Ramadan Bulan Berkasih Sayang

Syaifuddin Mustaming, telisik indonesia
Minggu, 24 Maret 2024
0 dilihat
Ramadan Bulan Berkasih Sayang
Syaifuddin Mustaming, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kolaka. Foto: Ist.

" Tidak sedikit orang yang rajin shalat, setelah beribadah puasa dengan ikhlas; mereka menjadi dermawan dan murah hati, menjadi pemaaf, gemar menolong dan peduli terhadap sesamanya "

Oleh: Syaifuddin Mustaming

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kolaka

SALAH satu keutamaan bulan suci Ramadan adalah bulan penuh kasih dan sayang. Ramadan sebagai bulan maghfirah, berkah dan rahmat (kasih sayang) senantiasa menuntun dan mendatangkan semangat bagi kaum muslimin untuk menjadi ahli ibadah (gemar beribadah) dan menghidupkan rasa cinta antar sesama.

Rasulullah SAW bersabda: “Dan bulan Ramadan adalah  bulan untuk berkasih sayang dan tolong menolong.” (al hadits)

Tidak sedikit orang yang rajin shalat, setelah beribadah puasa dengan ikhlas; mereka menjadi dermawan dan murah hati, menjadi pemaaf, gemar menolong dan peduli terhadap sesamanya.

Ibadah puasa yang dilakukan dengan iman dan ikhlas hanya untuk Allah, kemudian tidak melalaikan diri dari kewajiban lima shalat fardlu serta rutinitas amaliah (sunnah) lainnya, niscaya akan menjamin terbentuknya pribadi muslim yang benar-benar peduli terhadap lingkungan sekitarnya, atau dengan kata lain memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, yang pada gilirannya mengarahkan pada semakin tumbuh berkembangnya rasa cinta, kasih dan sayang sesamanya.

Baca Juga: Ibadah Puasa, antara Syariat dan Hakekat

Oleh karenanya, Rasulullah sangat respek kepada umatnya yang peduli terhadap orang yang berpuasa. Melalui haditsnya, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa: “Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, akan diberikan oleh Allah dari kolam saya yang sayalah meminumkannya, ia tidak akan haus sehingga masuk di dalam syurga.” (al hadits)

Betapa nikmat balasan bagi hamba-hamba yang dengan ikhlas memberi buka puasa, baik berupa makanan atau minuman yang halal kepada mereka yang telah berpuasa. Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah SAW menyatakan, bahwa : “Barang siapa memberi makan pada seseorang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah memberikan pahala baginya sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa.” (al hadits)

Baca Juga: Selusin Negara yang Pisahkan Ibu Kota

Selain itu, dalam Ramadan yang suci ini, umat Islam dituntut untuk memperbanyak ibadah sosial, seperti; zakat, infaq dan shadaqah. Tentunya dengan ibadah semacam ini akan semakin memperkokoh integritas hamba Allah yang juga mengemban predikat sebagai makhluk sosial. Tegasnya bahwa dengan zakat, infaq dan shadaqah yang ditunaikan umat Islam akan menjadi media sekaligus perangkai keutuhan status dan peran insan kamil, baik sebagai hamba Allah maupun makhluk sosial.

Dari beberapa mutiara hikmah puasa tersebut, sepatutnya menuntun orang yang (bersungguh-sungguh) berpuasa untuk mampu menumbuhkan dan meningkatkan kepekaan dan kepeduliannya terhadap fakir miskin-orang tak berpunya (the have not). Ibadah puasa harus mampu menjadi alat untuk mengasah jiwa dan batin kita agar senantiasa berfikir positif, jernih dan bersifat arif, tanggap serta peka terhadap masyarakat dan lingkungan sosial.

Mudah-mudahan, ibadah puasa serta amalan kita yang lainnya dapat menjadi sarana dalam upaya perbaikan hablun minallahi wahablun minannas, sehingga mengarahkan kita menuju keridhaan Allah SWT. Amin. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Artikel Terkait
Baca Juga