Kawasan Perahu Boti, Spot Foto Ikonik di Buton Selatan Kini Terbengkalai

Sofi Insan Wardani

Reporter

Senin, 31 Juli 2023  /  7:28 pm

Perahu boti yang menjadi Ikon Kabupaten Buton Selatan yang terbengkalai, kini mulai ditumbuhi rumput liar. Foto: Sofi Insan Wardani/Telisik

BUTON SELATAN, TELISIK.ID - Perahu boti  merupakan kapal legendaris yang dikenal sebagai bukti kehebatan masyarakat Buton pada saat mengarungi ganasnya samudera, konon katanya berkat perahu tersebut pelaut Buton mampu menjelajah hingga ke Madagaskar, wilayah Afrika.

Pada tahun 2014, boti menjadi logo Kabupaten Buton Selatan. Kapal itu dianggap sebagai kapal ikonik dan memiliki nilai sejarah terhadap daerah.

Namun sangat disayangkan, kawasan perahu boti kini menghadapi tantangan serius akibat kerap dihantam gelombang tinggi saat musim barat. Keindahan alam yang sempat menjadi daya tarik utama bagi masyarakat dan pengunjung, kini terbengkalai karena bencana alam yang mengancam eksistensinya.

Baca Juga: Mainawa Kreativa, Sekolah yang Terapkan Multiple Intelligences Pertama di Kota Baubau

Rita Salmianti (23), seorang warga setempat membeberkan, ketika musim barat, gelombang tinggi kerap merusak beberapa fasilitas yang ada disekitar kawasan Perahu Boti tersebut.

“Kursi, lampu taman, kemudian tulisan South Buton Regency yang bahkan terbuat dari beton juga ikut hancur karena ombak. Makanya sekarang modelnya sudah tidak sebagus dulu,” jelas Rita, Senin (31/7/2023).

Jembatan kecil yang juga berada di sekitar kawasan perahu boti sudah mulai ambruk, pun pinggiran kursi yang terbuat dari beton telah ditumbuhi alang-alang dan rumput liar. Terdapat pula beberapa sampah yang berserakan di sekitar kawasan tersebut.

La Anto, salah seorang pemilik warung di sekitar perahu boti juga turut memberikan tanggapannya terkait eksistensi perahu boti yang kini terbengkalai.

Baca Juga: Harga Ikan Belum Stabil, Emak-Emak di Baubau Stok Tahu dan Tempe

“Kalau musim barat, itu gelombang tinggi sekali kadang sampai 7 meter itu tingginya, bahakan bisa lewati jalan raya itu air laut. Dan tiap tahun pasti begitu, mungkin itu juga alasannya pemerintah belum mau perbaiki lagi, takutnya sudah diperbaiki ambruk lagi karena ombak,” ucap La Anto.

Para nelayan lokal juga merasakan dampak buruk dari gelombang tinggi ini, karena kesulitan melaut dan mendapatkan hasil tangkapan yang cukup. Selain itu, hal tersebut membuat industri pariwisata setempat juga terdampak.

Diharapkan, dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pihak terkait lainnya, kawasan perahu boti dapat pulih dari dampak gelombang tinggi dan kembali menjadi spot foto favorit serta destinasi wisata yang menarik bagi para pengunjung. (B)

Penulis: Sofi Insan Wardani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS