JAKARTA, TELISIK.ID - Setelah suasana Lebaran 2025 mereda, aroma reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran kembali menyeruak dari balik layar kekuasaan. Sorotan tajam mulai diarahkan ke sejumlah menteri, terutama yang dinilai tidak mampu menjaga komunikasi publik serta gagal menjawab tantangan ekonomi yang semakin berat.
Setelah Lebaran 2025, isu perombakan atau reshuffle kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran kembali menguat di tengah publik. Desas-desus ini tak hanya menyentuh sektor kinerja menteri, tetapi juga gaya komunikasi para pembantu presiden yang dinilai kerap menuai kontroversi.
Sejumlah nama mencuat sebagai kandidat kuat yang kemungkinan akan diganti. Di antaranya adalah Kepala Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi dan Menteri Investasi serta Hilirisasi Rosan Roeslani. Kedua pejabat ini dinilai publik memiliki catatan yang perlu dievaluasi secara serius.
Tekanan agar Presiden Prabowo Subianto segera mengevaluasi komposisi kabinet datang dari berbagai kalangan. Salah satu yang bersuara adalah politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Guntur Romli. Ia menekankan pentingnya presiden menyimak hasil survei dan evaluasi publik atas kinerja kabinetnya.
Menurut Guntur, evaluasi terhadap kabinet dapat dilakukan dengan melihat data hasil survei opini publik. Survei ini memuat penilaian kualitatif terhadap menteri dan kepala lembaga yang dinilai tidak mampu menjalankan program-program presiden secara efektif.
