Siap Pindah ke Gedung Baru 31 Juli, SRMP 25 Kendari Terima 206 Siswa Hasil Penjangkauan
Reporter
Rabu, 29 Juli 2026 / 5:02 pm
Kepala SRMP 25 Kendari, Ferdinan Nicholas Boonde, menjelaskan MPLS 206 siswa baru akan dilaksanakan di gedung permanen pada 31 Juli mendatang. Foto: Ana Pratiwi/Telisik
KENDARI, TELISIK.ID - Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 25 Kendari menerima 206 siswa baru untuk tahun ajaran ini melalui hasil penjangkauan yang dilakukan oleh Dinas Sosial, pendamping PKH, dan Sentra Meohai Kendari. Pihak sekolah saat ini bersiap melakukan perpindahan ke gedung permanen baru.
Kepala SRMP 25 Kendari, Ferdinan Nicholas Boonde, menyampaikan bahwa dari total siswa baru tersebut, sebanyak 26 orang merupakan siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli 2026 di gedung baru yang dikerjakan oleh Dinas PU, dan kemungkinan bakal dihadiri oleh Menteri Sosial.
"Kami sekarang sementara mengecek terus progres terkait kesiapan gedung permanen yang sementara dikerjakan oleh PU, kami sementara loading barang untuk perpindahan dari tempat ini ke gedung permanen," kata Ferdinan pada telisik.id, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Kepala Dishub Kendari: Penerapan Tarif Parkir di Depan SPBU Teratai Sesuai Arahan Perda
Selain persiapan fisik gedung, kementerian saat ini juga sedang merekrut Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Guru dan Wali Asuh Asrama.
Penambahan tenaga pendidik dan pembina ini ditargetkan masuk pada Oktober mendatang guna menyambut rencana penambahan sekitar 270 siswa pada tahun pelajaran 2026-2027.
Peralihan tugas dari SMA Negeri 4 Kendari ke SRMP 25 Kendari diakui Ferdinan membawa tantangan tersendiri. Sebab, sekolah ini berhadapan langsung dengan siswa dari latar belakang ekonomi miskin dan miskin ekstrem yang sebagian besar sempat putus sekolah atau bahkan belum pernah sekolah.
"Tantangannya adalah bagaimana pertama kita menumbuhkan motivasi dulu kepada anak-anak itu belajar. Lalu kemudian bagaimana kita melakukan pendampingan sehingga kompetensi-kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi itu bisa dipenuhi oleh siswa," terangnya.
Ferdinan menambahkan, rata-rata siswa yang masuk memiliki keterlambatan dalam pembelajaran, sehingga guru membutuhkan metode yang lebih spesifik dan waktu yang lebih banyak. Selain itu, status sekolah yang berasrama menuntut proses penyesuaian aturan agar siswa merasa aman dan nyaman.
Aktivitas pembelajaran akademik di dalam ruangan berlangsung dari pukul 07.30 hingga 15.30 atau 16.00 Wita pada hari Senin sampai Jumat.
Setelah jam empat sore, kegiatan dilanjutkan dengan ekstrakurikuler dan kegiatan keasramaan. Sementara pada hari Sabtu dan Minggu, agenda diisi dengan kegiatan keasramaan sekaligus jadwal kunjungan orang tua.
Baca Juga: UHO Kukuhkan 8 Guru Besar Baru, Kini Capai 170 Orang
Sistem sekolah berasrama gratis ini mendapat respons yang sangat positif dari para orang tua murid.
"Orang tua sangat senang dan responsnya sangat positif. Karena kan beberapa dari mereka itu memang secara ekonomi tidak mampu untuk membiayai anak-anaknya dan ketika anaknya berada di sini otomatis mereka sangat terbantukan karena mereka tidak perlu lagi memikirkan biaya yang diperlukan dalam pendidikan karena semua kan ditanggung oleh negara," jelas Ferdinan.
Ferdinan menegaskan dirinya harus siap siaga on call 24 jam untuk mengontrol kondisi siswa di asrama, termasuk mengantisipasi jika ada siswa yang sakit.
"Ini kan menjadi bagian dari tanggung jawab dan juga kepercayaan dari pemerintah dan juga dari Tuhan," pungkasnya. (C)
Penulis: Ana Pratiwi
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS