Ilmuwan Berhasil Ciptakan Virus Buatan AI

Merdiyanto

Content Creator

Minggu, 09 Agustus 2026  /  8:57 am

Ilmuwan berhasil menciptakan virus bakteriofag pertama menggunakan AI yang efektif melawan E. coli kebal. Foto: Repro iStockphoto

JAKARTA, TELISIK.ID - Baru-baru ini, ilmuwan menciptakan virus pertama di dunia berbasis AI. Penemuan ini pun menuai kontroversi di bidang kesehatan.

Tergolong jenis bakteriofag, virus ini hanya menyerang bakteri. Di berbagai negara, bakteriofag sudah umum dipakai untuk mengatasi infeksi bakteri yang sulit disembuhkan.

Lewat uji laboratorium, racikan virus AI ini sukses membasmi E. coli yang sebelumnya kebal dari bakteriofag alami.

Insinyur kimia Stanford University, Brien Hie, memakai AI pemroses kode genetik (genomic language model) untuk merancang genom bakteriofag. Virus hasil rancangan ini lantas dibuat di lab dan diujikan ke bakteri E. coli.

Dipublikasikan di jurnal Science, penelitian berjudul 'Generative design of bacteriophages with genome language models' menyoroti bagaimana perancangan genom secara cepat bisa mengubah peta terapi bakteriofag dan memperluas pemanfaatan bioteknologi, dilansir dari The Guardian, Sabtu (8/8/2026).

Hie dan tim merancang genom virus baru ini memakai model AI Evo1 dan Evo2. Kedua model tersebut dilatih dengan data genetik dua juta bakteriofag.

Baca Juga: Pertama di Dunia Kecerdasan Buatan Rancang Vaksin, Berhasil Diuji pada Manusia

Agar tak memicu ancaman virus berbahaya, peneliti sengaja membuang kode genetik virus penginfeksi manusia, hewan, dan tumbuhan dari data pelatihan AI.

AI sempat merancang ribuan calon genom, namun hanya 300 yang dipilih peneliti untuk dibuat di lab. Setelah kode genetiknya dimasukkan ke dalam bakteri, bakteriofag baru pun berhasil diproduksi.

Kendati hanya 16 dari ratusan eksperimen bakteriofag yang berhasil hidup, kombinasi virus AI ini sukses menundukkan resistensi dua strain bakteri E. coli.

Biarpun ukuran genom bakteriofag sangat mungil, penelitian ini jadi bukti AI generatif sanggup merancang virus yang hidup, dilansir dari CNN Indonesia, Sabtu (8/8/2026).

Penerapan metode ini ke virus lain masih belum pasti. Kendati demikian, peneliti melarang riset pada patogen manusia, hewan, dan tumbuhan karena berisiko memicu lahirnya virus baru yang tak bisa ditangani medis.

Selain manfaatnya, riset ini dinilai memuat risiko biosafety dan biosekuritas yang tinggi. Perancang genom utuh pun diminta selalu didampingi ahli keselamatan.

Profesor Tom Inglesby dan Moritz Hanke dari Johns Hopkins University turut menyoroti hal ini. Menurut mereka, meski sangat menjanjikan, terobosan ini melahirkan isu keamanan yang mendesak: teknologi AI pembuat virus sudah ada, namun regulasi pengawasannya belum siap.

Menurut Tom Ellis, pakar rekayasa genom sintetis dari Imperial College London, capaian ini memang luar biasa, tetapi justru membuktikan betapa sulitnya merancang genom yang lebih rumit. Sebab, jenis yang dibuat ini terbilang paling kecil dan paling mudah.

Baca Juga: Keunikan Reproduksi Ikan Anglerfish: Saat Jantan Menjadi 'Parasit Seksual' Selamanya

Ellis memperingatkan bahwa AI berbasis kode genetik berbahaya bisa saja dimanfaatkan untuk membuat virus yang lebih mematikan. Namun, ancaman itu dapat dicegah melalui pembatasan akses data dan aturan ketat pembuatannya.

"Ancaman dari AI yang merancang dan menulis utuh genom virus atau bakteri sebenarnya masih terlalu dibesar-besarkan, terutama jika dibandingkan dengan fakta bahwa memodifikasi patogen yang sudah ada secara langsung jauh lebih mudah dilakukan dan menjadi ancaman penyakit yang jauh lebih nyata," kata Ellis.

Menurut Filippa Lentzos, pakar keamanan internasional King's College London, kuncinya ada pada pengawasan proses pembuatan atau sintesis DNA.

Menurutnya, cakupan regulasi harus diperluas dan tak boleh cuma menyasar model AI.

"Pendekatan berlapislah yang paling masuk akal, yaitu mencakup perlindungan pada pengembangan dan akses model AI, peninjauan riset yang bertanggung jawab, penyaringan proses sintesis DNA, serta penerapan standar keselamatan dan keamanan laboratorium yang ketat," ujar Lentzos. (C)

Penulis: Merdiyanto

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS