adplus-dvertising

Taliban Dikabarkan Kembali Kuasai 85 Persen Afganistan, AS Luncurkan Operasi Pengungsian Sekutu

Marwan Azis, telisik indonesia
Sabtu, 17 Juli 2021
1848 dilihat
Taliban Dikabarkan Kembali Kuasai 85 Persen Afganistan, AS Luncurkan Operasi Pengungsian Sekutu
Kelompok Taliban. Foto: Repro Reuters

" Para pejuang Taliban dikabarkan kembali menguasai 85 persen wilayah Afganistan, setelah bertahun-tahun diinvasi Amerika Serikat. "

KABUL, TELISIK.ID - Para pejuang Taliban dikabarkan kembali menguasai 85 persen wilayah Afganistan, setelah bertahun-tahun diinvasi Amerika Serikat.

Hal tersebut tak lepas dari kebijakan Presiden Amerika Joe Biden, pasukan Amerika di Afghanistan mulai ditarik mundur sejak 1 Mei lalu dan diperkirakan akan sepenuhnya selesai pada 31 Agustus nanti.

Seiring penarikan itu, Taliban kembali merebut daerah-daerah strategis dan akhir pekan lalu mengklaim telah menguasai 85 persen wilayah Afghanistan.


Berdasarkan video yang dirilis oleh Taliban seperti dilansir Republika.co.id, bendera mereka yang berwarna putih dengan ayat Alquran berwarna hitam, berkibar menggantikan bendera Afghanistan di atas Gerbang Persahabatan di perbatasan kota Wesh, di seberang kota Chaman, Pakistan.

"Setelah dua dekade kebrutalan orang Amerika dan boneka mereka, gerbang ini dan distrik Spin Boldak direbut oleh Taliban," kata seorang militan Taliban di depan kamera.

"Perlawanan kuat dari Mujahidin dan rakyatnya memaksa musuh untuk meninggalkan daerah ini. Seperti yang Anda lihat, itu adalah bendera Imarah Islam, bendera yang dikibarkan oleh ribuan Mujahidin dengan darah mereka," ujarnya.

Persimpangan di distrik Spin Boldak di selatan kota utama selatan Afghanistan adalah titik masuk tersibuk di kedua negara, dan arteri komersial utama antara wilayah barat daya yang luas dan pelabuhan laut Pakistan.

Data pemerintah Afghanistan menunjukkan bahwa rute tersebut digunakan oleh 900 truk sehari.

Para pejabat Afghanistan mengatakan, pasukan pemerintah telah memukul mundur Taliban dan menguasai distrik itu.

Namun, warga sipil dan pejabat Pakistan mengatakan, Taliban tetap mengendalikan penyeberangan.

Baca juga: Ngeri di China, Langgar Prokes COVID-19 Nyawa Melayang

Baca juga: Ini Cara India Redakan Tsunami COVID-19 yang Bisa Ditiru

"Wesh, yang memiliki kepentingan besar dalam perdagangan Afghanistan dengan Pakistan dan negara-negara lain, telah dikuasai oleh Taliban," kata seorang pejabat keamanan Pakistan yang ditempatkan di daerah perbatasan.

Para pejabat di Chaman mengatakan, Taliban telah menangguhkan semua perjalanan melalui gerbang itu. Dalam beberapa hari terakhir, Taliban telah merebut penyeberangan perbatasan utama lainnya di provinsi Herat, Farah dan Kunduz di utara dan barat.

"Kontrol pos perbatasan memungkinkan Taliban untuk mengumpulkan pendapatan," kata Ketua Kamar Dagang dan Investasi Afghanistan di ibukota Kabul, Shafiqullah Attai.

Sekedar diketahui Taliban, yang merupakan kelompok pejuang Islam dari kalangan pesantren memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001.

Namun mereka digulingkan oleh invasi pasukan AS, setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, dimana Osama Bin Laden yang dituding dibalik serangan tersebut. Dan Osama saat itu mendapat perlindungan dari Pemerintahan Taliban.

Sejak saat itu, Taliban berupaya untuk menggulingkan pemerintah yang didukung Barat di Kabul.

Pasca Taliban kembali menguasai 85 persen wilayah Afganistan, kekhawatiran pun memuncak di Afghanistan, terutama di antara ribuan warga yang selama dua puluh tahun terakhir membantu pasukan Amerika dan kini mengkhawatirkan nasib mereka jika Taliban kembali berkuasa.

Dikutip dari VOA, situs berita resmi Pemerintah Amerika Serikat, Sabtu (17/7/2021) melaporkan, Gedung Putih sejak Rabu lalu (14/7/2021) mengumumkan peluncuran “Operation Allies Refuge” atau “Operasi Pengungsian Sekutu” untuk menerbangkan banyak warga Afghanistan yang menunggu Visa Imigran Khusus.

Tujuan evakuasi mereka masih dirahasiakan, tetapi dilaporkan pihak berwenang sedang melangsungkan perundingan dengan negara-negara Asia Tengah, seperti Kazakhstan, Tajikistan dan Uzbekistan sebagai lokasi evakuasi. (C)

Reporter: Marwan Azis

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga