Beraksi Sendiri, AI Curi Data Pemerintahan Taiwan
Content Creator
Sabtu, 22 Agustus 2026 / 9:45 pm
Sekitar 85 akun pemerintah Taiwan dan lebih dari 2.500 data pegawai berhasil dicuri oleh kecerdasan buatan (AI) yang berjalan secara otonom. Foto: Repro VGTimes
TAIPEI, TELISIK.ID - Perusahaan keamanan siber asal Israel, Dream, mengungkap temuan serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berjalan secara otonom di Taiwan.
Menurut laporan FT, serangan AI otonom pertama di dunia ini mampu meretas secara mandiri dari awal hingga akhir dengan keterlibatan manusia yang sangat minim, hingga berdampak pada pembobolan sekitar 85 akun pemerintah Taiwan dan pencurian lebih dari 2.500 data pegawai.
Hanya dalam waktu empat hari, serangkaian serangan ini meluas hingga menyasar badan pengawas keselamatan nuklir Taiwan serta sedikitnya tujuh perusahaan energi.
Peneliti Dream menemukan penggunaan dua agen AI open-source (Hermes dan OpenClaw) di dalam arsip daring berukuran 160 MB yang memuat 1.395 file, dilansir dari Kompas, Sabtu (22/8/2026).
Delapan agen AI digunakan secara bersamaan untuk mempercepat serangan—mulai dari pemetaan target, pencarian celah, hingga penanganan kegagalan akses.
Baca Juga: Saudi Gandeng Pakistan dan Turki Buat Pakta Pertahanan Tandingan NATO saat Ancaman Iran Makin Besar
Demi melancarkan peretasan dan mencegah agen AI menolak instruksi, para pelaku menyamarkan seluruh instruksi tersebut sebagai prosedur pengujian keamanan.
Meski memanfaatkan AI, serangan ini dilaporkan tidak mengeksploitasi celah keamanan baru yang belum terdeteksi, atau yang dikenal sebagai zero-day.
Ketimbang menemukan cara peretasan baru, AI ini memanfaatkan celah keamanan dasar seperti akses terbuka, sandi lemah, dan otentikasi yang buruk.
Dugaan China terlibat dalam serangan
Meski Dream belum mengaitkan serangan ini dengan kelompok peretas tertentu atau pemerintah negara mana pun, beberapa bukti mengarah pada pelaku asal China daratan, dilansir dari Media Indonesia, Sabtu (22/8/2026).
Indikasi ini diperkuat oleh temuan catatan beraksara Mandarin Sederhana (Simplified Chinese) di dalam arsip serangan.
Berbeda dengan arsip pelaku, data tercuri menggunakan Mandarin Tradisional khas Taiwan.
Dugaan keterlibatan China diperkuat oleh klaim National Security Bureau Taiwan soal 2,5 juta serangan harian dari China sepanjang 2025, meski kedua pemerintah belum memberikan tanggapan resmi.
Ancaman siber makin sulit diatasi
Menurut Collin Hogue-Spears dari Black Duck, insiden peretasan AI otonom yang menimpa Taiwan memperlihatkan ancaman keamanan siber yang kian mengkhawatirkan.
Kekhawatiran utama sebenarnya bukan pada kecepatan AI dalam mencoba berbagai cara, melainkan kemampuannya menghubungkan tiap tahapan peretasan dan beradaptasi saat menemui kegagalan.
“Perbedaannya bukan pada cakupan serangan, karena pemindai otomatis sudah mampu menguji ribuan endpoint selama bertahun-tahun. Yang berubah adalah kemampuannya dalam menghubungkan berbagai tahapan serangan,” kata Hogue-Spears.
Baca Juga: Unik: Kucing Hitam Jadi Petugas Keamanan di Museum Jepang
Menurutnya, kemampuan AI untuk berpindah sistem dan jalur akses saat terhalang membuat pola peretasan ini sangat senyap.
Tanpa adanya lonjakan lalu lintas data yang mencolok dari satu sumber, baik sistem pertahanan otomatis maupun analis manusia akan kesulitan mendeteksi pergerakannya.
“Jika sistem keamanan Anda mengasumsikan satu penyerang bekerja dari satu alamat dan melalui satu jalur pada satu waktu, berarti Anda keliru. Ini adalah serangan AI yang dilakukan secara paralel di delapan jalur yang berbeda,” imbuh Hogue-Spears.
Kasus Taiwan ini menjadi bukti bahwasanya AI telah bertransformasi dari sekadar alat bantu menjadi eksekutor peretasan otonom.
Ancaman ini kian mengkhawatirkan lantaran memanfaatkan model AI open-source yang kode sumbernya bisa diakses serta dikembangkan secara bebas oleh siapa saja.(C)
Penulis: Merdiyanto
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS