adplus-dvertising

Victor Fidelis: Pengutip Satwa Endemik di Hutan Kalimantan

Haidir Muhari, telisik indonesia
Rabu, 02 Juni 2021
1723 dilihat
Victor Fidelis: Pengutip Satwa Endemik di Hutan Kalimantan
Victor Fidelis. Foto: Repro Kumparan.com

" Nah, lewat medium fotografi aku berharap dengan kondisi alam dan budaya kita yang unik ini, aku dapat melestarikan lewat foto-foto yang aku buat. Tujuan lainnya sebagai arsip buat generasi yang akan datang. "

PONTIANAK, TELISIK.ID - Pria asal Pontianak ini mengarak hobinya untuk mengabadikan satwa endemik di paru-paru dunia, hutan Kalimantan.

Victor Fidelis Sentosa, fotografer asal Pontianak, Kalimantan Barat, sejak awal tertarik dengan alam dan budaya. Ia mendokumentasikan dan memotret pusaka Kalimantan dari balik lensa.

Pulau Kalimantan memang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia, karena hutannya yang luas. Luasnya diperkirakan mencapai 40,8 juta hektar. Namun deforestasi juga terus meningkat.


Faktor deforestasi itu beragam. Beberapa hutan Kalimantan berubah menjadi perkebunan monokultur sawit dan tambang batu bara.

Dilansir dari Kompas.com (2/6/2021), pembukaan lahan baru untuk tambang meningkat sebesar 13 persen dalam waktu hanya dua tahun.

Pada tahun 2013 luas lahan untuk pertambangan ialah 54.238 hektar. Peningkatan luas perkebunan antara 2009 sampai 2011 sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun. Menurut Greenpeace, hutan di Kalimantan hanya tersisa 25,5 juta di tahun 2010.

Baca juga: Jadi Kepala BNPB, Ini Profil dan Sepak Terjang Karir Letnan TNI Ganip Warsito

Deforestasi merusak jenis pohon, mengancam satwa liar, bahkan cepat atau lambat akan berdampak pada kehidupan kita manusia. Climate change dan dampak deforestasi lainnya, akhirnya bisa mencekik kehidupan manusia.

Sejak 2012, Victor kerap kali keluar masuk hutan Kalimantan untuk memotret satwa-satwa yang hampir punah. Lensa kameranya benar-benar mengabadikan potret suasana hutan Kalimantan.

“Kalau aku genrenya lebih ke arah dokumenter dan wildlife, keluar masuk hutan itu sejak tahun 2012,” ungkapnya seperti dilansir daru Hi!Pontianak.

Hutan Kalimantan adalah hutan yang unik. Hutan itu telah memikatnya, sehingga terus menekuni hobi ini hingga sekarang.

“Nah, lewat medium fotografi aku berharap dengan kondisi alam dan budaya kita yang unik ini, aku dapat melestarikan lewat foto-foto yang aku buat. Tujuan lainnya sebagai arsip buat generasi yang akan datang,” ucapnya.

Satwa-satwa langka hanya akan menjadi cerita, bahkan dongeng untuk generasi mendatang. Meskipun memotret satwa langka di alam liar butuh ketelatenan khusus.

Baca juga: Gilang-Sandy, Couplepreneur sebagai Crazy Rich Malang

Victor mengisahkan memotret satwa liar seperti berburu keberuntungan. Ada yang telah berkali-kali keluar masuk hutan, tapi belum pernah berhasil menemukan satwa liar.

“Jadi, kesimpulannya memotret satwa liar itu selain harus punya keahlian tapi juga faktor keberuntungan,” lanjutnya.

Beberapa satwa endemik Kalimantan Barat telah berhasil ia abadikan lewat lensa. Seperti orang utan, pesut Kubu Raya, bekantan, katak barbourula yang tidak memiliki paru-paru, burung enggang, dan lain sebagainya.

Selain itu karya fotonya tentang gerakan restorasi mangrove untuk mengembalikan fungsi kawasan pesisir sebagai ekosistem penunjang kehidupan berhasil menyabet juara dalam kompetisi global Mangrove Photography Awards 2020. yang  Kompetisi ini diselenggarakan oleh Mangrove Action Project dan diikuti oleh fotografer dari 70 negara.

Victor berharap, kutipan dari kameranya bisa menjadi penyampai pesan untuk semua orang, sekarang dan di masa yang akan datang. Ia ingin menyampaikan bahwa kita perlu menjaga satwa endemik agar tidak punah.

"Seharusnya kitalah yang menjaga agar keberadaan satwa-satwa endemik kita tidak punah akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia," pintanya. (C)

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Fitrah Nugraha

TAG:
Baca Juga