunia dengan aset lebih dari US$ 900 miliar "

JAKARTA, TELISIK.ID - Pemikiran besar Sumitro Djojohadikusumo akhirnya terwujud setelah puluhan tahun menunggu. Prabowo Subianto, anak ketiganya, telah meresmikan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada 24 Februari 2025.

Peresmian Danantara menjadi tonggak sejarah karena merupakan Badan Pengelola Investasi pertama di Indonesia. Danantara juga digadang-gadang menjadi salah satu dana kekayaan negara terbesar dunia dengan aset lebih dari US$ 900 miliar.

Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, mengungkapkan bahwa Danantara merupakan gagasan dari orang tua mereka. Hashim menyebut bahwa kakaknya sangat emosional saat peresmian berlangsung.

"Pak Prabowo sangat emosional, ini kejadian emosional bagi beliau. Bagi saya juga Danantara ini gagasan dari orang tua kami," ujar Hashim, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (27/2/2025).

Sumitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo dan Hashim, adalah seorang ekonom yang memiliki banyak pemikiran besar. Ia merupakan mantan Menteri Keuangan RI dan tokoh penting dalam kebijakan ekonomi Indonesia.

Pada 1996, Sumitro mencetuskan gagasan pembentukan badan pengelola investasi untuk menampung dan memanfaatkan dana dari laba BUMN. Gagasan ini bertujuan untuk mencegah swastanisasi BUMN yang berpotensi memperkuat konglomerat.

Baca Juga: Profil Lengkap Arifatul Choiri Fauzi: Srikandi di Kabinet Prabowo Nahkoda PP Muslimat NU 2025-2030

Dalam pemberitaan Suara Karya pada 17 Desember 1996, Sumitro menegaskan pentingnya badan investasi tersebut. Menurutnya, dana yang dikumpulkan bisa digunakan untuk mendukung gerakan koperasi dan usaha kecil.

"Di samping berperan sebagai investment trust, lembaga itu juga dimungkinkan berperan sebagai dana jaminan yang di kala dianggap dapat turut serta dalam pembelian saham-saham perusahaan swasta maupun BUMN," ujar Sumitro dikutip dari Suara Karya.

Sebagai pengelola dana BUMN, badan tersebut harus independen, tetapi tetap mengikuti aturan keuangan negara. Sumitro juga menyarankan adanya dewan pengawas yang terdiri dari unsur keuangan, koperasi, dan produksi.

Sumitro mencetuskan ide tersebut berdasarkan proyeksi ekonomi 1997 yang diperkirakan membaik. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5%-8?ngan inflasi di bawah 7%.

Namun, di sisi lain, ia menyadari ketimpangan sosial semakin melebar. Oleh karena itu, ia mengusulkan pembentukan lembaga investasi untuk mengurangi kesenjangan ekonomi.

"Kita ketinggalan sekitar 17 tahun dibandingkan Malaysia yang telah membentuk Sharikat Permodalan Nasional Berhad guna memperkuat golongan bumiputera dalam kegiatan perekonomian," kata Sumitro.

Meski demikian, Sumitro menyadari bahwa gagasannya masih sebatas teori. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk menindaklanjutinya.

Gagasan Sumitro mendapat tanggapan beragam dari para ekonom dan pejabat negara. J.B Sumarlin, mantan Menteri Keuangan 1988-1993, menilai ide tersebut belum mendesak untuk diterapkan di Indonesia.

Sementara itu, Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Subiakto Tjakrawedaya mengapresiasi ide tersebut. Ia mengaku tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Namun, pemerintahan Soeharto saat itu tidak merealisasikan gagasan tersebut. Apalagi, proyeksi ekonomi Sumitro meleset karena Indonesia justru dihantam krisis finansial pada 1997.

Baca Juga: Sosok Sylvia Efi Widyantri Sumarlin: Didapuk jadi Staf Khusus Kemenhan Lama Berkecimpung di Dunia Teknologi

Gagasan besar Sumitro akhirnya harus menunggu hampir tiga dekade untuk diwujudkan. Baru pada 2025, ide tersebut dihidupkan kembali oleh Prabowo Subianto melalui pembentukan Danantara.

Danantara memang tidak sepenuhnya mengadopsi konsep awal Sumitro. Jika dulu fokusnya pada koperasi dan usaha kecil, kini Danantara lebih luas cakupannya.

Danantara akan mengelola investasi di berbagai sektor strategis seperti energi terbarukan, manufaktur, industri hilir, dan produksi pangan. Tujuannya untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.

Meskipun ada perbedaan, prinsip dasar Danantara tetap selaras dengan gagasan Sumitro. Yaitu, memanfaatkan dana investasi untuk kepentingan ekonomi nasional agar lebih mandiri dan stabil. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Fitrah Nugraha

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

TAG:
Baca Juga