Angka Kematian 17 Orang per Jam, Pemkot Baubau Ajak Perangi TBC Anak

Elfinasari, telisik indonesia
Rabu, 01 April 2026
0 dilihat
Angka Kematian 17 Orang per Jam, Pemkot Baubau Ajak Perangi TBC Anak
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr. Frederik Tangke Allo (kanan), saat menghadiri sosialisasi tuberkulosis anak di Baubau, Rabu (1/4/2026). Foto: Ist.

" Setiap jam 17 orang di Indonesia meninggal akibat tuberkulosis (TBC). Tingginya angka kematian ini mendorong Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk gencar memerangi TBC, khususnya pada anak-anak, melalui sosialisasi dan program deteksi dini "

BAUBAU, TELISIK.ID – Setiap jam 17 orang di Indonesia meninggal akibat tuberkulosis (TBC). Tingginya angka kematian ini mendorong Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk gencar memerangi TBC, khususnya pada anak-anak, melalui sosialisasi dan program deteksi dini.

Upaya memerangi TBC ini digaungkan di Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau pada Rabu (1/4/2026), untuk memperingati hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2026 dengan semangat kolaborasi lintas sektor dalam memutus rantai penularan TBC di Kota Baubau.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr Frederik Tangke Allo, menyatakan bahwa TBC bukan penyakit masa lalu, melainkan ancaman nyata yang masih hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga: Calon Paskibraka Muna Mulai Diseleksi, Tinggi Badan Dapat Perhatian Khusus

Mengacu pada tema global Yes! We Can End TB dan tema nasional SATU TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB, pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengadopsi semangat Kerja Bersama.

“Data Global Tuberculosis Report menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia. Dengan 17 orang meninggal setiap jam, kita tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri. Sinergi adalah kunci,” ujar dr Frederik.

Salah satu fokus sosialisasi adalah perlindungan anak-anak dari paparan TBC. Pemkot Baubau bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK dan berbagai organisasi profesi kesehatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gratis, penelusuran kontak, serta edukasi masyarakat.

Selain itu, langkah jemput bola diterapkan dengan mengintegrasikan skrining TBC ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah, pesantren, tempat kerja, hingga lembaga pemasyarakatan.

Baca Juga: Masyarakat Kulati Wakatobi Demo Tolak Proyek Jalan Tanpa Sosialisasi

Langkah ini juga termasuk menghapus stigma TBC melalui peran aktif tokoh masyarakat, agama, dan pemuda.

Langkah proaktif ini mendukung misi Asta Cita kepemimpinan nasional 2024-2029, dengan target menurunkan kasus TBC hingga 50 persen dalam lima tahun.

Setiap kontak serumah pasien TBC diwajibkan menjalani pemeriksaan rontgen dan menerima terapi pencegahan TB (TPT), yang dipantau secara real time melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). (C)

Penulis: Elfinasari

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga