Begini Kisah Para Dosen Mengajar di Tengah Isu Covid-19

Ridwan Amsyah

Reporter Baubau

Sabtu, 21 Maret 2020  /  2:25 pm

Proses Perkuliahan Dalam Jaringan (Daring). Foto: Ridwan Amsyah/Telisik

BAUBAU, TELISIK.ID - Ancaman pandemi COVID-19 menyebabkan hampir semua aktivitas di masyarakat terhambat. Tak terkecuali dengan tenaga pendidik.

Di tengah pandemi COVID-19 guru maupun tenaga pendidik lainnya, tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

Selain tenaga medis yang kita acungi jempol atas jasa-jasa berdiri diujung tombak kesehatan masyarakat, tenaga pendidik juga patut kita apresiasi.

Peran pendidik yang melekat pada diri mereka, tetap dijalankan ditengah mewabahnya COVID-19. Apalagi sesuai seruan Presiden Republik Indonesia mengenai Sosial Distancing untuk memperlambat penyeberan COVID-19 .

Salah satu Dosen yang  mau berbagi kisah adalah Tofan Stofiana, S.Pd, M.Pd. dia adalah salah satu Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) di Kampus Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton).

Baca Juga : Jaminan Keselamatan dan Kesejahteraan Bagi Paramedis dalam Menangani COVID-19

Menurutnya, menjaga kesehatan penting tapi memperjuangkan pendidikan lebih penting.

"Kita sebagai dosen tetap menjalankan tugas sesuai arahan Kepala Prodi (Kaprodi)," ucapnya di rumahnya BTN Wanabakti Kelurahan Lipu, Sabtu (21/03/2020).

Dalam menjalankan tugasnya, dosen tersebut menggunakan metode Dalam Jaringan (Daring) atau online. Menurutnya juga efektivitas metode daring atau online, sudah sesuai dengan yang diharapkan.

"Banyak keuntungan, pertama memudahkan pembelajaran ditengah isu COVID-19, kedua bahan materinya bisa gampang diunduh dan dibagikan kepada mahasiswa, terakhir dengan metode daring bisa mengajar dimana saja," jelasnya.

Bapak dua anak tersebut tidak menafikan kekurangan metode pengajaran tersebut. Katanya, karena masih baru jadi mesti menyesuaikan diri.

Baca Juga : Lawan COVID-19, BPBD Semprot Disinfektan di Pelabuhan Kendari

"Tidak hanya mahasiswa yang menyesuaikan, tetapi juga kami dosen-dosen di PBSI," ucapnya.

Terakhir Tofan Stofiana berharap, agar COVID-19 segera diangkat dari muka bumi sehingga semua aktivitas bisa kembali normal, terutama di bidang pendidikan.

Dosen lain yang berbagi cerita ialah  Asrul Nazar, S.Pd. M.Hum. Kaprodi PBSI UM Buton. Dia mengatakan, pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) esensinya sama dengan pembelajaran Luar Jaringan (Luring) atau di kelas, yang membedakan adalah tatap muka langsung dan tidak langsung.

"Pembelajaran Daring tentu memiliki fleksibilitas ruang yang tidak terjangkau dibandingkan Luring, tetapi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya Dosen dalam melaksanakan pengajaran ketika berhalangan masuk kelas bisa menggunakan pembelajaran Daring kepada mahasiswa. Kekurangannya terlebih kepada kesiapan paket data mahasiswa," jelasnya via WhatsApp, Sabtu (21/03/2020).

Keputusan Presiden, tentang diliburkannya semua jenjang pendidikan disebabkan  COVID-19 membuat dosen-dosen keluar dari zona nyaman mengajar di kelas atau Luring menjadi Daring.

Baca Juga : Sekda Mengaku Tak Tahu Soal Perubahan Perbup TPP

Harapan Asrul nazar adalah agar Covid-19 segera tuntas.

"Untuk pembelajaran akan dilakukan secara combain, baik Daring maupun Luring, sebab kita harus siap dengan Revolusi Industri 4.0," pungkasnya.

 

Reporter: Ridwan Amsyah

Editor: Sumarlin