Unik: Di Makassar Bendera Tim Kalah Piala Dunia Turun Setengah Tiang

Merdiyanto , telisik indonesia
Senin, 22 Juni 2026
0 dilihat
Unik: Di Makassar Bendera Tim Kalah Piala Dunia Turun Setengah Tiang
Tradisi unik kampung Jalan Titang, Makassar yang dikenal sebagai Kampung Piala Dunia dimana bendera tim kalah harus turun setengah tiang. Foto: Repro Kompas.com

" Sebuah tradisi unik kembali menyemarakkan salah satu kampung di Makassar, Sulawesi Selatan "

MAKASSAR, TELISIK.ID - Di tengah gemerlap Piala Dunia 2026, sebuah tradisi unik kembali menyemarakkan salah satu kampung di Makassar, Sulawesi Selatan.

Warga Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, yang dikenal sebagai “Kampung Piala Dunia”, kembali mengibarkan puluhan bendera negara peserta turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Namun, yang paling mencuri perhatian adalah aturan tak tertulis mereka, dimana bendera tim yang kalah harus diturunkan setengah tiang.

Tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun, setidaknya sejak sekitar 30-40 tahun lalu. Setiap kali Piala Dunia digelar, warga secara swadaya memasang bendera negara favorit mereka di depan rumah, sepanjang gang, dan sudut-sudut kampung, dilansir dari idntimes.com, Minggu (21/7/2026).

Bendera-bendera itu dikibarkan penuh selama tim masih bertahan di turnamen. Begitu tim kesayangan tersingkir terutama jika gugur di fase grup, pemilik rumah wajib menurunkan benderanya menjadi setengah tiang sebagai simbol duka dan akhir perjuangan.

Baca Juga: Unik: Pemilihan Ketua RT di Lubuklinggau Sumatera Selatan Ditentukan Lewat Adu Suit

“Kalau tim kita kalah dan sudah angkat koper, ya benderanya kami turunkan setengah tiang. Itu pertanda perjuangannya sudah selesai,” ujar Anto, salah seorang warga senior yang ikut menjaga tradisi ini.

Simbolisasi dan Semangat Komunitas

Menurut warga, tradisi menurunkan bendera setengah tiang ini terinspirasi dari makna universal penghormatan terhadap kekalahan dan perjuangan.

Mirip dengan pengibaran bendera setengah tiang untuk menghormati yang gugur, di sini bendera menjadi simbol “kematian” perjalanan tim di Piala Dunia.

Uniknya, aturan ini bersifat sukarela namun sangat ditaati secara gotong royong, dilansir dari Tribunnews, Minggu (21/6/2026).

Selain bendera, warga juga menggelar nobar di sepanjang jalan, menghiasi gang dengan atribut bola, dan saling mendukung tim favorit masing-masing.

Suasana kampung yang semarak ini kerap menarik perhatian wisatawan dan media nasional, menjadikan Jalan Titang sebagai destinasi unik saat musim Piala Dunia.

Baca Juga: Unik: Pertama di Dunia, Spa di Hong Kong Ini Tawarkan Cat Massage

Tradisi yang Tetap Hidup

Meski Piala Dunia 2026 masih berlangsung, beberapa bendera sudah mulai turun setengah tiang menyusul hasil pertandingan fase grup.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Makassar saat Piala Dunia, Jalan Titang menjadi tempat yang wajib disinggahi.

Di sini, sepak bola bukan hanya pertandingan di layar televisi, tapi juga pesta warna-warni bendera yang naik-turun mengikuti irama laga. (C)

Penulis: Merdiyanto

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga