Di Usia Senja Pemulung Ini Tetap Banting Tulang Demi Sekolahkan Anak

Rasmin Jaya

Reporter

Rabu, 11 Januari 2023  /  9:26 pm

Dua orang tua di usia senja beristirahat usai memulung plastik dan barang rongsokan. Foto: Rasmin Jaya/Telisik

KENDARI, TELISIK.ID - Kehidupan kota memang selalu menyajikan berbagai peluang dan tantangan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apapun rela dilakukan asalkan itu didapatkan dengan cara halal.

Seperti halnya dengan lelaki bernama Efendi (67) yang bekerja sebagai pemulung. Setiap harinya ia harus berjalan kaki dari pasar panjang sampai di Jalan Sao-Sao untuk mencari sampah plastik. Saat sore ia baru kembali ke rumah.

Efendi bercerita, harus berkerja banting tulang tak kenal lelah hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, apa lagi menanggung dua orang anak yang masih sekolah. Sedangkan sang istri sudah tidak ada lagi.

Baca Juga: Anak Kecil Ini lebih Pilih Bekerja Ketimbang Bermain

"Sebagai anak muda dari sekarang harus berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang mapan, sukses dan bisa menghidupi keluarga. jangan seperti kami setiap hari harus mencari sampah plastik," ujarnya menasehati saat ditemui, Rabu (11/1/2023).

Sementara itu Sugimen (60) yang juga seorang pemulung, bercerita ia berasal dari Pulau Jawa dan datang ke Kota Kendari untuk merantau.

“Setiap hari saya harus berjalan kaki mencari barang rongsokan dan memulung sampah plastik untuk ditimbang demi pemasukan ekonomi,” katanya.

Ia memulung setiap hari untuk membiayai dua orang anaknya yang sedang kuliah. Sugimen sendiri adalah seorang janda yang sudah lama berpisah dengan sang suami.

Baca Juga: Pemulung Kecil Ini Pilih Bekerja Ketimbang Bermain

“Jadi apapun harus mencari nafkah sendiri untuk mencukupi kebutuhan dan keperluan kuliah anak," ucapnya.

Sementara itu, Fatma yang bekerja di toko Asia Baru memgaku, hampir setiap hari laki-laki dan perempuan paruh bayah itu duduk dan beristirahat di depan toko tempat kerjanya usai mengumpulkan sampah plastik di sekitaran Jalan Sao-Sao.

"Dengan muka cape dan lesuh tetapi mereka tidak mudah menyerah. Seharusnya di usai senja sudah harus menikmati masa tua, hanya mungkin karena tuntutan ekonomi dan kebutuhan pendidikan anak, harus rela menjadi pemulung," ujar Fatma. (A)

Penulis: Rasmin Jaya

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS