Masyarakat Kecil Mulai Panik tak Bisa Bayar Kontrakan

Fitrah Nugraha

Reporter

Senin, 13 April 2020  /  10:27 am

Orang yang tinggal di kontrakan saat ini sangat merasakan beratnya beban kontrakan tiap bulan. Karena wabah COVID-19, penghasilan berkurang drastis, bahkan ada orang yang kehilangan penghasilan karena PHK. Foto: Repro Google.com

KENDARI, TELISIK.ID - Wabah COVID-19 berdampak sangat luas. Terutama dari segi ekonomi. PHK terjadi dimana-mana. Pekerja harian kehilangan penghasilan. Hidup bagaikan di ujung tanduk.

Mereka yang memiliki penghasilan pas-pasan atau bahkan tak lagi punya penghasilan, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja menjadi sangat sulit.

Setelah pemerintah mengeluarkan imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, baik dalam bekerja, belajar dan beribadah, alhasil, sejumlah masyarakat yang bekerja sebagai pedagang kaki lima dan sejenisnya, mulai kehilangan pembeli.

Beberapa warga Kota Kendari yang ditemui Telisik.id menceritakan betapa beratnya hidup mereka selama wabah ini berlangsung. Mereka mulai panik karena tidak bisa lagi membayar kontrakan.

Baca juga: Seorang Wanita di Kolaka Dibiarkan Terkapar di Pinggir Jalan

Ibu Yuli misalnya, dia adalah salah satu pedagang kaki lima yang menjajakan kue buatannya setiap pagi. Dia mangkal di pangkalan ojek yang ada di daerah Kemaraya.

Baginya, sejak COVID-19 mewabah, penjualan kuenya menurun drastis. Kebanyakan pelanggannya adalah pegawai dan anak sekolah. Mengingat sudah tiga pekan anak sekolah diliburkan dan sejumlah pegawai juga memilih bekerja dari rumah.

"Memang penjualan menurun, tidak seperti sebelum mewabahnya virus corona ini. Tapi kita harus tetap menjual, karena mau cari uang dimana lagi untuk membayar kontrakan dan kebutuhan hari-hari," curhatnya.

Senada dengan itu, salah seorang pelaku usaha jahit rumahan, Ummu Fatih, juga mengalami hal yang sama.

Baca juga: Warga Resah Banyak Maling di Tengah Corona

Kalau biasanya ia menerima jahitan hampir setiap hari, namun sejak wabah COVID-19, ia harus menutup sementara usahanya untuk mencegah virus tersebut tersebar.

Bahkan, beberapa pesanan baju yang masuk harus tertunda dikerjakan, karena tadinya baju itu dibuat untuk menghadiri sebuah acara, dan acaranya kini harus tercancel karena pemerintah tidak membolehkan warga membuat sebuah acara yang mengumpulkan orang banyak.

"Ya mau bagaimana lagi, mau tidak mau beberapa pesanan jahit ditunda pengambilannya. Jadinya pendapatan juga ikut berkurang. Alhamdulillah kami tak terbebani membayar kontrakan, karena kami tinggal di rumah keluarga," katanya kepada Telisik.id, Minggu (12/4/2020).

Baca juga: Layaknya Kota Mati, Beginilah Kondisi Kota Kendari Saat ini

Meski Ummu Fatih berbeda dengan Ibu Yuli yang setiap bulannya harus membayar rumah kontrakan, tetapi ia cukup merasakan berkurangnya penghasilan yang ia dapatkan dari usahanya, sehingga itu juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan pokok dalam menunjang kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, penghasilan dari usaha ini, ia juga harus menyisihkan untuk persiapan ketika suatu saat nanti harus pindah dan mengontrak rumah.

"Ya, kalau pendapatan berkurang maka tidak ada uang yang bisa disisipkan untuk persiapan ke depan, karena siapa tau nanti kita juga harus mengontrak," tutupnya.

 

Reporter: Fitrah Nugraha

Editor: Rani